PAN MUSTIKA, PEMBEKEL LOLOAN, JEMBRANA (1)

SELAIN para tokoh ulama, sejumlah tokoh Loloan, Negara, Kabupaten Jembrana telah berperan penting dalam memajukan masyarakat muslim Loloan. Berikut ini adalah deskripsi singkat para tokoh tersebut, berdasarkan informasi yang dapat dikumpulkan penulis dari berbagai sumber.

Pemimpin Bali Islam di masa Syarif Tue Loloan yang bernama Pan Mustika, sangat jarang dikenal ataupun diketahui riwayatnya. Penulis berusaha melacak dari berbagai manuskrip yang ada tersimpan di masyarakat Loloan. Dalam prasasti Loloan tertulis nama Pak Amsyik atau yang lebih dikenal dengan nama Pak Mustika.

Mustika menjabat sebagai Pembekel Loloan di zaman Kerajaan Jembrana dibawah kekuasaan pemerintahan Belanda. Masyarakat muslim di Jembrana di masa kekuasaan Belanda disebut dengan Balinesche Mohammadaan. Sebagai seorang Pembekel Balinesche Mohammadaan di Jembrana, Pan Mustika, mengurusi semua masyarakat Muslim yang ada di seluruh Kabupaten Jembrana saat itu. Oleh pihak pemerintah Belanda, Pan Mustika lebih dikenal dengan nama Pan Muhammad, Balinesche Mohammadaan.

Menurut keterangan Husin Djabbar yang mendapatkan dari penuturan lisan H. Mohammad Ali Mahmud di tahun 2010, riwayat singkat asal usul Pan Mustika,  yaitu pada suatu hari di Loloan kedatangan seorang pria Hindu dari kerajaan Tabanan Bali. Ayah dan ibu dari pria tersebut merupakan pelarian dari daerah Kerajaan Blambangan Jawa Timur ke Kerajaan Tabanan dalam masa-masa peperangan Damarwulan dan Menak Jinggo di Banyuwangi (1404-1406).

Seorang putra dari pelarian itu datang ke Jembrana dan menyatakan diri memeluk Islam di Loloan Barat. Syarif Abdullah (Syarif Tue) dan Datuk Lebai menuntun sang pria tersebut kepada Islam. Ternyata sang pria tersebut menjadi muslim yang  taat dalam beragama, kemudian diberikan tempat bermukim di Kampung Terusan Loloan Barat.

Tentang siapa nama pria ini sebelum masuk Islam tidak diketahui. Namun,  setelah ia muslim diketahui bernama Amsyik yang lebih dikenal sebutannya Pak Mustika. Pada pertengahan abad ke-19 Masehi, Pak Mustika memegang jabatan penting di Loloan Jembrana, yaitu sebagai Pembekel (Camat) untuk kalangan muslim se-Jembrana.[1]

Foto Pan Muhammad, Balinesche Mohammadaan di tahun 1865 Masehi, sumber foto Kitlv.nl

Pada tahun 1867, Pan Mustika Punggawa Bali Islam di Loloan bersama 3 orang rekannya menghadap ke pemerintah Belanda di Buleleng, agar membebaskan Radja Djembrana VI di abhiseka tahun 1867 atas kehendak rakyat Djembrana melalui duta Punggawa Negara, I Wajan Geor, Punggawa Djembrana, I Gede Nurun, Punggawa Mendojo, I Wajan Djembo, Kepala Bali Islam di Loloan Kapten Mustika diajukan saat masih berstatus tawanan di Tangsi Militer Belanda Pengastulan Buleleng adalah putera Radja Muda Djembrana I Gusti Agung Njoman Madangan dan sepupu Radja Djembrana V Ide I Gusti Agung Putu Ngurah. (Disarikan dari buku “Para Ulama dan Tokoh Loloan Abad Ke-19 Masehi di Jembrana Bali, Syarif Tue dan Encik Ya’qub” karya Eka Sabara)


[1]Diktat Syarif Tue dan Perjuangannya, Husin Djabbar 2010;hal 30

BERSAMBUNG …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *