KISAH LAME TIBU KLENENG

Oleh Eka Sabara

SUATU sore di tahun 1985 selepas mulangken sampan, awak nemui Pak Mang pemilik sampan. Tahun 1985 saat kelas 6 SD, sudah menjadi kebiasaan setiap minggu saya bersama kawan-kawan meminjam sampan Pak Mang, untuk berlatih mendayung sampai ke muare.

Bermain sambil menyusuri sungai Ijogading yang berlika-liku merupakan kegembiraan bagi kami di masa anak-anak. Walau tanpa perhitungan hanya mengandalkan kemahiran berenang jika sampan terbalik itu saja.

Nah saat mengembalikan sampan dan mengucapkan terima kasih di suatu waktu kala itu Pak Mang tiba-tiba menuturkan sebuah cerita atau kisah lama saat beliau masih berusia 20 tahunan. Dengan asyik Pak Mang kemudian bercerita, kalau beliau nak (hendak) mesampanan mejalan malem hari nyale atau nebar jala di iliran sungai cabang tige berbekal lampu sentiran pas lewat deket Tibu Kleneng, terdengar suare kleneng (sejenis genta kecil yang bunyinya nyaring). Berbunyi sayup-sayup dan saat sampan mengarah mendekati suare tersebut tiba-tiba hilang.

Suare khas asal lewat di tempat pusaran mate air yang dinamakan Tibu Kleneng. Dan keesokan harinya terdengar kabar orang dimakan buaye di Tibu Kleneng tersebut. Pak Mang hapal betul kalao suare itu berbunyi maka suatu pertanda gaib bahwa buaya yang bersarang di sana akan memakan korban.

Ya itulah kisah lame di saat Pak Mang usia 25 tahunan di tahun 1950-an silam. Tibu Kleneng saat itu merupakan markas utama buaya Ijogading karena merupakan pusaran mata air yang cukup dalam, dan sangat jarang sampan yang selamat atau tidak tersedot ke dalam air jika sudah masuk ke tengah pusaran mata air Tibu Kleneng.

Pusaran mata air yang bernama Tibu kleneng terletak di pojok sebelah barat, di sungai bentang yang lebar merupakan tempat pertemuan dari 9 aliran sungai. Beruntung setiap awak mesampanan dengan alat sederhana dayung manual bersama kawan-kawan tetap mengambil posisi sebelah timur jika sudah mulai masuk kawasan Tibu Kleneng.

Saat menuju pulang di sungai cabang tige, seorang kawan yang bernama Ali Nasri atau lebih dikenal dengan name Atang mencoba mengetes berape dalem aliran sungai cabang tige. Ternyata Atang langsung loncat dari sampan, dan ceburkan ke dalam air.

Selang beberapa detik kembali ke permukaan, Ka dalem le coba lanan kau Ka. Oke dengan perlahan-lahan awak gaan cebur dan menyelam di pusat sungai cabang tige, karena belum mencapai dasar awak kembali ke permukaan. Lumayan Tang dalem gaan nih hehehe. Awak naik ke atas sampan, karena paling ngeri ajak uler sungai. (ms)

  • Penulis adalah budayawan Loloan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *