HIKAYAT NENEK RATE, DONGENG POPULER MASYARAKAT LOLOAN SEBAGAI PENGANTAR TIDUR

MASYARAKAT Loloan, Negara, Kabupaten Jembrana mempunyai banyak cerita ataupun dongeng pengantar tidur. Dongeng-dongeng tersebut merupakan cerita wajib bagi anak anak. Ceritanya penuh makna dan memiliki pesan-pesan kehidupan. Salah satunya Hikayat Nenek Rate, yang merupakan sebuah cerita dari masa silam yang cukup populer di kalangan masyarakat Loloan.

Di sekitar akhir abad ke-17 Masehi, di Loloan terjalin sebuah kisah cinta kasih yang unik, antara seorang manusia dengan makhlus halus dari bangsa jin. Sang jin bernama Ratih, karena logat Loloan, lama-lama menjadi Rate, dan seorang pemuda bernama Daeng Rasyid. Cerita ini turun temurun diwariskan dengan penuturan lisan sebagai pengantar tidur anak-anak hingga di awal abad ke-19 Masehi. Hikayat Nenek Rate cukup populer di kalangan masyarakat guyup Melayu Bugis Loloan, baik di timur sungai maupun di barat sungai.

Ada banyak versi Hikayat Nenek Rate yang berkembang di masyarakat Loloan, dan semuanya memang cukup menarik untuk diceritakan secara lisan.

Tulisan ini merupakan versi penuturan almarhum H. Mukri, Loloan Timur pada tahun 90-an. Dan yang mendengarkan langsung adalah Wakhaji Abdul Khalik, mantan Ketua Takmir Mujahidin.

Alkisah di Loloan, hidup seorang pemuda yang kerjanya mencari ikan dengan memasang bubu di muare sungai. Bubu tersebut terbuat dari bahan bambu gesing yang banyak tumbuh di pinggir kanan dan kiri sungai di Loloan. Suatu hari, karena bubu sang pemuda tersebut banyak hilang disapu banjir, maka pemuda bernama Daeng tersebut merencanakan untuk membuat bubu kembali. Tapi karena stok bambu di rumahnya sudah habis, maka Daeng beranjak ke pinggir sungai yang tak jauh dari rumahnya untuk mencari bambu sore itu.

Setelah tiba di rerimbunan bambu gesing, Daeng mulai hendak menebang boloh gesing. Sayup-sayup terdengar suara melarang Daeng agar tidak menebang boloh (bambu dalam bahasa loloan). Daeng tetap mengayunkan parangnya ke batang boloh tersebut. Sebetulnya sudah ada suara terdengar untuk melarang Daeng menebang boloh, akan tetapi Daeng tidak terlalu memperdulikannya karena boloh tersebut sangat diperlukannya.

Akhirnya dari arah suara yang melarang Daeng menebang boloh tersebut, Daeng dapatkan boloh gesing yang paling bagus. Diayunkannya parang yang dipegangnya, kemudian Daeng menebang boloh tersebut. Alangkah terkejutnya Daeng, saat boloh itu dipecah (dibelah dalam bahasa Loloan) ternyata muncul makhluk halus berwujud seorang perempuan dengel (cantik dalam bahasa Loloan).

Sambil menghilangkan rasa terkejutnya, Daeng bertanya, “Siapakan engkau wahai makhluk yang keluar dari dalam boloh?” Sang mahluk halus tersebut menjawab, “Awak adalah penunggu rimbunan pohon bambu ini wahai manusia, karena engkau telah membelah bambu ini maka siapa yang membelah bambu gesing ini adalah calon suamiku.”

Karena terpana akan kecantikan sang makhluk halus tersebut, maka hilanglah rasa takut dan terkejut yang tadi melandanya. Daeng mengiyakan siap menjadi suami makhluk halus tersebut, karena memang selama ini dia merupakan terune lapuk (perjaka tua bahasa Loloan). Daeng terus bergegas membawa makhluk halus itu pulang ke rumahnya.

Sampai di rumahnya diberi nama Ratih. Ratih memiliki suara yang sangat merdu. Daeng kemudian kawin dengan Ratih dengan satu syarat, bahwa pada siang hari suaminya tidak boleh pulang dari mekerje (bekerja bahasa Loloan) sebelum tiba waktu sore hari. Artinya setelah sore hari, Daeng baru boleh pulang. Daeng menyetujui syarat yang disebutkan Ratih.

Dan sambil menunggu sore, saat lakinye pulang mekerje, Ratih ni gemer le menyanyi (sangat senang bernyanyi bahasa Loloan). Kebiasaan Ratih semasih berwujud makhluk halus yang mendiami pohon bambu, adalah bernyanyi di siang hari. Karna menyanyi rutin dilakukan setiap siang hari, maka banyaklah orang yang penasaran ingin mendengar suara nyanyian yang sangat merdu dari sebuah rumah panggung di dekat sungai Ijogading.

Kabar akan nyanyian Ratih menjadi perbincangan masyarakat saat itu. Karena suaranya merdu mendayu-dayu, banyak laki-laki lain jadi gemer ajak die nyanyi (terpesona dalam bahasa Loloan) dan tidak jadi mekerje. Setiap siang hari di luar rumahnya Daeng penuh para lelaki yang antre dan rutin ingin mendengarkan suara Ratih menyanyi, sehingga para lelaki tersebut sampai lupa seharusnya berangkat kerja. Hal inilah yang meresahkan kaum emak-emak (ibu bahasa Loloan), karena mengganggu pekerjaan para suami mereka. Maka rombongan para istri itu sepakat untuk melaporkan ke Daeng, saat malam hari ketika Ratih sudah tertidur.

Para istri yang datang menemui Daeng meminta agar melarang istrinya yang bernama Ratih menyanyi di siang hari. Daeng pun menyanggupi, akan tetapi karena rasa penasaran dan juga ingin membuktikan kebenaran laporan rombongan para istri tersebut, akhirnya Daeng menyempatkan kerja hanya setengah hari saja.

Alangkah terkejutnya Daeng ketika sampai dari luar rumahnya didengar suara yang sangat merdu dan banyak para lelaki duduk seperti terhipnotis suara nyanyian dari dalam rumahnya. Ketika Daeng secara perlahan-lahan masuk ke rumah, didapatinya Ratih sedang menyanyi. Pantaslah banyak lelaki di luar rumahnya batal bekerja dan duduk hingga tertidur. Daeng pun tertidur saat mendengar nyanyian yang belum pernah didengarnya selama ini.

Ratih kaget karena saat melihat ke depan rumahnya tampak suaminya tertidur di pinggir pintu depan. Kemudian Ratih membangunkan suaminya. Sambil menggosokkan mata, Daeng duduk bangun dari tidurnya. Dan saat itulah si Ratih ngomong bahwa Daeng sudah melanggar syarat kesepakatan awal menikah. Hal ini adalah sebuah pantangan yang akan menyebabkan perkawinan akan segera berakhir tanpa bisa ditawar lagi.

Daeng terkejut dan mencoba mengingat syarat awal tersebut. Daeng menyesal dan merayu meminta maaf. Ratih hanya tersenyum saja karena tinggal menunggu hari dari syarat yang telah dilanggar oleh suaminya itu.

Pada suatu suatu siang, Ratih memanggil anaknya dan meminta tolong agar anaknya mencarikan kutu di rambutnya. Sang anak menurut, mencarikan kutu di rambut ibunya. Saat itulah Ratih meminta anaknya agar tusuk konde yang ada di rambutnya dicabut. Tiba-tiba sang ibu menghilang, dan sang anak terkejut. Ian menangis, sambil terburu-buru Daeng mendekati anaknya. “Ada apa anakku, ada apa anakku.”

Sang anak menjawab bahwa ibunya telah lenyap menghilang. Dalam kebingungan Daeng mendengar sebuah suara yang tidak asing baginya, ya suara Ratih. “Maafkanlah Abangku, suamiku tercinte, aku telah kembali berada di alam gaib, tapi aku tetap akan berada di sekitar keluargaku dan anak keturunanku ini dan apabila abang rindu akan daku maka pakailah kain warna kuning, maka abang akan bertemu denganku di alam gaib. Dan janganlah sampai ada anak keturunanku memakai warna kuning karena apabila memakai warna kuning, maka akan hilang lenyap menyusul ke tempat asalku, juga yaitu kembali ke alam gaib,” jelas Ratih.

Di alam gaib, Ratih juga berkembang biak dengan anak keturunannya dan anak keturunan yang di alam gaib ini juga sering ikut menikmati rezeki yang ada di keluarga manusia yang juga merupakan anak cucu dari keturunan Ratih.

Konon keturunan Rate (sebutan untuk Ratih dalam bahasa Loloan), yang ada hingga kini sangat pantang memakai kain warna kuning, dan juga dikenal jarang bisa kaya karena asal mulai menanjak kaya maka kekayaan perlahan menyurut berkurang. Ciri khas dari keturunan nenek Rate memiliki kulit kuning kemerahan. Wallahialam bissawab. (ms)

Foto-foto Ilustrasi: Gadis Loloan di rumah panggung (Eka Sabara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *