Ketua MPR RI : Selamat Jalan Buya Syafii Maarif, Sang Guru Bangsa!

BALI – Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, turut berduka cita atas wafatnya guru bangsa, Buya Syafii Maarif, pada Jumat (27/5/22) sekitar pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Buya Syafii Maarif wafat di usia 87 tahun. Bangsa Indonesia sangat kehilangan sosok seperti Buya Syafii Maarif yang senantiasa mengajarkan untuk Bersaudara dalam Perbedaan, dan Berbeda dalam Persaudaraan.

“Ajaran tersebut menjadi pedoman yang menguatkan soliditas kebangsaan di tengah kemajemukan bangsa yang terdiri atas beranekaragam suku, agama, ras, dan antar golongan,” ujar Bamsoet, mengenang sosok Almarhum Buya Syafii Maarif, di Bali, Jumat (27/5/2022).

Ketua DPR RI ke-20 dan mantan Ketua Komisi III DPR RI bidang Hukum, HAM, dan Keamanan ini menjelaskan, sosok Buya Syafii Maarif yang pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah ini lebih dikenal masyarakat sebagai cendekiawan dan tokoh agama. Banyak yang tidak menyadari, bahwa sejak usia muda almarhum pernah menjadi seorang jurnalis, bahkan menjadi Pemimpin Redaksi di Majalah Sinar dan Redaktur di Suara Muhammadiyah. Almarhum juga anggota Persatuan Wartawan Indonesia.

“Sebagai orang yang pernah menggeluti dunia jurnalistik, saya punya kekaguman tersendiri terhadap Buya Syafii Maarif. Analisis dan tulisan Buya sangat tajam dan mendalam. Keberpihakannya kepada kebenaran dan keadilan jauh melampaui para jurnalis pada umumnya. Lebih dari itu, Buya adalah sosok negarawan yang istiqomah membela kebinekaan dan kemajemukan demi keutuhan NKRI,” jelas Bamsoet.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajay (PB KODRAT) ini menerangkan, ditengah politik identitas yang rentan dengan gesekan di masyarakat serta berkembangnya paham radikalisme, pandangan Buya Syafii, terutama tentang pluralisme dan toleransi, perlu ditularkan kepada segenap elemen bangsa. Sehingga mereka tidak galau menghadapi keterbukaan di era digital yang kadang memberi efek negatif terhadap adab dan akhlak mulia.

“Sosok Buya Syafii memang telah pergi mendahului kita. Namun ajaran dan pemikirannya akan senantiasa hidup menemani kita. Karenanya selain mendoakan beliau, kita juga patut meneladani berbagai sikap hidup beliau, terutama dalam mendahulukan kepentingan bangsa diatas kepentingan golongan. Selamat jalan, sang guru bangsa,” pungkas Bamsoet. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *