TRADISI LOKAL BERKONTRIBUSI JAGA KERUKUNAN ANTAR-UMAT BERAGAMA DI JEMBRANA

JEMBRANA – Tradisi lokal dapat berkontribusi dalam menjaga kerukunan antar-umat beragama melalui penghormatan terhadap kebudayaan dominan setempat. Komunitas Hindu-Muslim di Jembrana mempraktikkannya dalam tradisi ngejot, male dan rebana.

Hal itu disampaikan Budayawan asal Loloan, Negara, Eka Sabara, saat menjadi pembicara dalam Lokakarya Dakwah Profetik Islam Wasathiyyah di Pulau Dewata dalam Bingkai Sejarah di Negara, Selasa (3/11/2020). Tampil sebagai pembicara pada acara tersebut selain Eka Sabara, Budayawan IDK Dharma Santika Putra dan Dosen STIT Jembrana, Shohabil Mahalli. Eka Sabara menyampaikan materi “Sejarah Islam di Jembrana Bali”.

Dipaparkan, Hindu-Muslim di Jembrana memiliki historis yang sangat panjang di masa silam. Antara kedua pemeluk agama tersebut terjadi hubungan yang diperkuat melalui praktik tradisi lokal. “Tradisi lokal tidak bisa dilepaskan dari apa yang disebut dengan kearifan lokal (local wisdom) sebagai kebudayaan dominan yang berlaku di masyarakat Bali sebagai acuan dalam bertingkah laku,” katanya.

Eka Sabara

Dijelaskan, orang Bali umumnya memiliki beberapa prinsip kearifan lokal seperti ungkapan nyame Selam/Bali/Hindu (saudara Islam/Bali/Hindu), menyama braya (menganggap orang lain sebagai saudara sendiri), metetulung (saling menolong) baik diminta (ngidih tulung) atau tidak diminta (mesuaka), paras-poros (tradisi saling meminjam), nandu, ngadas, mekadasang (menggarap sawah atau hewan ternak), ngayah (gotong-royong) dan lainnya. Kearifan lokal itulah yang kemudian diwujudkan dalam berbagai praktik tradisi yang mencerminkan kerukunan antar etnis dan agama di Bali.

Menurut Eka Sabara, masyarakat Muslim di daerah Jembrana memelihara berbagai tradisi adat budaya tersebut di tengah perkembangan jaman dan teknologi yang amat pesat. Pemeliharaan dan pemertahanan tradisi budaya dapat terjadi karena masyarakat Muslim di daerah Jembrana memadukan adat budaya dengan aspek keagamaan dan tahapan-tahapan dalam kehidupan mereka. Tradisi budaya ini berkembang menjadi ciri unik yang menjadi bagian dari identitas keberadaan masyarakat Bugis-Makassar di wilayah ini.

Tradisi budaya yang masih terpelihara baik di dalam masyarakat Muslim Jembrana dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok: 1. Tradisi budaya yang berkaitan dengan peringatan hari keagamaan antara lain adalah Ninjo Haji, Tradisi Nyure, dan Tradisi Nyapar. 2. Tradisi budaya yang berkaitan dengan upacara tahapan kehidupan manusia, dari anak dalam kandungan, menikah hingga meninggal dunia. 3. Tradisi budaya yang berkaitan dengan kehidupan sosial bermasyarakat seperti ngejot, kesenian rebana, joget janturan. 4. Tradisi budaya yang berkaitan dengan perkembangan pengetahuan dan mata pencaharian seperti menangkap ikan di lautan.

“Tradisi lokal ngejot merupakan simbol kebersamaan umat Islam dengan umat Hindu di Jembrana. Tradisi ini dinyatakan dalam bentuk mengantarkan makanan oleh pemeluk agama yang hendak berhari raya kepada tetangga yang memeluk agama berbeda,” jelasnya.

Dengan mengantarkan makanan antar pemeluk agama di hari-hari besar keagamaan, diharapkan tradisi ini dapat mempererat tali persaudaraan dan rasa kebersamaan antara satu sama yang lain. Kebersamaan ini juga terjalin hingga hubungan sosial ekonomi. Orang Islam menggarap tanah milik pemeluk agama lain, begitu pun juga sebaliknya.

Menurut Eka Sabara, meskipun tradisi ngejot, male, dan rebana terebut berasal dari agama tertentu, tetapi kedua komunitas agama (Hindu dan Islam) berusaha turut terlibat di dalamnya. “Komunitas Hindu-Muslim sama-sama menyadari pentingnya keterlibatan mereka dalam tradisi lokal tersebut,” paparnya.

Eka Sabara juga mengingatkan pentingnya penghormatan terhadap kebudayaan dominan yang dilakukan oleh minoritas Muslim ketika melaksanakan tradisi agamanya. Menurutnya, meski tradisi male dan rebana misalnya, bersumber dari tradisi Islam, tetapi pengaruh kebudayaan dominan mampu mendorong terjadinya penyesuaian dengan adat Bali sehingga kerukunan lebih mudah terjaga.

Sementara dalam kearifan lokal “Menyame Braye”, kaum Muslim memahami posisinya untuk menjaga dan menghormati kebudayaan dominan yang dianut oleh mayoritas umat Hindu di Jembrana Bali, dengan hidup bersama berdampingan penuh kekeluargaan. Tanpa adanya penghormatan terhadap kebudayaan dominan setempat, relasi antar etnis dan agama boleh jadi mengarah pada persaingan yang dapat berujung pada pertentangan dan konflik, sebagaimana terjadi di beberapa daerah konflik di Indonesia.

“Karenanya, kebudayaan dominan menjadi salah satu kunci penting dalam memahami tradisi serta kearifan lokal dalam konteks perbedaan etnis dan agama. Sebuah perspektif yang mendudukkan keragaman tradisi dan kearifan lokal sebagai lambang komunikasi antar budaya dan agama di Indonesia,” jelas Eka Sabara. (ms)