MAULID NABI DI MASJID AL-MUJAHIDIN SINGARAJA PENUH SIMBOL KEBERSAMAAN

SINGARAJA – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW digelar Takmir Masjid Al-Muhajidin Jalak Putih Singaraja, Minggu (1/11/2020). Kegiatan dengan tema “Dengan Cinta dan Teladan Rasulullah Muhammad SAW , Kita Wujudkan Masjid sebagai Pusat Peradaban dan Pemberdayaan Umat Islam Berdasar Al-Quran dan A-Hadits” tersebut penuh dengan simbol kebersamaan.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Mujahidin Singaraja diwarnai dengan Lomba Pajegan Telur. Selain itu, juga diisi dengan pengajian umum yang menghadirikan penceramah KH Toha Muntaha Abdul Mannan, Pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thullab, Krikilan Glenmore, Banyuwangi.

Simbol kebersamaan tampak dalam pengamanan acara tersebut. Ada tiga komponen yang ikut mengamankan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yakni Pecalang dari desa adat setempat, Banser dari NU, dan Kokam dari Muhammadiyah. Yang hadir dalam acara adalah jamaah warga beserta tokoh masyarakat Jalak Putih Singaraja.

“Kami juga melibatkan pecalang. Masjid adalah rumah bagi semua, apalagi Kokam dan Banser merupakan potensi yang menguatkan masjid. Semua bersama, semua bersatu,” kata Ketua Takmir Masjid Al-Mujahidin Jalak Putih Singaraja, Dr. Suratmin, S.Pd., M.Or.

Yang menarik juga dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Mujahidin Jalak Putih Singaraja yakni Lomba Pajeggan Telur. Menurut Dr. Suratmin, lomba tersebut diikuti jamaah dari warga Jalak Putih dari semua gang yang ada. Dikatakan, Lomba Pajeggan Telur dilaksanakan untuk menyampaikan pesan kebersamaan, kebersamaan dan persatuan. “Juga berbagi manfaat bagi semua makhluk di alam,” jelas Dosen Jurusan Olahraga Undiksha Singaraja ini.

Dijelaskan, kriteria penilaian Lomba Pajeggan Telur antara lain keserasian bentuk dan warna, kreativitas, mengandung makna, dan keindahan. Untuk lomba tersebut, panitia menghadirkan tiga juri, yakni Dr. Drs. I Ketut Supir, M.Hum. (Ketua Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha Singaraja, Dra. Luh Suartini, M.Pd. (Sekretaris Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha Singaraja, dan Dra. Damiati, M.Kes (Dosen PKK Undiksha Singaraja).

Salah seorang juri, Dra. Luh Suartini, mengatakan, pajegan telor yang diikutkan dalam lomba cukup bagus. “Ada ikon-ikon yang unik. Simbol-simbol agama dan lokal berkolaborasi,” katanya. Menurutnya, hiasan mauludan tersebut memakai istilah lokal “pajeggan”. “Ini menarik karena di dalamnya ada muatan toleransi dan adaptasi terhadap lingkungan terdekatnya yaitu Bali. Di Bali sendiri pajeggan adalah media persembahan kepada Tuhan,” jelas Luh Suartini. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *