PERAN ULAMA LOLOAN DALAM RODA PEMERINTAHAN KERAJAAN DI BALI

KEHADIRAN Encik Ya’qub yang menetap di barat sungai, di kawasan Bandar Pancoran, tepatnya di Kampung Pancoran, sekarang termasuk Kampung Terusan, Kelurahan Loloan Barat, dan beliau mengajar dan berdakwah baik di barat sungai maupun di timur sungai Loloan. Pada tahun 1799 Masehi, saat kedatangan Rombongan Syarif Abdullah Bin Yahya Al Qadri, Encik Ya’qub ikut turut serta menyambut dan menerima kedatangan dengan senang hati.

Syarif Abdullah pada tahun 1805 Masehi mulai merintis pembangunan Bandar Loloan atas perkenan dan ijin dari Raja Jembrana. Setelah Bandar Pancoran pada tahun 1808 Masehi mengalami kemerosotan, maka aktivitas perniagaan mulai beralih ke Bandar Loloan. Karena kemajuan perniagaan di Bandar Loloan, maka semakin harum dan makmur Kerajaan Jembrana, banyaklah para saudagar yang berlabuh untuk berniaga, serta adapula yang berlabuh untuk memperdalam tulisan aksara Arab Pegon, terutama para utusan dari kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Bali, yang datang ke Bandar Loloan untuk meminta bantuan kepada murid-murid dari Encik Ya’qub dalam hal sebagai juru tulis aksara Arab Pegon sebagai alat komunikasi surat-menyurat dengan Gubernur Inggris di Malaka. Bahkan beberapa murid atau santri dari Encik Ya’qub banyak yang menyebar ke seluruh daerah yang ada di Bali, seperti di Seririt, Klungkung, Badung dan Karangasem.

Masyarakat Loloan saat itu sebagai komunitas pertama memperkenal pemakaian bahasa melayu di Pulau Bali. Berkat kehadiran Encik Ya’qub sebagai ulama di Loloan yang mengajarkan tulis menulis menggunakan huruf Arab Pegon dengan menggunakan bahasa Melayu Pegon sebagai sarana komunikasi dalam mengajarkan ilmu agama di Jembrana. Banyaklah utusan-utusan juru tulis dari kerajaan di luar Jembrana yang meminta bantuan untuk menuliskan surat-surat resmi kerajaan dengan bertuliskan huruf abjad Arab serta berbahasa Melayu Pegon. Surat-surat tersebut jelas ditujukan kepada pihak luar pulau Bali.

Sejak mashurnya Bandar Loloan, maka bahasa Melayu seperti mendapatkan tempatnya sebagai bahasa pengantar atau bahasa penghubung antara pihak luar dengan kerajaan di Jembrana pada khususnya bahkan bahasa Melayu Loloan dapatlah dikatakan sebagai komunikasi kerajaan-kerajaan yang ada di Bali dengan pihak luar. Sehingga di abad ke-18 Masehi, tulisan aksara Melayu Pegon mulai mendapatkan tempatnya di kerajaan-kerajaan yang ada di Bali, dengan ditemukannya beberapa bukti-bukti surat Raja Bali Seri Paduka Ratu Gusti Anglurah Gede Karang kepada Jenderal Rafles di Penang Malaysia dengan aksara Arab.

Bukti bahwa pengaruh aksara Melayu Pegon di zaman Nusantara telah sampai kepada para raja yang ada di Bali, dengan ditemukan surat yang menggunakan abjad Arab yaitu seperti dibawah ini :

Mss Eur D742/1, ff 78-79 ff.78-79. Letter in Malay from Seri Paduka Ratu Gusti Anlurah Gede Karang of Bali Baliling to the Gov. of Penang, 17 Rabiulawal 1226 (11 April 1811). Red wax seal, Balinese script. Heading: Qawluh al-haqq. English paper, ‘Budgen & Wilmott 1808’.

Bukti asli surat dari Seri Paduka Ratu Gusti Anglurah Gede Karang dari Bali kepada Raffles ditulis dalam abjad Arab (Jawi), atau di masa zaman Nusantara lebih dikenal dengan nama bahasa Melayu bertuliskan aksara Arab Pegon. Tertanggal 7 Rabiul Awwal 1226 Hijriyah atau tanggal 1 April 1811 Masehi.

Surat Raja Bali kepada Raffles, sumber Digitiset Manuscript from English Library Tertanggal 7 Rabiul Awwal 1226 H —> 1 April 1811 M.

Tampak pengaruh aksara Melayu Pegon di jaman Nusantara sudah sampai ke para raja di Bali yang menggunakan abjad Arab. Di sisi lain, perhatikan kop surat, tertulis ucapan قوله الحق “UcapanNya adalah Kebenaran”. Ini diambil dari firman Allah dalam surat Al An’am ayat ke-7, “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Di hari Dia mengatakan, “Jadilah, ” lalu terjadilah, ucapan-Nya adalah kebenaran”.

Kesimpulan Peranan Penting Ulama Loloan dalam Roda Pemerintahan di Kerajaan-Kerajaan di Bali

1. Memperkenalkan dan mengajarkan cara penulisan aksara Arab Pegon kepada murid-muridnya yang menetap di berbagai kerajaan yang ada di Bali, sehingga para murid-muridnya di daerah masing-masing mendapatkan tugas dari kerajaannya sebagai juru tulis kerajaan dalam berkomunikasi dengan pihak luar pada era Nusantara lama.

2. Sastra Melayu dengan berbertuliskan Arab Pegon menjadi bahasa pengantar komunikasi kerajaan-kerajaan di Bali dengan pihak luar di era Nusantara.

3. Pengabdian dan perjuangan dakwah Encik Ya’kub semasa hidupnya di Loloan meninggalkan warisan yang terpelihara baik hingga sekarang, yaitu berupa:

3.1. Prasasti dalam bahasa Melayu yang ditulisnya dengan huruf Arab yang disebut Prasasti Loloan, yang merupakan Ikrar Wakaf yang tertua di Bali. Prasasti ini berisikan peristiwa pewakafan tanah untuk wakaf Masjid Loloan.

3.2. Mewakafkan sebidang tanah sawah miliknya untuk Masjid Jembrana yang kemudian diberi nama Mesjid Baitul Qodim.

3.3. Sebuah kitab Al-Quran tulisan tangan (Al Qur’an ini pernah ditampilkan kepada masyarakat pada waktu berlangsung-nya pameran Festival Istiqlal II di Jakarta).

3.4. Mempopulerkan bahasa dan Sastra Melayu sebagai sarana komunikasi pada masa itu. Encik Ya’kub menggunakan bahasa Melayu dan tulisan aksara Arab Pegon dalam berdakwah dan mengajarkan ilmu agama sehingga pada masa tersebut bahasa Melayu lebih dominan di kalangan masyarakat muslim di Jembrana daripada bahasa Bugis, yaitu bahasa ibu masyarakat Bugis yang telah terlebih dahulu datang dan menetap di Jembrana.

3.5. Encik Ya’kub memperkenalkan dan mengajarkan kepada masyarakat suku Bugis Loloan ketrampilan baca tulis dengan metode penulisan huruf Arab berbahasa Melayu (bahasa Arab Pegon), sehingga dalam kesehariannya kemudian masyarakat Loloan lebih akrab dengan bahasa Melayu.

Semoga bisa membangkitkan sejarah yang terpendam di masa silam. Wassalam. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *