Siswa SMAN 1 Singaraja Kunjungi Masjid Agung Jami Singaraja

BULELENG – Siswa SMAN 1 Singaraja dari Kelas 10 J mengunjungi Masjid Agung Jami Singaraja, Jumat (23/9/2022). Mereka menggali informasi tentang masjid yang masuk cagar budaya tersebut, termasuk mempelajari jejak-jejak toleransi yang ada di dalamnya.

Kedatangan siswa SMAN 1 Singaraja tersebut diterima Ketua Bidang Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Agung Jami Singaraja, H. Hidayat Achdar, Sekretaris BKM, M. Reza Yunus, Ketua Seksi Budaya dan Sejarah Lalu Ibrahim, Seksi Bidang Dakwah Althaf, serta pengurus lainnya.

Kedatangan siswa SMAN 1 Singaraja ke Masjid Agung Jami Singaraja dalam rangka persiapan implementasi Kurikulum Merdeka. Menurut Moh. Hanan, guru Bahasa Indonesia yang mengantar para siswa tersebut, kedatangan siswa ke Masjid Agung Jami Singaraja untuk penugasan penulisan proyek, dengan tema Bhinneka Tunggal Ika.

“Kami berbagi kelompok atau berbagi kelas, ada yang ke gereja, pura, masjid, kelenteng. Nanti proyek yang kami buat dalam bentuk film dokumenter, komik, dan dalam bentuk esai,” jelasnya.

Karena itu, kata Moh. Hanan, kedatangan siswa SMAN 1 Singaraja ke Masjid Agung Jami Singaraja untuk mencari data. “Mencari data untuk penyusunan proyek P5, yakni Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua BKM Masjid Agung Jami Singaraja, H. Hidayat Achdar, menjelaskan, bahwa Masjid Agung Jami Singaraja merupakan masjid bersejarah. “Masjid ini merupakan satu-satunya masjid di Bali yang ditetapkan sebagai cagar budaya,” katanya.

Ketua Seksi Budaya dan Sejarah, Lalu Ibrahim, menambahkan, Masjid Agung Jami Singaraja dibangun pada 1830. Masjid ini dibangun karena masjid yang sudah ada saat itu, yakni Masjid Kuna Keramat di Jl. Hasanudin sudah tidak mampu menampung jamaah untuk sholat Jumat.

Atas kesepakatan tokoh-tokoh saat itu, maka memohon kepada Raja Buleleng saat itu, I Gusti Ngurah Jelantik Polong (generasi ke-6 I Gusti Ngurah Panji Sakti) untuk diberikan lahan membangun masjid. Dan Raja mengabulkan permohonan tersebut, dengan memberikan lahan di Jl. Imam Bonjol sekarang.

Karena Raja I Gusti Ngurah Jelantik Polong beragama Hindu, maka pembangunan Masjid Agung Jami Singaraja dipercayakan kepada kerabat Raja yakni I Gusti Ngurah Jelentik Celagi, yang masuk Islam. Menurut Lalu Ibrahim, pembangunan masjid ini butuh waktu 50 tahun. Sebab, Raja I Gusti Ngurah Jelantik Polong sempat ditangkap Belanda dan dibuang ke daerah Sumatera Barat (Minangkabau).

Dalam dialog dengan pengurus BKM Masjid Agung Jami Singaraja, siswa SMAN 1 Singaraja yang diwakili I Gusti Ayu Putu Asti mengajukan sejumlah pertanyaan. Termasuk di antaranya masalah toleransi.

Di Masjid Agung Jami Singaraja terdapat beberapa jejak toleransi. Seperti lahan yang merupakan pemberian Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Jelantik Polong, yang beragama Hindu. Juga pintu gerbang (kori) masjid, pintu utama masjid, dan mimbar masjid juga merupakan hadiah dari Raja Buleleng.

Menurut Bang Dayat, sapaan akrab Hidayat Achdar, Masjid Agung Jami Singaraja tetap dan terus menjalin hubungan dengan Puri Buleleng. Bahkan saat baru dipercaya menjadi pengurus BKM Masjid Agung Jami Singaraja, kata dia, pihaknya menyerahkan hadiah pedang kepada Puri Buleleng.

“Itu simbol bahwa kami, umat Muslim di Buleleng, siap menjaga NKRI, siap menjaga tanah Buleleng habis-habisan,” ujar Bang Dayat.

Ia juga menjelaskan, Masjid Agung Jami Singaraja selalu meng-koneksi antara umat Islam dan umat Hindu di Buleleng. “Masjid ini menjadi saksi bisu soal keberagaman. Sebetulnya keberagaman itu bukan hal baru di Bali utara, khususnya di Buleleng. Keberagaman atau Bhinneka Tunggal Ika itu merupakan warisan budaya orang-orang terdahulu yang mestinya kita sungguh-sungguh menjaganya. Kami menjadi contoh bagaimana toleransi beragama. Bagaimana harmoni bisa terjalin,” tandas Bang Dayat.

Sementara siswa SMAN 1 Singaraja, I Gusti Ayu Putu Asti, mengaku senang bisa berkunjung ke Masjid Agung Jami Singaraja. “Kami mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru di masjid ini,” ujarnya.

Menurut siswa kelas X SMAN 1 Singaraja ini, ternyata Masjid Agung Jami Singaraja memiliki jejak toleransi yang sangat indah. Beberapa corak ornamen di masjid ini merupakan perpaduan Islam dan Bali. “Ini bukti adanya toleransi,” jelasnya. (bs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *