“BUJANG INTAN”, PERGURUAN SILAT KAMPUNG DARI LOLOAN BARAT (1)

LOLOAN Barat punya perguruan silat. Namanya PS Bujang Intan. Bagaimana sejarah berdirinya perguruan silat kampung tersebut.

Inilah kisah perjalanan panjang PS Bujang Intan di tahun 1986-an, yang didirikan oleh H. Asikin atau yang lebih dikenal dengan nama Bang Sikin. Beliau mulai rutin melatih olah tubuh silat Bugis Loloan kepada para pemuda yang saat itu berjumlah 40 orang.

Tempat latihan cukup sederhana. Yakni di sebuah tanah yang sedikit lapang di Kampung Cempake. Setiap pukul 21.00, latihan diawali dengan berapa gerakan pemanasan dan olah pernapasan dengan gerakan tenaga dalam. Hingga larut jam 23.00 latihan gerakan awal pengenalan kembangan dan beberapa teknik dasar khas Silat Kampung.

Selama setahun secara rutin seminggu 2 kali latihan di tanah lapang Kampung Cempake, tepatnya di halaman belakang sebuah rumah panggung di sebelah Ponpes Darut Ta’lim. Saat itu grup silat belum mempunyai nama perguruan. Akhirnya di suatu malam awal tahun 1987, Bang Sikin mengatakan kita semua rapat esok malam di rumahnya sekalian syukuran sederhana.

Pas malam rapat tersebut, Bang Sikin mengatakan sudah dapet name tentang persatuan silat yang selama setahun ini telah berjalan. “Bujang Intan”-an kite nameken, sesuai kisah perjalanan seorang pemuda di masa silam yang membujang dengan sifat mulia seperti intan permate. Dan hasil rapat yang dihadiri kawan-kawan seperguruan seperti Mad An, Mad Dung, Jupri, Hazin, Hazmi, Husin, dll sepakat untuk segera membuat baju seragam hitam ala teluk belanga, dengan logo berwarna hijau bertuliskan BI (Bujang Intan), mendaftarkan PS Bujang Intan di IPSI Kabupaten Jembrana.

Persis setelah 40 murid memiliki seragam silat, maka mulai dilakukan latihan pada sore hari dengan lari mengeliling Loloan Barat. Di pertengahan bulan Juli 1987, PS Bujang Intan mendapatkan job pertama menyambut kedatangan tamu Menteri Penerangan, Harmoko, yang datang bersama rombongan Bendahara Trenggano Malaysia dan juga Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Bali yang mengunjungi Masjid Mujahidin Loloan Barat. Di sepanjang jalan menuju masjid kita berbaris di kanan dan kiri sehingga rombongan berjalan di tengah menuju ke arah masjid. (ms)

BERSAMBUNG …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *