H.R. SOEHARYO, PAHLAWAN DI JALAN SUNYI

H.R. SOEHARYO (1918-2007) adalah pahlawan di jalan sunyi. Ia sosok riwayat yang tersembunyi. H.R. Soeharyo lahir di Kampung Pertukangan, Loloan Barat, 28 Oktober 1918.

Semasa hidupnya, H.R. Soeharyo terlibat Class Action I dan II 1949 atau sering disebut Peristiwa Aksi Militer Kesatu dan Aksi Militer Kedua. Atas jasanya, Menteri Pertahanan RI pada tahun 1958 menganugerahi 2 piagam penghargaan sekaligus kepada H.R. Soeharyo. Kedua penghargaan tersebut yaitu Surat Tanda Penghargaan Satyalantjana Nomor 96976 dan 66983 yang dikeluarkan oleh Menteri Pertahanan RI saat, Djuanda, yang menyatakan bahwa H.R. Soeharyo sebagai Anggota Veteran Nusra.

Dua orang anak buah H.R. Soeharyo, yang bernama Sayuti dan Malik, gugur pada saat meledakkan Tangsi Jepang 1945. Juga dua orang pemuda bersaudara anak buahnya yang berasal dari Dusun Muara, Pengambengan yang bernama Sunaeri dan Suhaeri gugur di tahun 1945.

Dari Desa Pengambengan, selain kedua pemuda bersaudara tersebut, tercatat sebagai Pejuang 45  yaitu pejuang wanita yang bernama Sahra Mak Abdurrahman dengan Nomor Veteran 13.017.663 SKEP/1672/XI/1992, yang juga dari Dusun Muare Pengambengan. H.R. Soeharyo wafat di usia 89 tahun pada tanggal 25 Juli 2007. Di hari akhirnya, beliau berpesan kepada anak-anaknya agar dimakamkan di pemakaman umum Kuburan Terusan Loloan Barat. Sebuah pilihan dari sang Pahlawan untuk memilih di jalan sunyi. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *