Sejarah GP Ansor di Jembrana Bali (1)

DALAM penulisan sejarah GP Ansor Jembrana, perlu juga kita mengetahui riwayat awal tokoh-tokoh penggerak maupun perintis awal berdirinya GP Ansor di Jawa. Karena hal ini tidak terlepas dari keberadaan dan perkembangan GP Ansor di Jawa.

Dikutip dari tulisan Dr. Supriyanto, Dosen Universitas Islam Malang, yang berjudul “Mengenang Kiai Shaleh Lateng, Saksi Sejarah dan Tuan Rumah Lahirnya GP Ansor”. Tulisan ini sangat menarik karena erat kaitannya dengan embrio awal kelahiran GP Ansor di tanah Jawa.

Hal ini juga sebagai dasar untuk melacak jejak kelahiran GP Ansor di Kota Negara. Menurut sumber yang penulis dapatkan bahwa di tahun 1963 sudah terbentuk Rukun Kipayah Ansor di Kota Negara. Artinya pada tahun 1960-an telah dirintis awal kepengurusan GP Ansor di setiap desa di kabupaten Jembrana, hingga setelah terbentuk pengurus-pengurus desa maka secara resmi pengurusan GP Ansor Kabupaten Jembrana diresmikan pada tahun 1964 di Kota Negara. (Sumber tulisan M. Kasim, wawancara tahun 2017 silam di kediamannya di Desa Cupel. M Kasim saat tahun 1964 sebagai wakil ketua IPNU Jembrana.)

Dalam catatan sejarah, GP Ansor lahir 24 April 1934 di pesantren asuhan Kiai Shaleh Lateng (KH Agus Muhammad Shaleh) di Kelurahan Lateng, Kecamatan Kota, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, saat Muktamar ke-9 atau bertepatan dengan 10 Muharram.

Dalam buku Antologi Nahdlatul Ulama disebutkan: Gerakan Pemuda Ansor yang waktu itu bernama Ansoru Nahdlatul Oelama’ atau ANO diterima dan disahkan sebagai bagian pemuda NU. Susunan pengurus antara lain: Ketua HM. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam. Tanggal 24 April 1934 kemudian dikenal sebagai tanggal kelahiran Gerakan Pemuda Ansor. Adalah Kiai Shaleh, sosok yang memiliki jasa besar dalam pembentukan ANO. Sayap organisasi NU ini kemudian berubah nama menjadi Gerakan Pemuda Ansor. Bertempat di Pondok Pesantren Lateng, Banyuwangi, pimpinan Kiai Shaleh, inilah ANO terbentuk.

Kiai Shaleh juga memegang peranan cukup penting dalam membidani kelahiran ormas terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU). Terutama di Wilayah Blambangan yang sekarang menjadi Kabupaten Banyuwangi.

Menurut penuturan keluarga, sebelumnya, Kiai Saleh Lateng telah bergabung dengan Sarekat Islam. Pada tahun 1913 beliau memimpin Rapat Umum Sarekat Islam yang diadakan di Glenmore Banyuwangi. Selanjutnya, pada 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926 M bersama dengan tokoh-tokoh ulama nusantara lainnya mendirikan Nahdlatul Ulama. 

Secara nasab, Kiai Saleh merupakan keturunan kerajaan Palembang. Tetapi sudah lahir di Kampung Mandar, Banyuwangi pada tahun 1862, dengan nama lengkap Kiagus Muhammad Saleh. Ayahnya yang berdarah bangsawan Palembang bernama Kiagus Abdul Hadi dan ibunya yang asli Banyuwangi memiliki nama Aisyah.

Pada usia remaja, Kiai Saleh belajar mengaji di pondok Kyai Mas Ahmad, Kebon Dalem, Surabaya. Lalu mondok ke Kiai Kholil Bangkalan Madura, dan melanjutkan ke Bali, yakni berguru selama 3 tahun kepada Tuan Guru Muhammad Said di Loloan Barat, Jembrana, Bali.

Shaleh muda juga belajar di Makkah selama enam tahun. Selepas menimba ilmu di tanah suci, Kiai Saleh, diutus Kiai Kholil untuk segera pulang dan menyebarkan Islam di tanah kelahirannya di Kelurahan Lateng, Banyuwangi. Inilah awal mula nama Kiai Saleh Lateng mulai dikenal.

Kiai Saleh Lateng sangat tegas dan melawan penjajahan. Beliau sering berpesan kepada santri-santrinya untuk berusaha keras menjadi orang pintar agar tidak terus dijajah oleh bangsa lain. Selain mengajarkan ilmu-ilmu agama, Kiai Saleh juga mengajarkan kesaktian-kesaktian kanuragan. Maka tak heran jika murid Kiai Saleh bukan hanya terdiri dari kaum santri yang taat beribadah melainkan juga kalangan preman.

Dalam berbagai pertempuran melawan penjajah, Kiai Saleh juga mengutus beberapa anaknya dan santrinya ke medan perang gerilya dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selama masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Kiai Saleh juga sempat menghadapi kejaran kompeni Belanda dan harus menghindar keluar dari Lateng dan pindah ke Pakistaji. Beliau juga pernah terlibat secara langsung di garis depan ketika memimpin salah satu pasukan laskar rakyat dalam penyerbuan terbuka saat berkumandangnya Resolusi Jihad ke Surabaya tahun 1945. Dalam proses berdirinya NKRI, Kiai Shaleh juga memiliki andil dalam pembentukan awal Kementerian Agama Republik Indonesia.

Diceritakan bahwa saat Menteri Agama Republik Indonesia pertama KH Wahid Hasyim mencari kitab yang akan digunakan sebagai pedoman pembentukan kementerian. KH. Wahid Hasyim saat itu mencarinya ke seluruh pondok pesantren, namun belum juga menemukannya. Maka KHA Wahid Hasyim mengutus seorang kurir untuk menanyakannya kepada Kyai Saleh Lateng yang masih berada di tempat persembunyian di Pakisaji Kabat.

Kurir tersebut meminta dengan membeli atau mengganti harga atas kitab tersebut. Maka Kiai Saleh Lateng pun kemudian memberikan kitab bernama Mu’jamul Buldan dengan bersedia menerima separuh harga dari harga semestinya. Kitab ini merupakan salah satu sumbangan Kiai Saleh Lateng dalam pembangunan Kementrian Agama Republik Indonesia. (Bersambung … )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *