SEJARAH BERDIRINYA MASJID MUJAHIDIN LOLOAN BARAT, NEGARA (1)

Semula Bernama Masjid Noor

PADA tahun 1910 perniagaan di Bandar Loloan semakin mashyur di Jembrana. Di bandar tersebut merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang antar pulau yang membongkar muat barang dagangan. Sedangkan Pelabuhan Teluk Bunter (dahulu Bandar Pancoran) dipergunakan untuk bongkar muat minyak kelapa dan garam.

Loloan saat itu sebagai pusat perniagaan, sehingga banyak bermunculan para saudagar di Loloan Timur dan Loloan Barat. Di antaranya H. Basuni bin Hamzah, seorang saudagar sukses yang tinggal di kampong Cempake Loloan Barat. Sejak usia muda telah mempunyai sebuah gagasan untuk memudahkan masyarakat barat sungai Loloan untuk sholat Jum’at.

Hal itulah yang melatarbelakangi H. Basuni sehingga mempunyai niat untuk mendirikan sebuah masjid di barat sungai, karena jembatan kayu dan bambu yang menghubungkan timur sungai dengan barat sungai sering hanyut dihantam banjir besar. Sedangkan jika jamaah barat sungai hendak beribadah sholat Jum’at harus menyeberang dengan naik sampan kecil atau bersabar menunggu air surut, karena menyeberang di saat air pasang sangatlah berbahaya mengingat sungai Loloan banyak dihuni oleh buaya.

Setelah menjadi saudagar sukses pada tahun 1910, H. Basuni memberanikan diri mendirikan sebuah masjid hanya dengan bermodal 100 cent mata uang hindia Belanda

H. Basuni mulai merintis pembangunan masjid di atas gabungan tanah wakaf dari H. Noor dan ditambah tanah wakaf oleh H. Basuni. Juga bersama dengan saudaranya yang pertama H. Amin bin Hamzah dan saudaranya yang kedua H. Usman bin Hamzah, serta adiknya yang terkecil H. Zaini bin H. Hamzah. Ide lokasi pembangunan masjid didapatkan oleh H. Basuni saat kedatangan adiknya yang terkecil yang bernama H. Zaini ke rumahnya di kampong Cempake.

H. Zaini  bin H. Hamzah menyampaikan kepada abangnya, yaitu H. Basuni, bahwa mak mertuanya yang bernama Hajjah Halimah hendak mewakafkan sebidang tanah. Luas tanah almarhum suami dari Hj Halimah yang bernama H. Noor diwakafkan seluas 23 are  dan ditambahkan wakaf pribadi dari H. Basuni seluas  27 are untuk masjid dan 20 are untuk jalan depan masjid dan lokasi kantor Desa Loloan Barat.

Maka H. Basuni memulai pembangunan masjid tersebut dengan modal pribadi yang dimilikinya di atas tanah wakaf tersebut dengan bantuan dana dari ketiga saudaranya juga. Pada masa awal pembangunan banyaklah penolakan ari beberapa anggota masyarakat karena masjid sudah ada di timur sungai. H. Basuni tetap melanjutkan pembangunan karena visi ke depan masyarakat Loloan di barat sungai semakin bertambah, sehingga di masa depan jamaah tidak dapat ditampung masjid yang sudah ada.

Maka di hari Jum’at pada tanggal 15 Desember tahun 1916 diresmikanlah masjid itu oleh 4 bersaudara tersebut, dengan memberikan nama sesuai nama yang mewakafkan yaitu H.M. Noor. Masjid tersebut dinamakan Masjid Noor.

Hal ini diperkuat oleh keterangan lisan dari KH. Achmad Damahuripada ceramah peringatan 100 tahun Masjid Mujahidin dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1437 Hijriyah yang dilaksanakan selesai sholat subuh berjamaah pada hari Minggu 16 Desember 2016. Ia mengatakan, “Masjid Mujahidin dulunya bernama Masjid Noor didirikan pada tahun 1916 oleh H. Basuni bin Hamzah.”

Pada Tahun 1922 berkat ketekunannya, perniagaan Haji Basuni semakin berkembang pesat, sehingga Haji. Basuni termasuk seorang hartawan baru di Kota Negara bersamaan dengan para hartawan yang juga mulai bermunculan, yaitu Syech Ba’abud, Syarif Salim Al Habsyi, Sayid Achmad Al Habsyi, Oei Kian Tjian, Oei Gwat Lian, Tan Thiam Djien, Haji Achmad. Beberapa bidang tanah mulai diwakafkan untuk Masjid Noor oleh H Basuni, seperti tanah bekas Kantor Desa Loloan Barat lama, tanah jalan masjid juga merupakan wakaf dari H. Basuni untuk Masjid Noor.

Pembuatan jalan menuju masjid dengan aspal yang dimasak dan ditaburkan batu-batu kerikil juga dilaksanakan dan dibiayai secara swadaya oleh H. Basuni bin Hamzah. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *