DATUK GURU HAJI MUHAMMAD SAID BIN SA’AD (1831-1929)

ULAMA LOLOAN KETURUNAN KETUJUH SUNAN GIRI

DATUK Guru Haji Muhammad Said Bin Sa’ad lazimnya disebut DGH M. Sa’id. Para santrinya menyebutnya Datuk Datuk Guru. Dari silsilahnya, Haji Muhammad Sa’id bin Muhammad Sa’ad bin Ahmad bin Surolaksono bin Sunan Ganti, asal kerajaan Blambangan, Jawa Timur. Sebelum belajar ke tanah Makkah, beliau sempat belajar mengaji kepada Syech Maulana Muhammad Bin Abdus Salam di Loloan Timur.

DGH. M. Sa’id lahir dari pasangan Muhammad Sa’ad dengan Siti Aminah. Beliau lahir sekitar tahun 1831 Masehi dan meninggal dalam usia 98 tahun pada tahun 1929 Masehi.

DGH. M. Sa’id mulai awal mengaji dengan ayahnya sendiri, kemudian dengan datuknya yang bernama Ahmad Suroleksono, yang dimakamkan di Rogojampi, Banyuwangi. Selesai mengaji kepada Tuan Syech Maulana Muhammad Abdussalam di Loloan Timur, DGH. M. Sa’id melanjutkan mengaji di kota Mekkah sambil menunaikan ibadah haji.

Selama menetap di Mekkah, beliau berguru kepada beberapa ulama besar pada masa itu, di antaranya Syekh Umar Hamdan. Sekembalinya dari Mekkah, DGH. M. Sa’id menikah dengan Aminah binti Muhammad Rayis.

Mendirikan Pesantren Pertama di Bali

Husin Djabbar, dalam pengantar Manaqib Biografi dan Perjalanan Dakwah DGH Muhammad Sa’id mengatakan bahwa pada pertengahan abad ke-19, Kampung Loloan Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, mashur sebutannya di kalangan muslimin di seluruh pulau Bali. Bahkan hingga di daerah Jawa Timur dan lain-lain. Karena di masa itu, di Loloan Barat diwarnai dakwah seorang ulama besar berjiwa tasawuf.

Ulama tersebut telah mendirikan pondok pesantren di kampung halamannya yang memiliki banyak santri putra. Masyarakat muslim Jembrana memanggil ulama besar ini dengan sebutan DGH Muhammad Sa’id.

Syaikhona_KH Cholil Bangkalan merupakan sahabat akrab beliau, seorang ulama besar yang mashur, yang banyak mempunyai santri dari seluruh pulau Jawa. Bahkan Syaikhona_KH Cholil itu nyata-nyata mengakui bahwa ilmu agama yang dikembangkan DGH. Muhammad Sa’id ini selalu membawa barokah di kalangan santrinya. Sudah seringkali KH Cholil itu menyiarkan tentang kealiman sahabatnya, DGH. Muhammad Sa’id ini, baik di kalangan santrinya maupun masyarakat muslimin negari Madura.

Karena itu, mashurlah nama DGH. Muhammad Sa’id di seluruh tanah Jawa hingga ke beberapa negeri Nusantara. Bahkan banyak santri Syaikhona KH Cholil Bangkalan yang telah lulus dari pesantren itu, dianjurkan mengaji lagi di pesantren DGH. Muhammad. Sa’id di Loloan Barat, Negara, Bali. Di antara santri yang telah lulus itu adalah Muhammad Shaleh Banyuwangi, yang lebih dikenal dengan nama KH. Shaleh Banyuwangi.

Menurut penuturan KH. S. Ustad Ali Bafaqih dalam Manaqib DGH. Muhammad Sa’id, semasa mudanya beliau banyak memiliki sahabat seangkatan atau seusianya. Ada dua orang sahabat yang paling diakrabinya, yaitu Datuk Habib Umar Bafaqih (Ayahanda KH. S. Ustad Ali Bafaqih) dan Datuk Syekh Abdurahim Bin Syekh Ahmad Bauzir.

Masyarakat muslimin Loloan Barat mengenali Syekh Abdurrahim dengan sebutan Datuk Ibrahim. Beliau lahir di kampung Pertukangan Loloan Barat. Pada saat sekarang, makam Datuk Abdurrahim ini di Kampung Arab Banyuwangi, banyak diziarahi oleh kaum muslimin.

Adapun almarhum Datuk Habib Sayid H. Ali Bafaqih telah banyak mengetahui tentang sejarah DGH. Muhammad Sa’id, karena melalui cerita dari abah beliau, yaitu Habib Umar Bafaqih, Habib Umar Bafaqih sejak masa mudanya telah bersahabat dengan DGH. Muhammad Sa’id itu. Di zaman itu, mereka bertiga adalah sekawanan di Loloan Barat, yaitu Habib Umar Bafaqih, Muhammad Sa’id bin Muhammad Sa’ad dan Ibrahim bin Syekh Bauzir (sekarang lebih dikenal dengan nama Datuk Syekh Abdurrahim Bauzir yang makamnya banyak dikunjungi para peziarah di Banyuwangi).

Pada masa itu, tiga remaja itu suka mandi di Sungai Loloan. Selain itu, Habib Ali Bafaqih banyak mengetahui juga cerita-cerita dari gurunya, yaitu KH Sholeh Banyuwangi. Karena itu, Datuk Habib Sayid Ali Bafaqih banyak mewasiatkan kepada keluarga DGH. Muhammad Sa’id agar sesekali menghaulkan DGH. Muhammad Sa’id.

Begitupula Habib Agil Bin Sayid Salim Al Athos, seorang ulama kota Jember yang lahir dan besar di Loloan Barat pada tahun 1939 Masehi. Beliau sering menganjurkan kepada keluarga DGH. Muhammad Sa’id agar sesekali beliau dihaulkan.

DGH M. Sa’id berjuang dalam kehidupan pesantren selama lebih kurang 42 tahun lamanya sejak tahun 1887 – 1929 Masehi. Di kalangan masyarakat Muslim Jembrana, saat itu DGH. M. Sa’id terkenal sebagai seorang ulama besar sufi yang berjiwa tasawuf, karena kehidupan yang sederhana dan bergaul kepada kaum fakir miskin dengan memberikan kaidah pengajaran sifat sabar dalam menghadapi setiap cobaan hidup di dunia ini, serta mencegah perbuatan keji dan mungkar. DGH M. Sa’id sering mengajak orang agar rajin sholat, serta beribadah kepada Allah SWT, dan juga mengajak orang-orang berbuat kebajikan selama hidup di dunia ini.

Santri-santri Muhammad Said

Para santri Datuk Guru Muhammad Sa’id ini cukup banyak yang telah berkembang, berdakwah di seluruh Jembrana dan beberapa daerah di Bali, seperti di Buleleng, dan juga daerah Blambangan, Jawa Timur. Santri-santri tersebut bermukim dan mendirikan tempat mengaji di masing-masing desa tempat bermukimnya. Mereka adalah :

a. Santri yang berasal dari  Loloan Barat

1. Datuk Guru Muchsin Ahmad

2. Datuk Guru H. Moh. Nur bin Khotib

3. Datuk Guru Moh. Rahmli bin Kasim

4. Datuk Syekh Husin Baraas

5. Datuk Guru H. Thoyib bin Thaha

6. Datuk Guru Moh. Nuh Asy’ari

b. Santri yang berasal dari  Loloan Timur

1. Datuk Guru H. Moh. As’ad bin Abdul Fatah

2. Datuk Guru H. Moh. Ja’far bin Mukmin

3. Datuk Guru Muhammad Rayis

4. Datuk Guru Abdul Hamid

c. Santri yang berasal dari berbagai desa di Jembrana

1. Datuk Guru H. Muhammad Thayib  bin Shaleh di Air Anakan Desa Banyubiru.

2. Datuk Guru H.  Muhammad Kasim Bin Abdussalam di Puane Tegalbadeng, dan dimakamkan di Desa Cupel.

3.  Datuk Guru Abdul Ghani bermukim di Desa Air Kuning.

4. Datuk Guru Wak Sulamah, bermukim di Desa Medewi- Pekutatan.

 d. Santri yang berasal dari Pulau Jawa.

1. KH. Shaleh dari Banyuwangi

2. KH. Muhammad Jaelani dari Banyuwangi

3. KH. Muhammad Jazuli dari Dadapan Banyuwangi

      Menurut Husin Djabbar, pada tahun 1957 pernah berziarah kepada almarhum KH Muhammad Jazuli di pesantrennya, Husin Djabbar diajak oleh alumni santrinya yang bernama H. Ahmad bin Kasim dari Puane Tegalbadeng. Usia KH. Muhammad Jazuli pada saat itu sudah lebih dari 90 tahun. Beliau pernah menjadi santri Tuan Guru Muhammad Said di Loloan Barat.

4. KH. Muhammad Idris Cirebon

Berasal dari Kuningan, Cirebon merupakan alumni santri KH. Kholil Bangkalan, Madura. KH. Kholil menganjurkan agar Muhammad Idris berguru lagi kepada Tuan Guru Muhammad Sa’id Loloan Barat sampai beberapa lama. [1]

Wasiat KH. Kholil Bangkalan

KH. Kholil Bangkalan Madura adalah seorang ulama besar yang banyak memiliki santri-santri dan sudah terkenal di mana-mana karena telah nyata karomahnya. Beliau itu sangat dipatuhi dan ditaati oleh banyak kalangan muslimin di Madura maupun di Jawa, bahkan namanya terkenal di mana-mana seperti Bali dan Sumatra. Salah satu santri unggulannya ialah Muhammad Shaleh yang berasal dari Banyuwangi.

Kepada Muhammad Shaleh itu KH. Kholil berwasiat:

Wahai Sholeh, pada hari ini (abad 19) kamu saya nyatakan telah lulsu dari pesantren ini. Kamu boleh pulang ke Banyuwangi dan silahkan buka pesantren di negerimu itu. Didiklah masyarakat muslim di sana di bidang agama dan cetak kaderkader agama (ulama-ulama besar) supaya mereka itu kelak menjadi pelanjut dirimu. Tetapi ingat Sholeh! Kamu belum boleh pulang ke Banyuwangi dengan sepenuhnya, melainkan kamu harus menjadi santri terlebih dahulu di Loloan Jembrana yaitu kamu berguru kepada DGH. M Sa’id disana sampai tiga tahun.

Sekali lagi saya wasiatkan kepadamu wahai Sholeh, tuntutlah ilmu kepada DGH M Sa’id sahabatku itu. Karena beliau seorang ulama khawwas, dan tingkat tasawufnya sudah tinggi. Kamu mengaji di sana supaya ilmumu menjadi barokah. Wahai Sholeh, kamu ini saya akui ibarat intan yang mahal harganya. Tetapi saya masih perintah kamu supaya intanmu ini diasah berulang-ulang oleh DGH. M. Sa’id, supaya intanmu menjadi berlian.

Wahai Sholeh kalau kamu sudah patuhi wasiatku ini. Silahkan kamu berangkat ke Loloan Jembrana. DGH. M. Sa’id itu sahabat akrabku. Diriku tidak bisa pisah dengan dirinya. Kami saling kunjung mengunjungi, di saat orang lain sama-sama tidak tahu. Allah saja yang menyampaikan kami di tempat kunjungan di masing-masing pihak. Karena itu wahai Sholeh, silahkan abdikan dirimu kepada DGH. M. Sa’id sebagai santrinya yang baik.”[2]

DGH. Muhammad Sa’id Wafat

Suatu hari di tahun 1929 Masehi, adalah hari berkabung bagi seluruh muslimin di Loloan, Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. Pada hari itu, seorang dari ulama besar atau guru besar telah meninggalkan mereka buat selama-lamanya. DGH. Muhammad Sa’id wafat di rumahnya di Kampung Terusan, Loloan Barat. Beliau wafat karena sakit faktor usia telah lanjut.

Menurut penuturan Moh. Nuh Asy’ari, dalam manaqib DGH M. Sa’id, beliau wafat saat berusia 98 tahun pada tahun 1929 Masehi atau jika penulis konversikan ke tahun hijriyah dengan aplikasi konversi tahun maka menjadi 1347 Hijriyah. Shalat jenazah dilaksanakan di Masjid Noor Loloan Barat (sekarang masjid Mujahidin), dan dimakamkan di Pekuburan As Salam Loloan Timur.

Pada tahun 1929, KH Sholeh Banyuwangi datang ke Loloan, Jembrana untuk bertakziah atas telah wafatnya mantan gurunya yang dipanggilnya Datuk Guru. Sebelum berangkat ke Loloan, KH. Sholeh memanggil santrinya yang bernama Sayid Ali Bafaqih bin Umar, seraya berpesan. Katanya: “Hai Ali, saya berpesan sama kamu, jangan tinggalkan pesantrenku ini, tolong wakili saya untuk menyampaikan pelajaran melalui kitab-kitabku ini. Sejak hari ini, saya akan bertakziah ke Jembrana (Loloan). Sebab, guru besarku DGH. M. Sai’id wafat. Mungkin saya di Loloan sampai beberapa hari lamanya di sana, sampai upacara dan segala sesuatunya sudah selesai. Dengan demikian santrinya Sayid Ali Bafaqih Bin Umar siap melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Kiyainya itu dengan segala khidmat. (Penuturan KH.S. Ustad Ali Bafaqih dalam Managib DGH. M. Sa’id).

Warisan syair tauhid dari DGH M. Sa’id saat ini masih dipelihara oleh masyarakat Loloan. Syair tersebut diawali dengan “Al Hamduliman“.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *