SEJARAH BERDIRINYA MASJID MUJAHIDIN LOLOAN BARAT, NEGARA (3)

Riwayat Penamaan Masjid Mujahidin

PADA tanggal 10 November 1960, semua kerangka para pejuang kemerdekaan yang telah gugur di tahun 1945 dikumpulkan dari berbagai desa yang ada di Negara. Sejumlah 22 kerangka syuhada (pahlawan) berhasil dikumpulkan berjajar di halaman Masjid Noor Loloan.

Saat pemindahan jenazah para syuhada/pahlawan tersebut bertindak selaku Ketua H.R. Suharyo didampingi oleh sekretarisnya I Nyoman Nirba. Pemakaman para pahlawan dipindahkan di Tamam Makam Pahlawan Negara, dimana sebelum pelaksanaannya, terlebih dahulu para pahlawan disemayamkan di Masjid Noor Loloan Barat, yang disaksikan oleh Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali, AA Gede Sutedja, Bupati Kepada Daerah TK II Jembrana, Ida Bagus Gede Doster, Danres Jembrana, AA. Bagus Karang.[1]

Sesudah pelaksanaan sholat ghaib bersama para tokoh masyarakat Loloan, maka pemberangkatan para mujahid/pejuang yang telah gugur tersebut diiringi oleh tembakan salvo dari TRI serta dikawal pasukan sampai ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Negara yang baru selesai tahun tersebut. Tokoh-tokoh Loloan yang hadir saat itu, yaitu antara lain, K.H. Ustad Ali Bafaqih, K.H. Moh Yatim, Raden Suharyo, H. Usman, H. Ali, H. Moh. Baijuri, Ridwan H. Basuni, H. Ichsan Sapakira, H. Umar; dari golongan muda, H. Hambali, Zen Harun, Mustafa Al Qadri, Nur Yasin, Hasan Kiklung, H. Nur Zaini, Abdul Kadir Bin H Ichsan. H. Ali Baraas. Moch. Ikhsan wak tukang, H. Munif, Abdul Majid, Suni, H. Yusuf, Kepala Desa Loloan Barat Agus Usman, serta Bupati Jembrana I Gede Doster.

Sejak saat itu para tokoh bersepakat untuk mengganti nama Masjid Noor menjadi Masjid Mujahidin. (Bersambung … )


[1] Monografi Masjid Mujahidin, 1994;14

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *