MERDEKA BELAJAR ALA MADRASAH DI MASA PANDEMIK COVID-19

Lewa Karma bersama para siswa madrasah sebelum masa panademi Covid-19

JAKARTA – Korwil IV (Bali-Nusra) PP PERGUNU, Lewa Karma, melihat perspektif Merdeka Belajar ala Madrasah berbeda dengan konsep Mendikbud, jauh sebelum pandemik dan konsep Merdeka Belajar yang dicanangkan Kementerian Pendidikan. “Konten belajar e-learning misalnya sudah disiapkan Direktorat Madrasah pada masa itu untuk menyongsong era layanan pembelajaran digital” kata Lewa.

Hanya saja keterbatasan anggaran dan belum berpihaknya kebijakan pada madrasah secara total, maka gagasan itu sedikit tersendat. Namun  demikian, usaha itu sudah dipraktekkan di beberapa madrasah pilot project yang hampir tersebar di semua Indonesia. Artinya, kesiapan proses layanan akademik mulai dari persiapan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran di madrasah sudah dikonstuksi sebagai konsep belajar mandiri yang dikenal dengan Merdeka Belajar (ala Mendikbud) kini.

Bersamaan dengan persiapan yang sempat terancam tak berjalan itu, kata Lewa, muncullah kemudian pandemik Covid-19 yang seolah menjadi titik balik rancangan madrasah belajar mandiri (Merdeka Belajar) mendapatkan ruangnya. Dengan cepat, pihak GTK dan KSKK di lingkungan Ditjen Pendidikan Islam mengambil langkah merespon persoalan pembelajaran daring (e-larning) yang dimandatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Artinya, Merdeka Belajar di madrasah yang kita rasakan hari ini sudah dipersiapkan dan bisa diaplikasikan dengan baik selama pandemik ini berlangsung. Ikhwal ini disampaikan langsung oleh Ahmad Hidayatullah, selaku Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi dalam virtual meeting dalam bentuk FGD dengan PP Pergunu. Focus Group Discussion yang secara tematik mengkaji tentang keberlangsungan dan kebermaknaan pembelajaran di Indonesia.

Selasa, 5 Mei 2019, dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, melalui Live Meeting Talk Fusion, PERGUNU kambali menggelar FDG dengan tema “Learning and Teaching Priod Cov-19 in Finland”.

Ahmad Hidayatullah yang diminta sebagai narasumber dalam paparannya menegaskan bahwa madrasah memiliki keunggulan kearifan lokal, sehingga dalam kondisi apapun pembelajaran akan tetap jalan. Dominasi madrasah swasta justru merupakan potensi untuk berkembang secara mandiri, karena orientasi yang dibangun adalah pengabdian dan pemberdayaan masyarakat. “Madrasah dari lahirnya sudah kuat, karena memiliki pondasi kearifan lokal. Kami banyak madrasah swasta yang itu tentu sudah terlatih mengelola secara mandiri, menyelenggarakan pendidikan bagi mereka adalah pengabdian dan pemberdayaan masyrakat, bukan sekadar mencari keuntungan semata,” terang Ahmad yang sukses mengembangkan MAN Insan Cendekia ini. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *