H. ICHSAN SAPAKIRA, PEMILIK PERUSAHAAN OTOBUS LEGENDARIS DARI LOLOAN (4)

PADA tahun 1927, Jembrana dibawah kekuasaan Hindia Belanda yang dipimpin oleh seorang Controleur bernama JF Bullow, warga Belanda keturunan Jerman. Dan yang menjabat Punggawa adalah I Gusti Ngurah Kompiang Denok dari Jro Pasekan Jembrana. Di tahun tersebut perkebunan coklat milik Jansen (Belanda) di Loloan hasil panen mengalami kerugian. Tanah tersebut lalu dijual kepada tokoh Loloan Timur yang bernama H. Abdurrahim. (6) (H. Abdurrahim memiliki 4 putra, pertama H. Muhammad, kedua H. Ja’far, ketiga Haramin dan keempat Ichsan).

1. Riwayat Bus Sapakira Transportasi Pertamadi Jembrana

Logo bus Sapakira

Abdurrahim menyerahkan pengelolaan perkebunan coklat kepada putra keempatnya yaitu Ichsan. Karena putra keempat bersedia dan memilih menetap di pojok perkebunan coklat di Loloan Barat, Ichsan memboyong istrinya Umi Kalsum dan berumah tinggal di pojok perkebunan coklat tersebut (1905 – 1987). Ichsan muda menetap di pojok perkebunan coklat. Hasil panen coklat dibelikan kendaraan oto bus dan merenovasi rumah tuan Jansen menjadi sebuah hotel yang diberikan nama Hotel Sapakira. Selanjutnya Ichsan membangun usaha transportasi dengan 4 buah bus di tahun 1930 yang melayani jurusan Denpasar-Negara-Banyuwangi sambung jukung.

Bus Sapakira bersama sopir dan kondektur sedang beristirahat

Bus Sapakira tahun 1939 sudah pernah mengantar 20 orang ke Belimbing Sari dengan 2 bus. 100 unit jukung disiapkan oleh bus Sapakira untuk menyeberangkan para penumpang dari atau ke Banyuwangi. Kelancaran transportasi darat pada masa tersebut membuat akses perniagaan di Jembrana semakin berkembang.

Bus Sapakira bersama sopir dan kondektur di rumah H. Ichsan

Sebagai sarana transportasi pertama di Jembrana yang cukup laris membuat jaya sang pemilik, sehingga oleh masyarakat Jembrana dikenal dengan nama Ichsan Sapakira, yang kemudian pada tahun yang sama 1930 juga telah berhasil mendirikan Hotel Sapakira di Jalan Radja (Jalan Raja tahun 1900-1945. Pada tahun 1945-1970 diganti menjadi Jalan Abdullah Sayuti. Pada tahun 1970 – 1985 menjadi Jalan Saestuhadi. Pada tahun 1985 menjadi Jalan Manggis, dan pada tahun 1990 menjadi Jalan Danau Kelimutu hingga sekarang.)

Bus Sapakira dan cover bus Sapakira

Bus Sapakira di tahun 1930 cukup legendaris. Hal itu juga dikemukakan dalam tulisan Pdt I Wayan Sunarya, S.Th. (2009) pada sebuah buku yang berjudul “Lentera di Tengah Hutan Mandurgama: Selayang Pandang Sejarah Blimbingsari (2009). Catatan sejarah berdirinya Desa Kristen Blimbingsari di Kabupaten Jembrana, Bali.

Sapakira sama halnya dengan Soponyono, merupakan sebuah nama perusahaan bus. Bedanya, Soponyono di Jawa, sedangkan Sapakira di Bali. Bus Sapakira sangat populer pada tahun 1930-an, sebagai kendaraan antar daerah swapraja Badung-Jembrana. Pada Juni 1939, bus Sapakira mengangkut sejumlah penumpang khusus. Mereka berangkat dari bangsal Untal-Untal Dalung Gaji pada pukul 10.00 pagi menuju ke Melaya, wilayah Bali Barat. Melaya merupakan sebuah tanah impian bagi para penumpang bus Sapakira yang berjumlah 29 orang” (Sunarya, 2009:1).

2. Menerjemahkan Lontar Bugis

Pada tahun 1950-an, H. Ichsan mengundang temannya yang berasal dari Sulawesi untuk membantunya dalam menerjemahkan lontar peninggalan datuknya yang disimpannya. Gulungan lontar bertempat bambu tersebut berbahasa dan beraksara Bugis kuno. Dari hasil penerjemahan lontar silsilah Bugis tersebut didapatkan mengenai informasi tentang silsilah tokoh-tokoh perintis perkembangan Agama Islam di Loloan Timur dan Loloan Barat, suku Bugis/Makassar dari keturunan Sultan Wajo.

Oleh  H. Ichsan dibuatkan bagan silsilah sebagai berikut :

Bagan Silsilah H. Ichsan Sapakira

3. Buaya Sungai Ijo Gading

Pada masa tahun 1930-1950, sungai Ijo Gading merupakan jalur transportasi serta tempat masyarakat melakukan aktivitas kesehariannya. Sudah banyak masyarakat yang mengadu/melapor ke Pemerintah Hindia Belanda menjadi korban dimakan buaya sungai saat melakukan aktivitasnya. Pemerintah Hindia Belanda menindaklanjuti dengan memburu dan menembaki buaya-buaya tersebut. Akan tetapi komunitas buaya tidak semakin berkurang, karena di masa lalu para buaya tersebut merupakan ranjau hidup menghalau serangan kerajaan luar Jembrana yang menyerang dari arah selatan.

Buaya-buaya sengaja didatangkan oleh orang-orang Bugis-Makassar sebagai pertahanan menghadapi serangan dari jalur perairan, karena jalur perairan merupakan jalur utama transportasi di abad ke-16 di Jembrana. Segala usaha pemerintah Hindia Belanda menghilangkan ancaman gangguan buaya nampaknya sia-sia dan tidak berhasil. Bahkan prajurit Belanda kehabisan persediaan amunisi peluru.

Barulah setelah semakin banyak kurban yang dimakan buaya, diambil inisiatif oleh H. Ichsan Sapakira untuk mengundang pawang buaya dari Bugis Sulawesi, sehingga pada tahun 1950 datanglah 2 (dua) orang pawang buaya tersebut.

Pawang buaya membawa peralatan yang dimilikinya dengan dilengkapi alat pancing buaya berbahan kayu besi dengan di ujungnya dibungkus kait dari bahan kuningan. Kayu besi tersebut panjangnya 2 meter. Usaha penangkapan dan perburuan buaya mulai dilaksanakan. Setiap malam hari hasil tangkapan buaya hanya bisa maksimal, karena mengikuti air pasang dan surut. Setelah sebulan penuh lebih, buaya yang ditangkap hanya sejumlah 28 ekor saja. Sedangkan komunitas buaya masih banyak yang belum tertangkap dengan alat tradisional pancing kayu besi tersebut.

Akhirnya setelah seminggu lebih perburuan menangkap buaya dihentikan, karena para pemburu kelelahan dan sangat menguras tenaga. Ichsan kemudian merenung dan kembali berpikir mencari cara yang lebih efektif tanpa mengeluarkan biaya menyewa para pemburu buaya-buaya sungai tersebut. Ichsan berniat mengundang orang Bugis kawannya dari Sulawesi agar bisa mendatangkan pawang buaya dari Bugis-Sulawesi.

Keinginannya terwujud dengan kedatangan 4 orang pawang dari Bugis-Mandar Sulawesi. Setelah persiapan selesai, maka ke-4 orang Bugis tersebut kemudian berangkat ke Sungai Ijo Gading. Berempat berdiri di pinggir sungai, dan serentak keempatnya komat-kamit membaca mantra khas berbahasa Bugis. Kedua tangan keempatnya serentak diangkat ke atas dan tampak sedang menaburkan sesuatu ke arah sungai.

Selang beberapa menit kemudian, dari berbagai arah berdatanganlah buaya-buaya dari berbagai ukuran. Seperti menyerah, buaya-buaya tersebut pelan-pelan naik ke daratan, dan memasrahkan diri tanpa perlawanan. Serentak para tim penangkap buaya mengikat semua buaya tersebut dengan tali besar.

Terlihat seekor buaya mengeluarkan air matanya. Ukuran buaya tersebut terbesar dari buaya-buaya yang sudah naik ke daratan. Keempat pawang tersebut komat-kamit dan seperti sedang berbicara dengan buaya besar tersebut, buaya yang panjangnya kurang lebih 8 meter berwarna kulit di bagian atasnya berwarna hijau lumut di makan usia dan di bagian bawah berwarna gading. Oleh keempat pawang, buaya tersebut dibiarkan berbalik badan menuju ke selatan.

Semua terheran-heran karena buaya tersebut mengeluarkan air mata, dan menyaksikan pembicaraan yang tidak dipahami antara pawang dan buaya besar tersebut. Setelah selesai keempatnya berbicara bahwa buaya berukuran besar tersebut memohon belas kasihan dan berjanji menjaga jika ada buaya dari daerah lain yang masuk ke sungai Ijo Gading serta buaya tersebut tidak akan menampakan diri lagi ke khalayak manusia dengan tujuan bertapa ke arah hilir sungai Ijo Gading.

Sejak tahun tersebut gangguan ancaman buaya tidak terdapat lagi dan para masyarakat dengan aman melakukan aktivitas hingga sekarang. (Dituturkan langsung oleh Datuk H. Ichsan di Loloan Barat, pada tahun 1983 dan dituturkan kembali oleh H Anwar Iksan Januari 2018).(ms)

Bersambung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *