Workshop Moderasi Beragama untuk Guru-guru

Kerjasama Direktorat PAI Dirjen Pendis dan PP Pergunu


YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) bekerja sama dengan Direktorat PAI Dirjen Pendis Kemenag RI kembali menyelenggarakan kegiatan moderasi beragama. Kegiatan ini merupakan angkatan ke-2 yang dilaksanakan di Yogyakarta pada Senin-Rabu, 8-10 November 2021. Peserta yang hadir dalam acara tersebut adalah guru-guru PAI tingkat SMA dan SMK se-Kabupaten Kebumen dan Purworejo dengan jumlah peserta 40.


Ketua Panitia yang juga Sekretaris PP Pergunu, Achmad Zuhri, membuka acara tersebut. Ia menyampaikan bahwa semangat dalam menyuarakan moderasi beragama harus digencarkan. Kegiatan ini sangat penting karena target pemerintah, khususnya Kemenag RI pada tahun 2022 itu sebagai tahun moderasi beragama.


“Sesungguhnya jika berbicara khususnya guru-guru NU, apalagi Pergunu sebetulnya sudah selesai dengan moderasi beragama, karena jauh sebelum didengungkan moderasi beragama Pergunu sudah punya gerakan “Guru Mulia Pemersatu Bangsa. Sehingga kami berharap agar para guru-guru yang sudah terbiasa menangani hal tersebut menjadi guru pemersatu bangsa dan agen dalam menyuarakan moderasi beragama,” kata Zuhri.


Turut hadir dalam acara tersebut, Wakil Ketua Lakpesdam NU DIY, Ahmad Anfasul Maram. Ia menjelaskan bahwa di kalangan siswa dan mahasiswa PAI di Indonesia potensi adanya intoleransi dan radikalisme cukup tinggi.

Terkait intoleransi, 86,5% setuju pemerintah melarang keberadaan kelompok-kelompok yang dianggap sesat, 37,71% setuju bahwa jihad bermakna perang melawan non-muslim, dan 34,43% setuju bahwa orang murtad harus dibunuh.


“Generasi muda adalah kelompok yang paling rentan terhadap pengaruh radikalisme dan esktremisme. Riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat menunjukkan bahwa anak muda adalah sasaran utama penyebaran paham radikal melalui institusi pendidikan,” imbuh Anfasul.


Hal senada juga disampaikan Wayan Fajar Riyanto, Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga bahwa guru PAI mempunyai peran strategis. Ia berharap agar kedepannya perlu meningkatkan kapasitas moderasi beragama dengan melibatkan isu-isu seputar cyber legion moderasi beragama.

Oleh karenanya, guru tidak hanya menyampaikan secara manual, tetapi bisa menggunakan secara virtual. Semisal dengan pelatihan membuat akun-akun moderasi beragama yang dapat dijadikan sebagai konten-konten di dunia media sosial.


Menurut Samsul Ma’arif Mujiarto, selaku narasumber pakar sekaligus Dosen Fakultas Filsafat UGM, sangat perlu untuk menyiapkan dan membekali guru-guru terkait dengan penguatan moderasi beragama. Ia berharap agar kedepannya lebih siap dan responsif dalam menjawab tantangan zaman. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *