Masjid Agung Jami’ Singaraja Kembali Gelar Diskusi “Jejak Peradaban Islam di Buleleng”

  • Kali Ini Angkat Peran Penting Orang Bugis di Bali Utara

BULELENG – Sekbid Budaya dan Sejarah Masjid Agung Jami’ Singaraja kembali menggelar diskusi sejarah ringan “Jejak Peradaban Islam di Buleleng”, Rabu (1/6/2022) malam. Pada diskusi sesi II kali ini mengangkat tema “Peran Bugis di Buleleng”.

Tampil sebagai narasumber Koordinator Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Bali untuk wilayah Buleleng, Drs. Amoeng Abdurrahman. Juga hadir pada kesempatan itu, putri Pahlawan Kemerdekaan dari Buleleng Kapten Anang Ramli, Dr. Hj. Tuti Mariani, tokoh dari FPSI Bali lainnya, Ketut Muhamad Suharto, Dodi Irianto, Sekretaris PCNU Buleleng, Nengah Ihwanul Azmi, Sekretaris PD Muhammadiyah Buleleng, Sudarmo, Ketua MWC NU Kecamatan Buleleng, Ustadz Abdul Muis, dan Lurah Kampung Bugis, I Gede Bagiarsa.

Dalam paparannya, Amoeng Abdurrahman mengungkap sejumlah peran penting orang-orang Bugis di Bali Utara. Khususnya di kota Singaraja. Mulai sejak zaman Kerajaan Buleleng hingga perang Kemerdekaan Indonesia.

Menurut Amoeng, masuknya orang-orang Bugis di Bali, termasuk di Buleleng, belum diketahui secara pasti kapan tahunnya. Tapi diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17 Masehi. (1600-1669-an).

Dikatakan, di Buleleng, komunitas Bugis ada di dua kecamatan, yakni di Kecamatan Gerokgak dan Kecamatan Buleleng. Di Kecamatan Gerokgak ada di Desa Sumberkima, Penyabangan, dan Pelabuhan Celukan Bawang. Di Kecamatan Buleleng ada di Kampung Bugis.

Dijelaskan, kedatangan orang-orang Bugis di Buleleng melalui jalur dagang dan politik. “Orang Bugis itu kuat di perdagangan, itu yang dikuasai. Itu yang mendorong mereka ke mana-mana termasuk ke Buleleng,” jelasnya.

Kedua karena politik. Menurut Amoeng, orang Bugis yang datang ke Buleleng itu diduga karena ada pengaruh perkembangan politik yang ada di Sulawesi Selatan. Di mana pada tahun 1666, Kerajaan Hasanuddin kalah dari Belanda. Karena itu, banyak pasukan Sultan Hasanuddin yang melarikan diri ke beberapa daerah karena dikejar oleh Belanda. “Mereka menyebar ke mana-mana, diantaranya ke Buleleng,” papar Amoeng.

Untuk di Singaraja, kata dia, komunitas Bugis awalnya bermukim di Lingga (Jalan Lingga, Banyuasri sekarang). Komunitas tersebut dipimpin oleh seorang tokoh yang namanya Aji Mampa. Itu menurut catatan seorang penulis Belanda van der Tuuk, yang merupakan pendiri Gedung Kertya.

Dalam Geguritan Jayaprana-Layonsari juga menyebut orang Bajo (sebutan untuk orang Bugis). Geguritan itu ditulis pada 1642 di era Raja Panji Sakti. “Jadi zaman itu sudah ada orang Bajo. Orang Bajo itu pasti orang Bugis,” katanya.

Setelah di Lingga, komunitas Bugis kemudian pindah ke Kampung Bugis seperti sekarang. Sementara dilihat dari sumber arkeologis, menurut Amoeng, dulu di Kampung Bugis banyak kuburan orang-orang Bugis di pinggir pantai. Juga rumah-rumah panggung khas Bugis.

“Namun Kampung Bugis di Singaraja sangat terbuka. Masyarakatnya bercampur dengan etnis lainnya. Sehingga tidak kelihatan lagi budaya atau seni Bugis-nya. Sudah pudar. Beda dengan di Pulau Serangan Denpasar,” ungkapnya.

Amoeng juga memaparkan bagaimana peran orang-orang Bugis bagi perekonomian Kerajaan Buleleng. Menurutnya, di era Raja Panji Sakti dan raja-raja penerusnya, komoditas utama dalam perekonimian adalah perdagangan budak dan opium (candu). “Yang menangani perdagangan itu di lapangan adalah orang-orang Bugis,” ujar Amoeng.

Di era itu, orang-orang Bugis dekat raja. Karena itu, ketika kepala Pabean (Bandar Laut) melaporkan ke raja bahwa orang-orang Bugis sulit dikendalikan untuk mengatur perdagangan, raja tidak menindak orang-orang Bugis. “Konon orang-orang Bugis itu sangat pandai mendekati raja-raja, sehingga mereka selalu aman,” katanya.

Di bidang militer, orang-orang Bugis di Buleleng juga memegang peran penting. Menurut Amoeng, pada abad ke-17, saat Raja Panji Sakti menyerang Kerajaan Blambangan, Banyuwangi, ada 100 orang Bugis terlibat dalam pasukan Taruna Goak, pasukan Raja Panji Sakti. “Jadi di bidang militer, orang-orang Bugis juga menonjol di era itu,” jelasnya.

Lantas di Perang Jagaraja pada 1859, saat terjadi pertempuran melawan Belanda, ada 40 orang Bugis yang ikut gugur dari 1.000-an yang gugur. Kata Amoeng, kalau yang gugur saja ada 40 orang, berarti orang Bugis yang ikut dalam perang tersebut lebih banyak.

Selain itu, ketika Belanda menyerang dari laut, orang-orang Kampung Bugis memasang pancang dari kelapa di sepanjang pantai. Tujuannya untuk pertahanan dari serangan Belanda. Namun, kemudian Belanda membombardir Kampung Bugis. Kampung Bugis dibumihanguskan. Itu terjadi pada 1859.

Sementara pada abad 20-an, tahun 1945, ada seorang pejuang Kemerdekaan dari Kampung Bugis yang merupakan keturunan Bugis. Namanya Analis. Putri dari Daeng Muhamad Amin. Analis ini teman seperjuangan Kapten Anang Ramli (sosok yang menurunkan bendera Belanda di Pelabuhan Buleleng).

Analis pernah menjadi kepala sekolah TK Aisyiyah Singaraja. Lantas kerja di kantor Pos. Di masa Revolusi Fisik, Analis ditunjuk sebagai Ketua Pemudi Pejuang Indonesia untuk wilayah Buleleng. Ia ikut bergerilya dan mengangkat senjata melawan pasukan Belanda. Namun, Analis akhirnya meninggal karena sakit usus buntu.

“Itulah peran-peran penting orang-orang Bugis di Buleleng, mulai zaman Kerajaan hingga perang Kemerdekaan,” tandas Amoeng.

Sementara Sekjen DKM Masjid Agung Jami’ Singaraja, M. Rezza Yunus, mengatakan, diskusi tersebut merupakan sesi kedua, setelah sebelumnya (sesi pertama) yang membahas sejarah Desa Pegayaman.

“Mudah-mudahan diskusi semacam ini dapat memberi spirit atau semangat kepada kita untuk mengikuti jejak-jejak ulama dan tokoh-tokoh Muslim terdahulu. Saya merasa bangga karena masjid ini menjadi diskusi sejarah yang sudah kedua kalinya. Ini penting bagi kita karena banyak para mujahid yang telah berjuang dari zaman kerajaan sampai kemerdekaan,” ujarnya. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *