BEBEH, NAMA JIN DALAM CERITA LAMA MASYARAKAT LOLOAN

MAKHLUK halus sebangsa jin itu sering dipanggil Bebeh oleh masyarakat Loloan. Di tahun 1950-an sampai dengan tahun 1980-an, Bebeh memang sempat meresahkan masyarakat Loloan, terutama anak anak remaja yang akan pergi mengaji melewati tempat-tempat yang sepi dan gelap.

Dan uniknya setiap yang ditemui oleh Bebeh rata-rata usia remaja yang sedang sendirian. Ciri khas Bebeh dengan mendekap, memeluk bahkan menindih para remaja tersebut.

Seperti kisah di bawah ini yang menceritakan beberapa pengalaman langsung yang cukup menegangkan dari seorang tokoh Loloan pada saat usia remaja di tahun 1970-an.

“Pada suatu subuh, awak mejalan ngaji (pergi mengaji bahasa Loloan) dari rumah panggung yang lama di Kampung Kerobokan menuju ke arah Ponpes Darutta’lim yang berlokasi di Kampung Selimut. Waktu itu berangkat pergi mengaji subuh biasa dilakukan sebelum suara adzan subuh terdengar.

Karena awak takut kasep (terlambat bahasa Loloan), ye maklum guru ngajinye yang orang manggil die Pak Husin Wali tu ketat le soal waktu (sangat disiplin bahasa Loloan). Kalau kasep berjamaah, semue anak yang kasep pasti kene lempag (dipukul bahasa Loloan) paha awak same boloh lempeh (bambu yang dipecah bahasa Loloan) tu minimal 3 kali pukulan untuk setiap anak yang datangnya terlambat. Rasa sakitnye minta ampun (sakit luar biasa dalam bahasa Loloan).

Nah saat awak baru mejalan, persis sampai di jalan depan rumah almarhum Bang Hanafi yang lame tinggal bet (rimbun dalam bahasa Loloan) penuh pohon pisang dan belum dibangun rumah. Rumahnye Bang Hanafi belum ade, tiba-tiba entah dari mane datengnye kok di depan awak sudah berdiri sosok tinggi besar, mengenakan baju berwarna putih, terus awak dipeluknye agak lame.

Setelah terasa sesak napas, barulah kemudian dilepas pelukan oleh sosok tersebut, dan awak yang terkejut terus langsung lari bergegas ke tempat ngaji. Setelah beberapa waktu dan sampai hari ini, ade tande tanye di hati awak.

Siape sosok tinggi besar berbaju putih itu? Apakah itu yang dimaksudkan Bebeh ataukah seorang tokoh yang alim? Sampai hari ini peristiwa tersebut terus menjadi misteri yang belum terjawab.” (sumber H. Abdul Khalik)

Cerita kedua, Loloan di tahun 1955. Saat itu, usia Ali (nama samaran) barulah 15 tahunan. Masih usia remaja. Karena dari rumah kawannya belajar bersama, maka tak terasa malam sudah mulai sepi, Ali pun permisi pulang. Jalan rumahnya saat itu masih jarang perumahan dan jarak rumah panggung satu dengan lainnya sangat jauh kisaran 500 meteran, diselingi pohon-pohon pisang palembang yang banyak tumbuh di pekarangan rumah penduduk.

Begitu Ali tiba di rumahnya lampu sentiran yang redup tampak membuat suasana tambah seram. Di atas pohon sabo kecik terlihat seorang jongkok berpakaian putih. Ali yang masih remaja mendekat orang yang berjongkok tersebut sambil ucapkan salam. “Assalamualaikum”.

Orang yang jongkok tetap terdiam dan mulai berdiri perlahan-lahan. Kaget setengah mati, tubuh Ali mendadak membeku, dan keringat dingin mengalir di tubuhnya, hawa mendadak dingin, bulu kuduk ali berdiri sendiri.

Dengan menatap langsung orang yang jongkok tersebut tetap meninggi hingga ukuran melebihi pohon sabo kecik, saat itulah Ali mulai tersadar bahwa di depannya ini makhluk halus yang hendak mendekapnya. Ali mulai lantunkan adzan dengan terbata-bata.

Begitu Ali lantunkan adzan, sontak tubuh Ali mulai bisa bergerak. Bergegas Ali lari menuju tangga rumah panggungnya tanpa berani melihat ke belakang. (Penuturan lisan Ali (nama samaran) kepada penulis ditahun 1993) dan penuturan lisan Drs. H Abdul Khalik, mantan Ketua Takmir Masjid Mujahidin dan tokoh masyarakat Loloan, kepada penulis Minggu 21 Maret 2021.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *