H. BASUNI BIN H. HAMZAH, KEPALA DESA LOLOAN BARAT 1930-1940 (3)

H. BASUNI adalah anak keempat dari pasangan H. Hamzah dengan Ahdiah bin H. Thoyib yang lahir di Loloan Barat. Sementara H. Hamzah merupakan anak pertama dari H.M. Khotib. Jadi H. Basuni adalah cucu dari H.M. Khotib, seorang ulama Loloan pada abad ke 18 Masehi. H. Basuni menjabat sebagai kepala Desa Loloan Barat tahun 1930 – 1940.

  1. Loloan di Masa Hindia Belanda 1910

Pada tahun 1910 perniagaan di Bandar Loloan semakin masyhur di Jembrana. Bandar Loloan adalah tempat berlabuh-nya kapal-kapal dagang antar pulau yang membongkar muat barang dagangan. Sementara Pelabuhan Teluk Bunter dipergunakan untuk bongkar muat minyak kelapa dan garam. Kemajuan Loloan sebagai pusat perniagaan memunculkan banyak saudagar dari Loloan Timur dan Loloan Barat, di antaranya Syekh Baabud, Syarif Salim Al Habsyi, Sayid Ahmad Al Habsyi, Oei Kian Tjiang (meninggal waktu wabah influensa), Oei Gwat Lian (meninggal waktu wabah), Tjan Tok Kiong. Tan Than Jien, Haji Ahmad, H. Basuni bin Hamzah, seorang saudagar sukses yang tinggal di kampung Cempake, Loloan Barat[1].

Sejak usia muda beliau telah mempunyai sebuah gagasan untuk memudahkan masyarakat barat sungai Loloan untuk melaksanakan ibadah sholat Jumat. Pada saat itu masjid terletak di sisi timur sungai Loloan. Kesulitan beribadah terutama disebabkan karena jembatan kayu dan bambu yang menghubungkan timur sungai dengan barat sungai sering hanyut karena dihantam banjir besar.

Dalam keadaan demikian, jamaah dari barat sungai yang hendak beribadah sholat Jumat harus menyeberang dengan naik sampan kecil, atau bersabar menunggu air surut, karena menyeberang disaat air pasang sangatlah berbahaya mengingat sungai Loloan banyak dihuni oleh buaya. Hal inilah yang melatarbelakangi niat H. Basuni untuk membangun sebuah masjid di barat sungai.

Pada saat itu Loloan belum terpisah-pisah seperti sekarang ini, belum ada Loloan Barat dan Loloan Timur, masjid hanya satu satunya berada di Loloan (yaitu Masjid Baitul Qodim Loloan Timur). Semua umat Islam Loloan, baik yang berada di timur sungai maupun di barat sungai Ijo Gading, bersembahyang di Masjid Baitul Qodim. (Monografi Masjid Mujahidin 1994;8). Untuk menghubungkan timur sungai dengan barat sungai masyarakat Loloan membangun sebuah jembatan kayu yang selesai dibangun pada tahun 1901 Masehi.[2]

Sekitar tahun 1915 Masehi terjadi banjir besar yang mengakibatkan jembatan kayu yang sudah berusia 14 tahun tersebut rusak dihantam derasnya banjir saat itu. Peristiwa tersebut menjadi kendala baru bagi umat Islam di barat sungai untuk menyeberang ke timur sungai, terutama akan menunaikan ibadah sholat Jumat. [3]

Setelah menjadi saudagar sukses pada tahun 1910, H. Basuni memberanikan diri mendirikan sebuah masjid hanya dengan bermodal 100 cent mata uang Hindia Belanda.[4] H. Basuni mulai merintis pembangunan masjid di atas gabungan tanah wakaf dari H. Noor dan ditambah tanah wakaf oleh H. Basuni. Pembangunan dilakukan bersama dengan saudaranya yang pertama H. Amin bin Hamzah dan saudaranya yang kedua H. Usman bin Hamzah, serta adiknya yang terkecil H. Zaini bin H. Hamzah.

Ide lokasi pembangunan masjid didapatkan oleh H. Basuni saat kedatangan adiknya yang terkecil yang bernama H. Zaini ke rumahnya di Kampong Cempake. H. Zaini bin H. Hamzah menyampaikan kepada abangnya, yaitu H. Basuni, bahwa mak mertuanya yang bernama Hajjah Halimah hendak mewakafkan sebidang tanah. Luas tanah almarhum suami dari Hj. Halimah yang bernama H. Noor diwakafkan seluas 23 are[5] dan ditambahkan wakaf pribadi dari H. Basuni seluas 27 are untuk masjid dan 20 are untuk jalan depan masjid dan lokasi kantor Desa Loloan Barat. Maka H. Basuni memulai pembangunan masjid tersebut dengan modal pribadi yang dimilikinya di atas tanah wakaf tersebut dan dengan bantuan dana dari ketiga saudarannya juga.

Gb, 7.6-7 H. Basuni

Pembangunan masjid pada masa awalnya mengalami banyak penolakan dari beberapa anggota masyarakat yang tidak setuju, dengan alasan bahwa masjid besar sudah berdiri di sisi timur sungai. Kendati ada penolakan, H. Basuni tetap melanjutkan pembangunan karena beliau memiliki pandangan ke depan, bahwa masyarakat Loloan di barat sungai akan semakin bertambah, sehingga di masa depan, jamaah tidak akan dapat ditampung di dalam masjid yang sudah ada. Maka pada hari Jumat, tanggal 15 Desember tahun 1916, masjid tersebut diresmikan oleh keempat bersaudara, dengan memberikan nama sesuai nama yang mewakafkan, yaitu H. M. Noor, sehingga masjid di barat sungai Loloan dinamakan Masjid Noor.

Keberadaan Masjid Noor diperkuat oleh penuturan dari K.H. Achmad Damanhuri pada ceramah peringatan 100 tahun Masjid Mujahidin dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1437 Hijriyah, yang dilaksanakan selesai sholat subuh berjamaah pada Minggu, 16 Desember 2016. Katanya Masjid Mujahidin dulunya bernama Masjid Noor, didirikan pada tahun 1916 oleh H. Basuni bin Hamzah”, saat itu penulis hadir dalam acara tersebut.

Pada tahun 1922, berkat ketekunannya, perniagaan Haji Basuni semakin berkembang pesat, sehingga Haji Basuni, termasuk seorang hartawan baru di kota Negara, bersamaan dengan para hartawan yang juga mulai bermunculan antara lain Syech Ba’abud, Syarif Salim Al Habsyi, Sayid Achmad Al Habsyi, Oei Kian Tjian, Oei Gwat Lian, Tan Thiam Djien, Haji Achmad[6]. Beberapa bidang tanah mulai diwakafkan untuk perluasan area Masjid Noor oleh H Basuni, juga tanah bekas Kantor Desa Loloan Barat lama di jalan masjid merupakan wakaf dari H. Basuni untuk Masjid Noor.

Gb. 7.8 Rumah panggung tempat tinggal H. Basuni di Kampung Cempaka

Pembuatan jalan menuju masjid dengan aspal yang dimasak dan ditaburkan batu-batu kerikil juga dilaksanakan dan dibiayai oleh H. Basuni.

2. Peranan Masjid Noor Loloan tahun 1942-1945

Pada masa perjuangan, Masjid Noor merupakan basis bertemunya para pejuang dari berbagai desa yang ada di Kecamatan Negara, karena Raden Soeharyo sebagai komandan para pejuang saat itu mengatur strategi bersama para Takmir Masjid Noor, yaitu H. Amin bin H. Hamzah, H. Usman bin H. Hamzah, dan H. Zaini bin H. Hamzah yang mendukung penuh gerakan para pemuda pejuang tersebut. Bahkan cucu H. Amin bin Hamzah yang bernama Abdillah bin H. Sayuti dengan sahabatnya yang bernama Salim bin Malik (Salim Gebres) saat itu merupakan pemuda yang rela mengorbankan nyawanya untuk meledakkan tangsi gudang amunisi Jepang.

Setelah peristiwa tersebut Jembatan Kayu Loloan dinamakan Jembatan Sayuti Malik (nama kedua orang tua dari dua orang pejuang yang gugur di masa revolusi, untuk mengobati kesedihan hati dari kedua orang tua pejuang tersebut). Bahkan nama jalan di Loloan Barat dinamakan Jalan Sayuti Malik. Peristiwa tersebut tepatnya pada tanggal 13 September 1945.

3. Riwayat Penamaan Masjid Mujahidin

Pada tanggal 10 November 1960, semua kerangka para pejuang kemerdekaan yang telah gugur di tahun 1945 dikumpulkan dari berbagai desa yang ada di Negara. Sejumlah 22 kerangka syuhada (pahlawan) berhasil dikumpulkan berjajar di halaman Masjid Noor Loloan. Saat pemindahan jenazah para syuhada/pahlawan tersebut bertindak selaku ketua, HR Suharyo, didampingi oleh sekretarisnya I Nyoman Nirba.

Pemakaman para pahlawan dipindahkan di Tamam Makam Pahlawan Negara, dimana sebelum pelaksanaannya, terlebih dahulu para pahlawan disemayamkan di Masjid Noor Loloan Barat, yang disaksikan oleh Gubernur Kepala Daerah Provinsi Bali, AA Gede Sutedja, Bupati Kepada Daerah TK II Jembrana, Ida Bagus Gede Doster, Danres Jembrana, AA Bagus Karang.[7] Sesudah pelaksanaan sholat ghaib bersama para tokoh masyarakat Loloan, maka pemberangkatan para mujahid/pejuang yang telah gugur tersebut diiringi oleh tembakan salvo dari TRI serta dikawal pasukan sampai ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Negara yang baru selesai tahun tersebut.

Tokoh-tokoh Loloan yang hadir saat itu, yaitu antara lain, KH Ustad Ali Bafaqih, KH Moh Yatim, Raden Suharyo, H. Usman, H. Ali, H. Moh. Baijuri, Ridwan H. Basuni, H. Ichsan Sapakira, H. Umar. Dari golongan muda, H. Hambali, Zen Harun, Mustafa Al Qadri, Nur Yasin, Hasan Kiklung, H. Nur Zaini, Abdul Kadir Bin H Ichsan, H. Ali Baraas, Moch. Ikhsan wak tukang, H. Munif, Abdul Majid, Suni, H. Yusuf, Kepala Desa Loloan Barat Agus Usman, serta Bupati Jembrana I Gede Doster. Sejak saat itu para tokoh bersepakat untuk mengganti nama Masjid Noor menjadi Masjid Mujahidin.

Gb. 7.10-11 Rekaman peristiwa pemindahan kerangka jenazah para pejuang ke Taman Makam Pahlawan Negara.

5. Kepala Desa Loloan Pertama di Masa Hindia Belanda

Pada 1930, Raden Hardjodisumo selaku Pembekel Loloan (Camat), mengangkat H. Basuni sebagai Kepala Desa Loloan Barat. Karena pada saat itu dinilai bahwa H. Basuni merupakan saudagar yang tergolong sukses dan juga memiliki jaringan dan hubungan yang luas dengan berbagai pihak.

Selain itu, Raden Hardjodisumo juga menilai keberhasilan H. Basuni yang telah mampu memimpin pembangunan sebuah masjid di barat sungai pada tahun 1816 Masehi. H. Basuni menerima amanat tersebut dengan tetap melakukan aktivitas perniagaannya sebagai seorang saudagar.

6. Muhammadiyah Pertama Berdiri di Bali 1932

Sejak menjabat sebagai Kepala Desa Loloan di tahun 1930-an, maka H. Basuni sering dikunjungi para tamu-tamu yang datang dengan kepentingan berniaga maupun sosial lainnya di rumahnya. Baik yang hanya datang sehari maupun yang menginap beberapa malam lamanya, sebelum melanjutkan perniagaannya ke wilayah kabupaten lain di Bali.

Dalam berniaga, sudah tentu H. Basuni sering melakukan perjalanan keluar pulau, baik ke Banyuwangi, Malang maupun kota Solo yang pada waktu merupakan pusat bisnis perdagangan di masa Hindia Belanda. Tepat di tahun 1932, H. Basuni didatangi oleh beberapa tamu yang datang dari Banyuwangi dan Solo. Rombongan tamu tersebut meminta ijin menginap beberapa bulan lamanya, dan juga meminta ijin untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah di Jembrana. Sehingga pada akhir tahun 1932, organisasi Muhammadiyah resmi berdiri di Kabupaten Jembrana. Selama dua tahun Muhammadiyah Jembrana semakin berkembang dan diterima di Kota Negara.[8]

Menurut versi lain, Muhammadiyah Jembrana berdiri tahun 1934, seperti yang dituturkan tokoh Muhammadiyah Buleleng dalam acara Sambung Rasa. Tokoh tersebut memaparkan Muhammadiyah Buleleng berdiri yang kedua di Bali, yakni 1939, setelah di Kabupaten Jembrana pada tahun 1934. Bahkan tokoh Muhammadiyah Buleleng tampil sebagai pejuang kemerdekaan, yakni H. Anang Ramli, yang merupakan anggota pasukan I Gusti Ngurah Rai, yang berjasa merobek warna biru bendera Belanda menjadi berwarna Merah Putih di Pelabuhan Buleleng, tegas Amoeng A. Rachman di Forum Sambung Rasa Ummat sebelum Musda IX Muhyammadiyah Buleleng.[9]

Gb7.15 Daftar Kepala Desa Loloan Barat 1930 -1980


[1]Reken I Wayan, “Perniagaan Nengah Gedjer ;10;1960

[2]Husin Djabbar; Syarif Tua dan Perjuangannya,2010;4-5

[3]Monografi Masjid Mujahidin;1994;10

[4] Penuturan lisan Hj.Safiah binti H.Usman kepada penulis 1989.

[5]Penuturan lisan H.Husin bin H.Nur Zaini kepada penulis 2017.

[6] Reken I Wayan, Perniaggaan Nengah Gedjer; 1960: 10.

[7] Monografi Masjid Mujahidin, 1994;14

[8] Sumber penuturan lisan dari beberapa keluarga besar H. Basuni

[9] Republika online, 21 Pebruari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *