“CIKAR-CIKARAN”, PERMAINAN KLASIK MASYARAKAT LOLOAN

JELANG bulan Ramadhan, aktivitas anak-anak di Loloan, Negara, Kabupaten Jembrana mulai sibuk mencari bambu kecil dan juga sandal bekas. Juga tak lupa bekas kaleng cat mini, serta tempat pentil sepeda gayung. Anak-anak tersebut sibuk berkreasi membuat cikar-cikaran persiapan menjelang bulan Ramadhan.

Cikar-cikaran merupakan sebuah permainan klasik masyarakat Loloan yang diwariskan turun-temurun. Belakangan permainan klasik tersebut mulai terkikis jaman.

Sementara dari pandangan tokoh penggiat dan penggerak pemuda Loloan, Muztahidin, hikmah tentang permainan cikar-cikaran ini antara lain; mengajarkan kepada generasi saat ini, agar tidak meninggalkan apa apa yang sudah diwariskan oleh para pendahulu sebelumnya. Serta mampu mengenalkan kekayaan lokal yang merupakan budaya khas Loloan, meski agak kuno tapi tidak tampak kuno sekali. Artinya mampu bertahan mengikuti perkembangan zaman.

Menurutnya, permainan cikar-cikaran ini sebenarnya sangat simpel dan mudah. Para orangtua bisa mengenalkan dan mengajarkan kepada anak-anak agar mereka mencintai dan menghargai kekayaan dan potensi budaya kampung halaman. Permainan ini cukup seru serta bahan-bahan untuk membuat cikar-cikaran ini sangat mudah didapatkan.

“Menariknye ketike permainan kuno ini tetep bise eksis dan dilestariken di era milenial yang serba android ini,” tutur Muztahidin.

Penulis sendiri pada tahun 1982 sampai dengan 1985-an sempat memainkan cikar-cikaran. Saat itu penulis duduk di kelas 2 SD hingga kelas 5 SD. Waktu-waktu yang ditunggu adalah pada saat bulan Ramadhan.

Sehabis buka bersama dan sholat maghrib, maka bergegas menghidupkan lampu pelite dari bahan kaleng bekas cat yang berukuran mini di atas cikar, dan mendorong cikar ke perempatan seme sambil menunggu kawan kawan sepermainan berkumpul. Kemudian kita melakukan konvoi cikar-cikaran ke arah selatan.

Sungguh asyik dan sangat berkesan, kebersamaan saat usia anak-anak di bulan Ramadhan. Sebagai pemerhati budaya, bagi saya hal ini sangatlah penting untuk dilestarikan karena memiliki unsur kebersamaan anak-anak, belajar mengenal arti kebersamaan dan juga memotivasi anak-anak berkreativitas dalam proses membuat cikar-cikaran. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *