PERGUNU: TERUJI, KETANGGUHAN PEMBELAJARAN DI MADRASAH PADA MASA PANDEMI COVID-19

Aris Adi Leksono

PADA masa pandemik Covid-19, Pimpinan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) terus aktif dalam mengawal pelayanan pendidikan dan pembelajaran, baik yang diselenggarakan oleh sekolah atau madrasah. Salah satunya rutin mengadakan focus group discussion yang secara tematik mengkaji tentang keberlangsungan dan kebermaknaan pembelajaran di Indonesia.

Seperti Selasa, 5 Mei 2019, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, melalui Live Meeting Talk Fusion, PERGUNU kambali menggelar FDG dengan tema “Learning and Teaching Priod Cov-19 in Finland”. Salah satu narasumber kegiatan tersebut Ahmad Hidayatullah, Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi KSKK Kemenag RI.

Dalam paparannya, Ahmad Hidayatullah menagaskan bahwa madrasah memiliki keunggulan kearifan lokal, sehingga dalam kondisi apapun pembelajaran akan tetap jalan. Dominasi madrasah swasta justru merupakan potensi untuk berkembang secara mandiri, karena orientasi yang dibangun adalah pengabdian dan pemberdayaan masyarakat.

“Madrasah dari lahirnya sudah kuat, karena memiliki pondasi kearifan lokal. Banyak madrasah swasta yang tentu sudah terlatih mengelolah secara mandiri, menyelenggarakan pendidikan bagi mereka adalah pengabdian dan pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar mencari keuntungan semata,” terang Ahmad, yang sukses mengembangkan MAN Insan Cendekia ini.

Lebih lanjut, pria berdarah Malang tersebut memaparkan, meskipun madrasah memiliki modal kultur yang kuat tersebut, pemerintah melalui Kementerian Agama tetap wajib hadir memberikan pengaturan, pendampingan, dan fasilitas lainnya. Salah satunya, bagaimana mengeluarkan sejumlah kebijakan terkait menghadirkan pembelajaran abad 21 di madrasah. Misalnya, madarasah sudah memiliki e-Learning secara mandiri di-support dengan cloud data yang disebut dengan storehouse knowledge. Madrasah sudah lama menerapkan penyederhanaan administratif guru, memberikan panduan dan pelatihan metodologi pembelajaran abad 21, dan banyak inovasi lainnya.

Pada saat yang sama, Aris Adi Leksono, Wakil Ketua Pimpinan Pusat PERGUNU, memberikan apresiasi ketangguhan dan kesiapan madrasah, terutama dalam menghadapi pandemi Covid-19. Menurutnya, pondasi kesadaran dan pemberdayaan masyarat adalah kunci ketangguhan madrasah. Meskipun demikian, madrasah harus mampu terus melakukan inovasi, agar terus dapat mengabdi dan berbuat lebih bermanfaat kepada masyarakat Indonesia.

“Guru di bawah binaan PERGUNU memang banyak guru madrasah. Kami memahami ketangguhan mereka, karena sesungguhnya madrasah tumbuh dari masyarakat. Itulah sebabnya madrasah yang merupakan model pendidikan khas Indonesia yang mampu survive dalam situasi apapun. Tapi Kementerian Agama juga tetap harus memperhatikan mereka, dengan dukungan inovasi, terutama dalam menghadapi tantangan abad 21,” tegas Aris yang juga dosen di UNU Indonesia ini.

Sementara itu, narasumber dari Tampere University Finland, Mochammad Tolchah, menyampaikan, salah satu kunci keberhasilan pendidikan di Finlandia adalah pemerintah memberikan otonomi yang luas untuk mengembangan lembaga pendidikan, berdasarkan potensi yang ingin dikembangkan daerah tersebut. Menurutnya, model pendidikan madrasah yang tumbuh dari masyarakat merupakan salah satu model pengembangan pendidikan di Finlandia, tinggal bagaimana pemerintah Indonesia mampu mengembangan potensi madrasah dengan baik.

Kata dia, madrasah harus respon terhadapat perkembangan abad 21, dengan menghadirkan kurikulum pendidikan yang tidak hanya mahir dalam agama, tapi juga mampu melahirkan para cendekia dalam bidang sains, teknologi, dan lainnya. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *