PENGAMBENGAN, SEJARAH DESA YANG MENJADI PUSAT INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN

PENGAMBENGAN dikenal sebagai sentra industri pengolahan ikan di Kabupaten Jembrana, Bali. Di desa ini banyak berdiri perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pengalengan ikan, penepungan ikan, hingga perebusan ikan untuk dijadikan minyak.

Bagaimana sejarah Desa Pengambengan sehingga menjadi pusat industri pengolahan ikan? Sejak kapan nama Pengambengan muncul? Berikut catatan kecil Budayawan asal Loloan, Eka Sabara.

Dalam Arsif Kantor Controlem vaan Jembrana, Het Adat recht in Bali oleh Tuan Vollen hoven tahun 1931, disebutkan, seorang pejabat Hindia Belanda, Tuan E. Schalk mengadakan inspeksi ke pedesaan-pedesaan kota Negara. Dalam inspeksinya tersebut, Tuan E. Schalk mewajibkan rakyat mengadakan pesta besar menyambut surat Beslit itu setelah diadakan pelantikan-pelantikan jabatan-jabatan berdasarkan sumpah setia kepada Pemerintah Hindia Belanda.

Ia juga membentuk sebuah kantor pengadilan yang dinamakan Raad van Kerta, terdiri dari hakim, jaksa manca, beberapa anggota lid (yuri). Khusus di bidang agama dan hukum adat diputuskan oleh Ida Pedanda Agung untuk yang beragama Hindu. Dan seorang penghulu untuk umat Islam.

Perahu-perahu di Pengambengan. Foto: Eka Sabara

Pada tahun 1850, Tuan E. Schalk mengadakan sensus penduduk (cacah jiwa). Ia menugaskan kepada pejabat di Dinas Topografie di Kerajaan Jembrana untuk melakukan pemetaan. Hasil sensus Tuan E. Schalk 1850 di Kerajaan Jembrana, yakni 1. Kerajaan Jembrana terdiri dari 2 (dua) distrik, yaitu Distrik Negara dan Distrik Jembrana. 2. Luas kilometer dari 2 (dua) distrik Negara dan Jembrana, yaitu luas 40 kilometer persegi. 3. Jumlahseluruh penduduk Kerajaan Jembrana 27.300 jiwa.

4. Jumlah desa Kerajaan Jembrana terdiri dari 21 (dua puluh satu) desa, yang terdiri dari lima belas desa beragama Hindu/Bali dan enam desa beragama Islam, yakni Loloan Barat, Loloan Timur, Air Kuning, Banyubiru (Yeh Anakan), Cupel dan Pengambengan. 5.Jumlah penduduk di kota Negara tercatat 2.923 jiwa. 6. Jumlah sawah 3.765 ha. 7. Di kota Negara/Jembrana Loloan Barat cacah jiwa penduduk Islam berjumlah 892 jiwa, Cina 0, Arabia 17 dan di empat desa Islam lainnya penduduknya hanya 758 jiwa. Jumlah total 1667 jiwa. (Sumber manuskrip I Wayan Reken yang berjudul Private Secretary of Archeologie and History of Antiquity at Regional Jembrana Historical Society 1979).

Sejak pelaksanaan sensus yang dilakukan Tuan E. Schalk itulah muncul nama Desa Pengambengan. Hal itu juga diperkuat dalam sebuah catatan pemerintahan Belanda (VOC) tertulis pada tahun 1860, bahwa dari 29 desa di Jembrana, empat desa teruntuk desa-desa orang Islam Bugis, yakni desa-desa Air Kuning, Banyubiru, Pengambengan, dan Loloan dengan kepala desa masing-masing: Ider, Kamar, Bun, Mustika.

Mereka juga telah menjadi anggota subak yang aktif sekaligus turut mengurusnya. Sehingga nama kepala desa yang menjabat saat itu di Desa Pengambengan dapat terungkapkan.

Pada tahun 1860 Masehi, tercatat 4 desa di Jembrana yang kepala desanya dipimpin oleh orang Islam yaitu 1. Desa Loloan dengan perbekel Pan Mustika. 2. Desa Banyubiru dengan perbekel Pan Kamar. 3. Desa Air Kuning dengan perbekel Pan Ider. 4. Desa Pengambengan dengan perbekel Pan Bun.

Jadi, Desa Pengambengan secara resmi telah tercatat saat sensus Tuan E. Schalk pada tahun 1850 Masehi dengan 21 desa di Jembrana. Dan nama Kepala Desa Pengambengan tercatat pada tahun 1860 Masehi dengan 29 desa lainnya di Jembrana.

Dikutip dari tulisan Eka Sabara dalam buku “Sejarah Pesisir Pengambengan 2019”, sejarah booming atau melimpahnya ikan lemuru juga pernah terjadi pada tahun 1970-an. Hal itu sempat menimbulkan permasalahan pemasaran bagi para nelayan di Desa Pengambengan saat itu.

Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Jembrana pada tahun 1977, Letkol Liek Rochadi (28 Juli 1975-26 Agustus 1980), akhirnya memediasi semua pemangku kepentingan yang terkait (nelayan, belantik, pengepul dan lain-lain), dan menyepakati bahwa pemasaran ikan dikelola melalui Koperasi Unit Desa. Selanjutnya, pemerintah bersama masyarakat mendirikan Koperasi Unit Desa (KUD) yang diberi nama Mina Karya, dan membangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Hampir bersamaan dengan didirikannya KUD Mina Karya dan TPI, maka bermunculan industri-industri pengolahan ikan di Desa Pengambengan, yang bergerak di bidang pengalengan ikan, pengepulan, dan perebusan ikan (minyak). Wilayah berdirinya KUD dan TPI ini merupakan cikal bakal perjalanan panjang dari riwayat Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan seperti yang ada sekarang ini. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *