SEJARAH BERDIRINYA MASJID MUJAHIDIN LOLOAN BARAT, NEGARA (2)

Peranan Masjid Noor Loloan Tahun 1942-1945

PADA masa perjuangan Kemerdekaan, Masjid Noor merupakan basis bertemunya para pejuang dari berbagai desa yang ada di Kecamatan Negara, karena Raden Soeharyo sebagai komandan para pejuang saat itu mengatur strategi bersama para Takmir Masjid Noor yaitu H. Amin bin H. Hamzah, H. Usman bin H. Hamzah dan H. Zaini bin H. Hamzah yang ikut mendukung penuh gerakan para pemuda pejuang tersebut. Bahkan cucu H. Amin bin Hamzah yang bernama Abdillah bin H. Sayuti dengan sahabatnya yang bernama Salim bin Malik (Salim Gebres) saat itu merupakan pemuda yang rela mengorbankan nyawanya untuk meledakkan tangsi gudang amunisi Jepang.

Setelah peristiwa tersebut Jembatan Kayu Loloan dinamakan Jembatan Sayuti Malik (nama kedua orangtua dari dua orang pejuang yang gugur di masa revolusi. Mengapa sampai dinamakan Sayuti Malik , karena untuk mengobati kesedihan hati dari kedua orang tua pejuang tersebut). Bahkan salah satu nama jalan yang berada di Loloan Barat saat itu dinamakan Jalan Sayuti Malik, peristiwa tersebut tepatnya pada tanggal 13 September 1945.

Selama masa kependudukan Jepang tahun 1942-1945, Raden Suharyo dan para pemuda Loloan aktif dalam latihan militer Jepang Heiho bersama para pejuang pergerakan lainnya. Selaku pimpinan para pejuang masyarakat muslim saat itu yang beranggotakan pejuang dari berbagai desa, yaitu Loloan Barat, Loloan Timur, Tegalbadeng, Pengambengan, Cupel, Banyubiru dan Air Kuning, Raden Suharyo sering mengadakan konsolidasi dengan para ketua regu kelompok dari desa-desa tersebut. Dengan masing masing pimpinan regu yaitu :

  1. Regu Loloan Barat diketuai oleh Abdullah bin H. Sayuti
  2. Regu Loloan Timur diketuai oleh Abdurrahman bin Imran
  3. Regu Tegalbadeng diketuai oleh Salim bin Malik (Salim Brenges)
  4. Regu Kumbading diketuai oleh Ahmad Cekedo
  5. Regu Air Kuning (tidak diketahui nama ketuanya).
  6. Regu Pengambengan diketuai oleh Ash’ari
  7. Regu Cupel (tidak diketahui nama ketuanya).

Rapat-rapat para pejuang pimpinan Raden Suharyo sangat rahasia sehingga dilakukan di belakang Hotel Sapakira, tepatnya di sebuah rumah kecil yang tersembunyi di belakang Hotel Sapakira. Rumah ini dipakai sebagai markas para pejuang untuk mengorganisir dan mengatur strategi dan juga membagi tugas, baik pengontrolan, pemantauan maupun juga sumber logistik konsumsi para pejuang. Raden Suharyo memang bersahabat akrab dengan H. Ichsan, sehingga untuk pendanaan para pejuang H. Ichsan yang saat itu sebagai pengusaha sukses di Loloan membantu secara diam-diam akomodasi maupun transportasi para pejuang sejak masa pergerakan tahun 1939.

Sebuah nama toko beralamatkan “Djalan Sayuti-Malik” di kota Negara (Sumber: Reken, 1979, repro oleh penulis).

Sore itu di belakang Hotel Sapakira, tepatnya pada tanggal 13 September 1945, H. Raden Suharyo selaku Komandan TKR Jembrana sedang berembug dengan para ketua regu pejuang untuk mengatur siasat dan strategi agar pasukan Jepang yang berada di tangsinya mau menyerahkan diri, karena di berbagai daerah pihak Jepang sudah menyerahkan diri beserta persenjataannya. Tangsi Jepang ini juga merupakan sebuah gudang senjata sehingga pihak Jepang tidak mau menyerahkan diri apabila stok amunisi masih penuh dan mereka takut persenjataan itu diambil-alih oleh para pejuang dan TKR Jembrana.

Di tengah rapat yang sedang berlangsung alot mengatur strategi untuk mengalahkan sisa-sisa pasukan Jepang yang masih belum mau juga menyerahkan diri, tiba-tiba dua orang pemuda maju ke tengah rapat, dan mengatakan: “Kami Sayuti dan Malik siap meledakkan tangsi dan gudang senjata pasukan Jepang, tolong lilitkan di tubuh kami beberapa granat tangan yang masih dimiliki Barisan Keamanan Rakyat (BKR) Jembrana.” H.R. Suharyo dan seluruh pasukan yang hadir terharu dan menitikan air mata melihat kesungguhan dan niat dua pemuda Loloan Barat ini siap mengorbankan diri, dengan meledakkan tangsi dan gudang senjata tentara Jepang.

Para pejuang sepakat berkumpul kembali di Masjid Noor untuk sholat maghrib berjamaah, dan juga di Masjid Noor telah hadir para ulama dan tokoh Loloan saat itu. Ulama yang hadir antara lain KH.S. Ustad Ali Bafaqih, KH. Moh. Yatim, KH. Abdurrahman. KH Ustad Ahmad Dahlan (Wak Haji Semarang), Datuk Guru Nuh. Sedangkan dari tokoh-tokoh Loloan hadir H. Basuni, H. Amin, H. Usman, H. Zaini, dan H. Ichsan. Sebelum berangkat, para pejuang meminta doa restu kepada para ulama dan tokoh Loloan yang hadir di Masjid Noor Loloan Barat.

Setelah selesai sholat Isya, para pejuang berangkat menuju markas Jepang di Kota Negara. Pasukan gabungan TKR dengan para pejuang mulai merayap menyusuri pinggiran sungai Ijo Gading menuju Tangsi Jepang. Segera saja terjadi kontak senjata yang cukup lama di depan tangsi Jepang antara para pejuang dengan pasukan Jepang yang berada di dalam tangsi, disertai dengan bunyi letusan senjata dari kedua belah pihak terus bersahutan.

Sementara itu, Abdillah bin Sayuti dan Salim bin Malik, dengan berlilitkan granat di sekujur tubuhnya, menyelinap memasuki Tangsi Jepang. Sementara kontak senjata terus berlangsung, kode rahasia oleh kedua pemuda Abdillah bin Sayuti dan Salim bin Malik berupa dentuman kecil berbunyi yang dalam hitungan detik disusul oleh dentuman yang sangat keras diiringi bunga api dan cahaya terang benderang selama beberapa jam lamanya.

Itulah pertanda bahwa gudang amunisi tangsi tentara Jepang telah hancur lebur bersama tubuh kedua pemuda pejuang pemberani Loloan Barat. Hampir seluruh masyarakat yang tinggal berdekatan dengan tangsi Jepang saat itu mendengar ledakan yang cukup keras memecahkan kesunyian malam.

Keesokan harinya Kepala Tentara Jepang memberikan kode menyerah tanpa syarat dengan mengibarkan bendera putih, yang disambut sorak sorak “Merdeka!!… Merdeka!!!” dari pihak pejuang dan TKR Jembrana. Setelah kejadian tersebut, termenunglah H.R. Suharyo menitikan air matanya yang telah ditahannya semalaman menyaksikan keberanian dan tekad juang yang tinggi dari dua pemuda yang bernama Sayuti dan Malik (nama lengkap dua pemuda tersebut Abdillah Bin H Sayuti Bin H. Amin dan Salim Bin Malik).

Kepergian kedua pejuang tersebut sangatlah membuat sedih hati dari kedua orang tua mereka, sehingga untuk mengobati rasa sedih yang mendalam tersebut maka atas usulan para pejuang kepada Raja Jembrana agar memberikan atau menamakan jalan yang berada di Loloan Barat dengan nama kedua pejuang yang telah gugur tersebut. Raja Jembrana menyetujui usulan para pejuang, kemudian sejak itu dinamakanlah “Jalan Sayuti Malik” di Loloan Barat. Nama jalan tersebut bertahan hingga  masa pemerintahan Orde Lama, sebagai bentuk penghormatan untuk mengenang jasa kepahlawanan mereka. (Bersambung … )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *