SEJARAH MASJID DARUSSALAM KUMBADING MUARE, JEMBRANA

KAWASAN Kumbading dahulu merupakan sebuah perkampungan kuno Suku Bugis Makassar dinamakan kampung Bajo Muare. Pada sekitar tahun 1963 Masehi, kawasan Kumbading baru berpenduduk sekitar 25 KK. Masjid pertama terletak di sebelah timur selatan dari masjid sekarang ini.

Masjid pertama tersebut belum mempunyai nama, hanya disebut Masjid Kumbading, didirikan oleh Jafar Salim dengan luas tanah 2 are. Kondisi bangunan masjid sudah tua, dan sempat roboh. Tahun 1985, masjid dipindahkan ke lokasi baru.

Dengan semakin berkembangnya jumlah penduduk, maka kesepakatan para tokoh pada tahun 1987 dimulai pendirian pondasi bangunan Masjid Darussalam. Dibantu oleh H.S. Mustapa Al Qadri dan H. Hawari, utusan dari departemen saat itu untuk membantu para tokoh Kumbading mensosialisasikan ke masyarakat terkait pindahnya masjid, dan juga telah mendapatkan restu dari ulama kharismatik kala itu yaitu K.H. Moh. Imran (Kepah).

Para tokoh Kumbading pendiri masjid kala itu yakni H. Matsuri, H. Dasuki, Affandy dan Mas’ud mulai merintis pembangunan Masjid Darussalam di atas tanah wakaf dari Muhammad Sholeh seluas 13 are di tahun 1987 Masehi kemudian Jafar Salim memberikan dana kepada H. Matsuri yang dipergunakan untuk menambah wakaf tanah 2 are sehingga luas tanah menjadi 15 are.

Nama Darussalam diberikan oleh Mas’ud, sebagai nama masjid saat itu. Hubungan H. Matsuri dengan Mas’ud adalah berbesanan sehingga para pendiri masjid masih dalam lingkup kekeluargaan. Renovasi pembangungan masjid kembali dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2008. Masjid lama di atas dibongkar dan masjid yang sekarang ini berdiri sejak tahun 2008.

Sampai saat ini dalam proses finishing dan penambahan empat buah bangunan menara yang belum dapat terselesaikan, sehingga panitia terus menggali bantuan dan sumbangsih para donatur, demikian ditambahkan oleh Bambang Irawan selaku tokoh Sepuh Kumbading yang juga merupakan wakil Ketua BPD Desa Pengambengan. (Sumber penuturan lisan H. Matsuri bin Muhammad Sholeh kepada penulis di Muare, Senin, 29 Maret 2021, dan juga penjelasan tambahan dari Bambang Irawan, selaku tokoh Kumbading.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *