Sharing dari Kuli Cerita: KEBAHAGIAAN 2

KALAU kebahagiaan itu adalah kekayaan yang melimpah, maka tak banyak orang yang memilikinya. Kalau kebahagiaan itu adalah jabatan yang tinggi, maka tak banyak manusia yang memilikinya. Kalau kebahagiaan itu adalah istri yang jelita, maka tak tersembarang orang akan memilikinya.

Lantas apa itu kebahagiaan? Di manakah letak kebahagiaan itu? Bagaimana caranya kira meraih kebahagiaan?

Kebahagiaan adalah suatu kondisi di mana pikiran dan perasaan dalam diri seseorang tak terbebani oleh sifat-sifat hewani dan sifat-sifat syaitaniah. Sifat-sifat keduniawian. Menurut Imam Al-Ghazali, dalam diri manusia itu terdapat sifat-sifat binatang, sebagian sifat-sifat setan dan selebihnya sifat-sifat malaikat. Kita harus menemukan, mana dari sifat-sifat tersebut yang masuk sifat-sifat aksidental dan mana yang pokok. Mengetahui sifat-sifat tersebut adalah kunci untuk menemukan letak kebahagiaan.

Kebahagiaan merupakan nikmat besar yang diperleh manusia. Dalam kebahagiaan akan muncul keteguhan pikir, produktivitas kehidupan, dan jiwa yang riang. Sebenarnya kebahagiaan itu bisa dipelajari. Siapa yang mengetahui cara memperoleh, merasakan, dan menikmati kebahagiaan, maka ia akan dapat memanfaatkan pelbagai kenikmatan dan kemudahan hidup, baik yang ada di depannya maupun yang masih jauh berada di belakangnya.

Menurut Dr. Aidh al-Qarni dalam bukunya “La Tahzan”, modal utama untuk meraih kebahagiaan adalah kekuatan atau kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh guncangan-guncangan, tidak gentar oleh peristiwa-peristiwa dan tidak pernah sibuk memikirkan hal-hal kecil yang sepele. Semakin kuat dan jernih seseorang maka akan semakin bersinar pula jiwanya.

Sebaliknya, hati yang lemah tekad, rendah semangat dan selalu gelisah tidak ubahnya dengan gerbong kereta yang mengangkut kesedihan, kecemasan, dan kekhawatiran. Oleh karena itu, menurut Dr. Aidh al-Qarni, barangsiapa yang membiasakan jiwanya bersabar dan tahan terhadap segala benturan, niscaya goncangan apapun dan tekanan dari manapun akan terasa ringan.

Sementara di antara musuh utama kebahagiaan adalah wawasan yang sempit, pandangan yang picik dan egoisme.

Ada beberapa mendasar yang harus diperhatikan untuk meperoleh kebahagiaan. Pertama, mengendalikan dan menjaga pikiran agar tidak terpecah. Jika kita tidak bisa mengendalikan pikiran dalam setiap melakukan sesuatu, niscaya pikiran tidak akan terkendali. Pikiran akan mudah membawa kita kepada berkas-berkas kesedihan masa lalu.

Pikiran liar juga akan membisikkan masa depan yang mencekam. Ia juga dapat membuat tubuh gemetar, kepribadian goyah, dan perasaan terbakar. Karena itu, kata Dr. Aidh al-Qarni, kita harus mampu mengendalikan pikiran ke arah yang baik dan mengarahkan pada perbuatan yang bermanfaat.

Hal mendasar lainnya yang harus dilakukan dalam meraih kebahagiaan adalah kita harus menempatkan kehidupan ini sesuai dengan porsi dan tempatnya. Seperti dikatakan banyak orang, Kehidupan ini bagaikan permainan, dan harus diwaspadai. Kalau tidak, ia dapat menyulut kekejian, kepedihan, dan bencana.

Catatan lain tentang kebahagiaan, bahwa kebahagiaan itu tidak datang begitu saja. Ia harus terus diusahakan dan dipenuhi segala ssuatu yang menjadi prasyaratnya. Untuk mencapai kebahagiaan anda harus menahan dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Begitulah cara menempa jiwa agar senantiasa siap diajak mencari kebahagiaan.

Catatan paling penting dari itu adalah “orang yang bahagia adalah orang yang menjadikan puncak dan tujuan utama kehidupannya adalah untuk mencintai Allah SWT. (Kuli Cerita, Mei 2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *