ENSIKLOPEDI MUSLIM DUNIA: SYEH ABDUL QADIR JAILANI

SYEH Abdul Qadir Jailani lahir pada 1 Ramadan 471 Hijriah atau 8 Maret 1077 M. Ayahnya bernama Abu Saleh dari Gilan, Iran. Yang merupakan sosok yang berkepribadian baik. Ibunya, Umm Khair Fatima, putri dari Sayid Abdullah, seorang alim pada zamannya.

Ketika melahirkan Abdul Qadir Jailani, Fatima sudah berumur 60 tahun. Karena itu, kelahiran Abdul Qadir Jailani dianggap berkah Tuhan. Saat bayi, Abdul Qadir Jailani diriwayatkan tidak menyusu selama Ramadan.

Ayahnya, Abu Saleh, meninggal dunia, saat Abdul Qadir Jailani masih muda.Ia dipelihara dan didik oleh kakek yang saleh dari pihaknya ibunya. Kakeknya mengirim Abdul Qadir Jailani untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi pada usia 17 tahun. Pada masa itu, Baghdad merupakan pusat pendidikan Islam.

Di Baghdad, Abdul Qadir Jailani menjadi murid dari Abu Zakaria Tabresi, yang merupakan Rektor Jamia Nizamiah. Bahkan Abdul Qadir Jailani merupakan murid kesayangannya. Selama delapan tahun,ia menuntut ilmu di sana. Semua cabang ilmu dikuasainya, meskipun ia sering mengalami kelaparan.

Tamat dari sana, Abdul Qadir Jailani menjalani latihan spiritual secara ketat. Ia menggunakan waktunya untuk bermeditasi, mencari kebenaran dan Tuhan. Abdul Qadir Jailani menjadi murid orang saleh yang termasyhur saat itu, Abu Said Mukhsumi.

Abdul Qadir Jailani kemudian tinggal menetap di Baghdad. Hidupnya ia abdikan untuk kemanusiaan dan Islam. Ia tumbuh menjadi orang suci terbesar di dunia Islam. Orang Islam kemudian mengenalnya sebagai “Orang Suci Agung”.

Sosok Syeh Abdul Qadir Jailani merupakan orator ulung. Ceramah-ceramahnya selalu mendatang banyak peminat. Sebab, dalam ceramahnya sarat dengan pendidikan duniawi dan rohani, sehingga diminati banyak orang. Setiap ia ceramah, yang hadir bisa mencapai puluhan ribu orang, termasuk para pejabat tinggi kekhalifahan, bahkan khalifah sendiri.

Syeh Abdul Qadir Jailani diakui sebagai pemurni agama. Dalam dirinya tertanam keserasian antara syariat dan tariqat. Pada saat itu, konflik antara eksponen syariat dan tariqat mencapai tingkat yang kritis. Rasionalisme keagamaan Muktazilah memukul jiwa Islam. Lindungan dan diunggulkannya doktrin Muktazilah oleh Khalifah Abbasiyah saat itu, dianggap membahayakan agama Islam sejati. Keadaan itu sampai menjurus kepada penganiaan Imam Ahmad bin Hambal.

Pada saat itu, Syeh Abdul Qadir Jailani mengambil jalan tengah antara spiritualisme Mansur Hallaj dan rasionalisme Muktazilah. Di dalam dirinya syariat dan tariqat diwujudkan secara sempurna. Pribadinya menunjukkan keseimbangan antara kedua kutub tersebut. Karena itulah, Syeh Abdul Qadir Jailani digelari “Mohiuddin” atau permuni agama. Ia merupakan penganut mazhab fiqih Imam Ahmad bin Hambal.

Syeh Abdul Qadir Jailani merupakan figur yang sederhana. Ia menempuh hidup saleh dan teratur, dengan segala kesederhanaannya. Di siang hari ia gunakan waktunya untuk berkhotbah tentang prinsip-prinsip Islam. Sementara pada malam hari, ia gunakan untuk berdoa dan meditasi.

Sejumlah karya buku dihasilkan Syeh Abdul Qadir Jailani. Di antaranya buku “Fatuh al-Ghaib”, yang merupakan kitab tentang aliran mistik. Lantas buku “Ghinyat-ul-Talibin”, yang memuat pembahasan secara komprehensif prinsip-prinsip syariat dan tariqat. Kitab “Fath-al-Rabbani”. Buku memuat ikhisar ceramah dan wacana ilmiahnya.

Tokoh besar Islam ini wafat di Baghdad pada Sabtu, 15 Januari 1166 Masehi dalam usia 89 tahun atau 9 Rabiulakhir 561 Hijriah dalam usia 91 tahun. Meskipun sudah tiada, nama dan ajaran tokoh yang lazim dipanggil Syeh Abdul Qadir Jailani tetap dikenang dan dijalankan umat Islam di dunia. (ms, dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *