RADEN HARDJODISUMO, CAMAT LOLOAN DI JAMAN BELANDA (2)

RADEN Hardjodisumo lahir di Ponorogo pada bulan Pebruari 1883 Masehi. Putra dari Raden Soemohandjojo, seorang pegawai pemerintahan Belanda di Kabupaten Ponorogo, yang pada saat itu termasuk dalam wilayah Keresidenan Madiun. Raden Hardjodisumo mendapatkan tugas pertama sebagai asisten penulis (hulpscrijver) dalam pemerintahan Belanda, dan ditempatkan sebagai pengabdi pada Kanjeng Paduka Tuan Assisten Residen Banyuwangi L Van Weelderen, dari tanggal 25 Juli 1901 sampai dengan Januari 1907.

Karena menunjukkan kinerja yang baik dan rajin, beliau kemudian dipindahkan menjadi cislandsgevangenis (pegawai penjara negara) di Singaraja, pada tanggal 28 Pebruari 1908.[1]Raden Hardjodisumo banyak terlibat dalam pembangunan, sehingga pada tanggal 4 Mei 1910 beliau mendapatkan penghargaan ucapan terima kasih berkat jasanya berpartisipasi menjaga pembuatan pembangunan  jalan raya dari Singaraja hingga Pabean.[2]

Pada tanggal 5 Juli 1918, Raden Hardjodisumo diangkat menjadi Pembekel kepala masyarakat Mohammaden  (sebutan untuk masyarakat Islam pada masa pemerintahan Belanda). Jabatan Pembekel pada masa tersebut adalah setingkat Camat pada saat ini, dengan wilayah kerja untuk masyarakat Islam dari Pulukan di wilayah timur hingga ke Rening di wilayah barat (Pembekel Hoofd der Balische Mohammadanen and re Vreemde oosterling in de ofder afdeeling Jembrana ).[3]

Catatan riwayat  Raden Hardjodisumo sebagai Pembekel/Camat di masa pemerintahan Belanda. Sumber  arsip, R. Azhari- Peb.2017

Raden Hardjodisumo sekeluarga saat sebagai Pembekel/Camat Loloan di masa pemerintahan Belanda (Sumber:R. Azhari-Peb.2019).

Rumah Pembekel Hardjodisumo (Pembekel zaman Belanda setingkat Camat ), juga sekaligus sebagai rumah kelahiran R.Suharyo di Kampung Pertukangan Desa Loloan Barat (Sumber: dokumentasi R. Azhari, difoto ulang oleh penulis pada tanggal 8 Pebruari 2017).

Mendirikan Kantor Kenaiban Agama Islam di Kecamatan Negara 1918 Masehi

Sebagai seorang Pembekel (Camat) di masa pemerintahan Belanda,  yang diberi wewenang dan tugas khusus untuk mengurusi segala aktivitas masyarakat Muslim Jembrana, maka dalam urusan keagamaan Islam, Raden Hardjodisumo mendirikan kantor Kenaiban Agama Islam di Kecamatan Negara yang berlokasi di Kampung Terusan Loloan Barat, dan juga mengangkat seorang Penghulu sebagai koordinator naib di kantor Kenaiban. Penghulu yang diangkat oleh Raden Hardjodisumo semasa sebagai Pembekel Loloan yaitu antara lain H. Noor, Penghulu/ Koordinator Naib  tahun 1918–1925, H. Abdul Halim, Penghulu/Koordinator Naib  tahun 1925–1930, Tuan Guru Ramli, Penghulu/Koordinator Naib  1930–1938, dan H. Amin bin H. Aminullah, Penghulu/Koordinator Naib tahun 1938.

Tugas-tugas dari Kantor Kenaiban yang dilaksanakan oleh pejabat penghulu di masa pemerintahan Belanda antara lain mengurus pernikahan, talak, rujuk, mengurus masjid, zakat, wakaf, bagi waris, dan ibadah sosial. Kantor Kenaiban Kecamatan Negara, lembaga ini dibawah pengawasan residen Belanda, yang pegawainya memiliki penghasilan dari biaya-biaya pelaksanaan pernikahan, talak, rujuk yang dihimpun dalam satu kas kenaiban. Kantor Kenaiban inilah merupakan sebagai cikal bakal dari Kantor Urusan Agama Islam di masa sekarang.

Perintis Pemakaman Umum Terusan 1923 Masehi

Saat menjabat sebagai Pembekel (Camat) di masa pemerintahan Belanda, Raden Hardjodisumo berjasa telah merintis tempat pemakaman umum untuk orang Jawa dan Madura yang datang ke Jembrana pada tahun 1923, karena di tahun tersebut Raden Hardjodisumo diangkat menjadi Dewan Negara.[4] Kompleks pemakaman umum untuk orang Jawa dan Madura terletak sebelum Pelabuhan Teluk Bunter, sekarang termasuk Terusan Loloan Barat.

Pada tahun 1930, Raden Hardjodisumo mengangkat H. Basuni sebagai Kepala Desa Loloan Barat,[5] dan juga pada tahun tersebut mengangkat Tuan Guru Muhammad Ramli sebagai Penghulu di Kantor Kenaiban Negara. Sedangkan pada tahun 1938 H. Amin bin H. Aminullah diangkat sebagai Penghulu di Loloan Barat.[6]

Sebelum pensiun, Raden Hardjodisumo sempat ditugaskan sebagai penasehat pengadilan distrik di dalam onder afdeeling Djembrana untuk bangsa Bali Islam, sesuai Besluit No. 1/10 tanggal 21 Agustus 1937.

Raden Hardjodisumo pensiun pada bulan April 1938 di usia 55 tahun sesuai surat residentsbesluit ddo 29/4-38/ No P/12/3/11 dari Controleur Van Djembrana yang berbunyi “Raden Hardjodisumo sebagai Pembekel Islam Loloan atas permohonannya diberhentikan dengan hormat dari jabatannya dimulai pada penghabisan bulan April 1938”. Arsip Controleur Van Djembrana nomor 2269/21[7]

Jaman Hidup Segobang Sehari

Di tahun 1925 sampai dengan tahun 1926 merupakan masa-masa tersulit rakyat Jembrana. Akibat krisis “Malaise”, perdagangan dunia mengalami goncangan yang hebat dengan jatuhnya harga barang-barang di pasaran karena kelebihan produksi. Barang-barang dari Amerika, Eropa dan Asia membanjiri pasaran dunia, bahkan Jepang menerapkan politik “dumping”’, menjual semurah-murahnya hasil produksinya untuk merebut pasaran dunia.

Banyak barang-barang yang macet, bahkan Brazil membuang ke laut kopi hasil produksinya pada tahun-tahun tersebut. Begitu juga dengan pemerintahan Hindia Belanda, tidak mendapatkan pasaran dunia, sehingga terpukul kekurangan keuangan negara.

Berbagai macam peraturan diterapkan Belanda pada daerah jajahannya. Rakyat Indonesia harus ‘hidup segobang sehari’, peraturan yang sangat terkenal pada tahun-tahun tersebut. Kota Negara juga mengalami krisis tersebut. Banyak toko dan usaha yang jatuh pailit. Pertama disebabkan kejatuhan harga barangnya dan kedua karena “pajak perang“ (oorlogs winst belasting) (3).

Peraturan Kolonial Belanda yang terkenal “hidup segobang sehari” juga diterapkan di Kota Negara. Banyak rakyat mengalami kehidupan yang susah untuk makan sehari-harinya hanyalah dengan nasi cengkaruk (nasi yang berasal dari sisa-sisa nasi yang dijemur hingga kering). Pakaian juga dari karung goni, bekas tempat beras umum dipergunakan.

Hari-hari Raja di Kota Negara

Pada Hari-hari Raja, kawasan Pasar Loloan di barat sungai Ijo Gading tampak lebih ramai dibandingkan hari-hari biasa, karena merupakan hari pasaran para pedagang dari berbagai pelosok Jembrana berdatangan untuk melakukan transaksi menjual barang dagangannya. Raja dengan para pengiringnya hadir mengunjungi pusat perniagaan tersebut memantau langsung aktivitas rakyat Jembrana. Kemudian melanjutkan plesiran ke kawasan Pelabuhan Teluk Bunter mengontrol syahbandar dan beristirahat siang di Kantor Pelabuhan Teluk Bunter.

Hal rutin setiap sebulan sekali raja turun memantau aktivitas melalui jalan tersebut sehingga terkenal dengan sebutan Jalan Radja. Sebuah jalan dari timur Puri Negara lurus ke arah selatan(Jalan Raja tahun 1900-1945. Pada tahun 1945-1970 diganti menjadi Jalan Abdullah Sayuti. Pada tahun 1970 – 1985 menjadi Jalan Saestuhadi. Pada tahun 1985 menjadi jalan Manggis, dan pada tahun 1990 menjadi jalan Danau Kelimutu hingga sekarang.)

Sejak Raden Hardjodisumo menjabat Pembekel Islam di Loloan tahun 1918, saat itu wilayah Loloan masih menjadi satu nama, baik timur sungai maupun barat sungai tetap bernama Loloan. Karena di tahun 1930, pusat Pemerintahan Desa Loloan masih satu tempat yaitu di sebelah barat sungai.

Untuk membantu Raden Hardjodisumo dalam pelaksanaan pemerintahan di Desa Loloan, maka pada tahun 1930, Raden Hardjodisumo selaku Pembekel Islam (setingkat Camat), mengangkat H. Basuni sebagai Perbekel pertama Desa Loloan, dengan periode  jabatan dari  tahun 1930 s/d 1940. Dari hasil penelitian penulis tentang pemekaran wilayah Loloan, didapatkan kesimpulan pemisahan Loloan menjadi dua wilayah barulah terjadi pada tahun 1940, Desa Loloan sebelah timur sungai menjadi Desa Loloan Timur dan desa Loloan sebelah barat sungai menjadi Desa Loloan Barat. Sehingga di masing-masing desa pada tahun 1940, sudah terdapat Kepala Desa Loloan Barat yang dijabat Ali bin H. Kasan dan Kepala Desa Loloan Timur yang dijabat oleh H Abdurrahman bin Imran.

Pada tahun 1930, H. Basuni mewakafkan sebidang tanah untuk pendidikan di perempatan Pasar Loloan. Dan juga mewakafkan sebidang tanah kepada Masjid Noor, yang tanahnya tersebut dipergunakan untuk dibangun menjadi kantor Desa Loloan Barat (kantor lama di jalan masjid).

Tahun 1933 dilakukan cacah jiwa kedua di Jembrana (sensus penduduk di masa Hindia Belanda). Cacah jiwa pertama di Jembrana setelah Perang Dunia I saat wabah kolera menyerang Jembrana. Jumlah penduduk Jembrana yang selamat dari wabah tersebut 17.264 jiwa. Pada cacah jiwa kedua penduduk Jembrana sejumlah 22.842 jiwa (4). Setelah ini berdatanganlah orang-orang suku Jawa dan orang-orang suku Madura. Makin ramailah keadaannya. Rumah-rumah baru bermunculan bagaikan cendawan jamur di musim hujan. Segala usaha pertukangan dibuka, pabrik beras menggiling dengan pesatnya. Amatlah makmur masyarakat Loloan pada masa itu. Kantor pemerintahan berpusat di Negara, beserta perumahan-perumahan pegawai negeri, kesemuanya bersifat sederhana tapi berwibawa dan keamanan ketertiban masyarakat terjamin dengan baiknya. (Disarikan dari buku “Para Ulama dan Tokoh Loloan Abad Ke-19 Masehi di Jembrana Bali, Syarif Tue dan Encik Ya’qub” karya Eka Sabara)


[1] Besluit Kanjeng Paduka Tuan Residen Bali dan Lombok no 1451/21.

[2] Besluit Kanjeng Paduka Tuan Residen Bali dan Lombok no 2370/21

[3] Besluit Kanjeng Paduka Tuan Residen Bali dan Lombok no 423

[4] Besluit Kanjeng Paduka Tuan Residen Bali dan Lombok 12 Januari 1923

[5] Sumber lisan dari R. Azhari dan Hamdan Ridwan Cucu dari H. Basuni

[6] Sumber arsip milik R Suharyo  dan monografi masjid Mujahidin 1994;12

[7] Sumber arsip milik R Hardjodisumo

BERSAMBUNG …