SEJARAH MASJID NURUL HUDA KETAPANG MUARE DESA PENGAMBENGAN

SEKITAR tahun 1950-an para tokoh masyarakat Dusun Ketapang Muara, yaitu Mihram seorang guru mengajar mengaji (lebih dikenal dengan panggilan Wak Jago), H.As’ary bin Mat Tahir, H.M. Djauhari bin Mat Tahir, H. Syafi’i dan Ahmad (Wak Endang) rapat di rumah H. Asy’ary. Para tokoh ini membahas rencana untuk mendirikan masjid di Dusun Ketapang Muare.

Dalam rapat tersebut, mereka berlima sepakat mendirikan sebuah masjid di Dusun Muare, dengan mengajak masyarakat bersama-sama secara gotong-royong. Tanah masjid awal diwakafkan oleh Mihram. Selanjutnya perluasan tanah masjid dengan melakukan pembelian tanah masyarakat oleh pihak pengurus masjid.

Mengapa kelima tokoh masyarakat Dusun Ketapang Muara berniat mendirikan masjid? Sebab, pada masa itu jarak tempuh masyarakat Dusun Ketapang Muare yang berniat untuk sholat Jumat di masjid Nurul Hidayah Dusun Munduk cukup jauh. Masjid Nurul Hidayah Dusun Munduk waktu itu sebagai satu-satunya masjid yang berdiri di Desa Pengambengan pada tahun 1930.

Pada tahap awal pendirian masjid, bahan pondasi masjid menggunakan fasilitas seadanya, berupa perolehan batu-batu yang diadakan dari pinggiran pantai serta sumbangan batu kapur pemberian dari Pak Wayan Restan. Batu kapur tersebut diolah dengan proses pembakaran agar menjadi bahan perekat bangunan.

Masyarakat bergotong-royong mengambil batu kapur dengan alat angkut sederhana seperti cikar (gerobak ditarik dengan kerbau) dari lokasi tanah kapur milik Pak Wayan Restan yang terletak di Dusun Kumbading. Tanah kapur tersebut diberikan oleh almarhum I Wayan Restan, karena tanah tersebut akan dipergunakan sebagai lahan tambak konvensional.

Pada tahun 1952 Masehi, Masjid Nurul Huda Dusun Ketapang Muara berdiri. Nama Nurul Huda diusulkan oleh H.M. Djauhari bin Mat Tahir sebagai nama masjid, sehingga saat itu langsung diresmikan oleh kelima orang pendiri masjid tersebut.

Masjid Nurul Huda merupakan hasil gotong-royong masyarakat Dusun Ketapang Muara sesuai penuturan lisan H. Asmuni Turyadi pada tahun  2018 silam. Mereka berlima bergiliran menjadi ketua panitia pengurus masjid, sebuah keikhlasan masa silam di kawasan bersejarah Pantai Tanjung Tangis mulai terungkapkan. Sejarah masjid sangatlah penting bagi generasi mendatang sehingga mengetahui siapa para pendiri masjid di tempat tinggalnya masing-masing. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *