SEJARAH GP ANSOR DI JEMBRANA (2)

PADA tahun 1960 an para tokoh PNU mulai perlahan-lahan merintis, menggalang, serta membentuk secara lebih tertata secara administratif keanggotaan Partai NU (PNU) serta mulai merekrut para pemuda untuk masuk ke dalam barisan Pemuda Ansor yang mulai tumbuh di setiap desa di Kota Negara. Hal itu dilakukan untuk menandingi eksistensi dari Pemuda Rakyat (PT) dan Barisan Tani Indonesia atau BTI yang keduanya merupakan underbow PKI kala itu.

Dipelopori oleh Abdurrachman Azis dkk atau lebih dikenal dengan nama Abdurrachman NU dan sahabatnya yang bernama M. Hasim bin Amin H Kasan, yang lebih dikenal dengan nama M. Hasim NU, Ahmad Damanhuri dkk, mulai menata PNU Jembrana dan juga mulai merintis pembentukan GPA di tahun tersebut. Sehingga tahun 1963 telah siap mengadakan rapat pemilihan pengurus secara resmi.

Pada tahun 1962, ormas Pemuda Rakyat mulai membentuk RKD (Rukun Kifayah Djawa) di kalangan masyarakat Jawa dan Madura yang ada di kota Negara. Maka untuk menandingi RKD, para tokoh Ansor merintis RKA (Rukun Kipayah Ansor).

Tepat pada tahun 1963, secara resmi PNU mengadakan rapat pemilihan pengurus pertama di Kota Negara. Komposisi personalia dari PNU masa kepengurusan tahun 1963 s/d 1971 mulai diresmikan sebagai berikut :

Penasihat : Datuk Guru M Noeh, Datuk Syayid Husin Al Qadri

Rais Syuriah : KH. S. Ali Bafaqih, KH. Abdurrachman, Hasanudin bin M Said

Ketua Umum : Abdurrachman Azis

Ketua I : KH. Saipudin

Ketua II : M Hasim bin Amin H Kasan.

Sekretaris Umum : M. Amin AR

Sekretaris I : M Chairi Sadli

Sekretaris II : Zaki

Bendahara Umum : H. Masnur

Bendahara I : Moh Husnen

Bendahara II : H. Sukri Hasan

Bendahara III : H Hambali

Pembantu- Pembantu : H.Jamil, Sakidin, Asral, H. Umar Tahir, Sulaiman Madjid, Arsyad Ismail, M. Chalil, M. Agus Usman, Nawawi Abas, M. As’ad

Pada tahun 1963, para tokoh Anshor masyarakat keturunan Madura dan Jawa yang sudah lama menetap di Jembrana, berinisiatif mendirikan rukun kipayah (perkumpulan kematian). Hal ini dilakukan untuk menandingi RKD (Rukun Kipayah Djawa) milik Pemuda Rakyat yang telah lebih dahulu terbentuk. RKD merupakan sayap kanan PKI yang ada di Kota Negara. Tokoh-tokoh Ansor yang merintis mendirikan RKA, yakni H. Jamil, H. Jamhur, H. Sulaiman, Rakib dan H. Syamsudin. Sementara sebagai Ketua RKA pertama adalah H. Jamil.

Sedangkan Susunan Pengurus Gerakan Pemuda Ansor (GPA) mulai diresmikan pada tahun 1964 oleh Abdurrachman Azis selaku ketua NU Kabupaten Jembrana. Dengan komposisi personalia pengurus GPA masa jabatan tahun 1964 s/d 1977 sebagai berikut :

Ketua Umum : Ahmad Damanhuri

Ketua I : M. Tahir

Ketua II : Abdurrakib

Sekretaris Umum : Adenan Marhaban

Wakil Sekretaris : H. Syam’ ani

Bendahara Umum : H.M. Husin

Wakil Bendahara : M. Asmawi

Sedangkan untuk kepengurusan IPNU Cabang Jembrana diresmikan oleh Abdurrachman Azis dengan susunan pengurus periode 1965 s/d 1977, sebagai berikut:

Ketua I : Drs. H. Syaipudin Zuhri

Ketua II : M. Qosim Sa’ad

Ketua III : Idris Amin

Sekretaris I : H. Syaipullah

Sekretaris II : Saubari AM

Sekretaris III : H.M.Nazar

Bendahara I : H. Suud

Bendahara II : Abdullah

Bendahara III : Riduan KER

Departemen :

Olah raga : H.Hasim Saad, Burhan

Pendidikan : H. Husin Arsyad, Hanafi

Pengurus IPNU Putri periode 1965 s/d 1977, sebagai berikut :

Ketua I : Bahariah

Ketua II : Haulah

Pengurus Fatayat Cabang Jembrana

Ketua I : Rasdianah

Ketua II : Fatimah H Dalwun

Pengurus Muslimat Cabang Jembrana

Ketua I : Amnah H Marzuki

Ketua II : Masnah S Taha

(Sumber M, Qosim, Wakil Ketua IPNU 1964)

Setelah tahun 1965, pengurus RKA awal mulai mengadakan evaluasi keanggotaan karena mulai bertambahnya masyarakat yang masuk anggota kala itu. Saat itu, pengurus RKA mengambil langkah-langkah sebagai koordinator induk dengan mendirikan 5 cabang RKA yang terdiri dari :

1.  RKA Terusan

2. RKA Kampung Madura (Kampung Sidomulyo dan Kampung Rengek)

3.   RKA Kampung Sasak

4.   RKA  Kampung  Baru (wilayah keanggotaan awal dari Toko Sembilan sampai belakang BPD)

5. RKA Kampung Tinggi

Masing-masing RKA cabang yang ada, menyetorkan iuran ke RKA induk, sehingga RKA induk akan mempergunakan untuk perbaikan pagar alas pemakaman di kampong Terusan Loloan Barat, maupun perbaikan tanah yang tergerus sungai dengan membuatkan sandaran di pinggir sungai pada waktu itu.

Pada tahun 1970-an, Abdurrachman menjabat sebagai Ketua RKA Kampung Baru dengan sekretaris H. Nasar. Untuk memperluas keanggotaan Rukun Kipayah Anshor (RKA) agar keanggotan bersifat lebih umum, maka pada tahun 1973 RKA merubah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga menjadi Rukun Kipayah Ahlus Sunnah Waljama’ah. Setelah RKA memperluas keanggotan di tahun 1973 tersebut maka iuran yang sebelumnya Rp 1 (satu rupiah) dinaikan menjadi 1 (satu ringgit). Satu ringgit berjumlah dua setengah rupiah. [Penuturan lisan H. Nasar (73 tahun) tanggal 7 Juli 2020, di Kelurahan Loloan Timur]. (Bersambung … )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *