MADRASAH TERUJI LAMPUI ZAMANNYA SELAMA COVID-19

Lewa Karma (kiri)

SINGARAJA – Jajaran Kementerian Agama RI melalui Ditjen Pendidikan Islam telah merespon perubahan kondisi setelah darurat Covid-19 ditetapkan pemerintah. Direktorat GTK dan KSKK, misalnya, dengan sigap menyikapi masalah pelaksanaan tugas dan fungsi pendidik, tenaga kependidikan maupun elemen struktural serta fungsional di Kantor Kementerian Agama.

Pendidik dan tenaga kependidikan telah melakukan berbagai terobosan dalam pelayanan kegiatan belajar mengajar (KBM), seperti e-learning. Sementara itu Ditjen Pendis sendiri telah bertindak cepat untuk melanjutkan amanat Menteri PAN-RB dalam bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Semua Sumber daya dan lembaga pada jajaran Ditjen Pendis taat dengan mandat dan edaran pemerintah. Demikian pula edaran dari pemerintah provinsi hingga kabupaten/kota menjadi rujukan Kementerian Agama dan khususnya madrasah.

Sikap ini menunjukkan bahwa madrasah sendiri tidak pernah abai dengan perubahan regulasi serta situasi terkini mulai dari sejak pertama kali ditetapkan darurat Covid-19. Di Bali misalnya, edaran WFH sesi perta dimulai sejak 16 hingga 30 Maret 2020 kemudian berlanjut 31 Maret sd 21 April 2020. Berhubung situasi nasional dan daerah belum juga normal, maka WFH diperpanjang kembali oleh pemerintah pusat dan daerah menjadi sesi ke-3 dari 22 April hingga 13 Mei 2020.

Sepertinya, sinyal perpanjangan sesi ke-4 oleh Pemerintah Provinsi Bali sudah mengawali akan berlaku dari tanggal 14 hingga 30 Mei 2020 mendatang. Tentu madrasah sudah dan terus menyikapi situasi darurat ini dengan lapang dada dan penuh semangat. Hampir semua jenjang Pendidikan Islam dari Kanwil sampai dengan kabupaten/kota sudah bersinergi dan gotong-royong menghadapi kondisi ini.

Kasi Pendidikan Islam pada Kantor Kemenag Kabupaten Buleleng, Lewa Karma, menuturkan bahwa banyak hal yang dipetik dari kejadian pandemik Covid-19, terutama kalangan Pendidikan Islam, khususnya RA/madrasah juga lembaga non formal seperti TPQ/madin/pontren. “Kita semua menjadi lebih banyak waktu untuk belajar dan bergotong-royong menjaga keselamatan sesama dan memberikan layanan akademik yang lebih inovatif, kreatif serta produktif,” katanya.

Dia juga menegaskan bahwa selama darurat Covid-19 ini tingkat kesadaran akademik masyarakat (orang tua/wali murid) dengan pendidik dan lembaga RA/madrasah menjadi lebih banyak bersinergi dan tumbuh interaksi yang positif. Secara sosial telah terjadi kohesi yang bisa menjadi pemersatu komitmen warga belajar yang selama ini sering saling mengacuhkan.

Dikatakan, sebagian madrasah dan SDM-nya yang selama ini abai dengan kegiatan pembelajaran online/e-learning (daring) sejak kejadian Covid-19 menjadi bergeser komitmen dan kepeduliannya. Semua pihak benar-benar belajar menggunakan waktu dengan efektif-efisen dibalik protokol yang harus jaga jarak.  Semua pihak menjadi melek teknologi dan informasi melalui pembelajaran daring yang didorong oleh Kementerian Agama melalui Direktorat KSKK dan GTK sampai pada layanan Bidang/Seksi Pendis di daerah. Artinya, kata Lewa, sinergi dan komitmen akademik ini bersifat massif, kolektif bak sambung bergayut.

Mantan Kepala MIN 2 Bueleng ini juga optimis bahwa peristiwa ini menjadi momentum yang sangat berharga bagi kalangan akademisi dan juga masyarakat. Berharga secara nilai harus bisa dibedakan dengan beban moral dan sederet persoalan yang juga terjadi sebagai dampak pengiringnya.

Dijelaskan, di madrasah banyak ruang kreativitas yang bisa dilakukan oleh para pendidik, seperti kegiatan layanan belajar secara daring, peniadaan Ujian Nasional yang diganti dengan penilaian rapor dan portofolio, kegiatan ujian kenaikan kelas berbasis online, PPDB yang juga diatur dengan online. Keseluruhan layanan ini dimaksudkan untuk menjaga protokol pencegahan darurat Covid-19 dengan menjaga jarak interaksi dan menghindari kerumunan.

“Pada awalnya semua warga belajar baik guru, siswa maupun orang tua (masyarakat) sempat shock (kaget) atas situasi ini dan berat sekali menyesuaikan diri dengan arahan/edaran yang ada. Namun demikian, seiring dengan pengertian dan pemahaman mereka tentang pentingnya menyelamatkan nyawa dan ikhtiar melayani tetap produktif, maka BDR/WFH kini bukan hal yang terlalu berat bagi warga madrasah,” ujar mantan kepala MTs Al Khairiyah ini.

Di lain pihak, Lewa juga selalu mengimbau keluarga besar Pendidikan Islam untuk tetap menjadi contoh di tengah masyarakat tentang model pribadi yang bisa mengikuti protokol pencegahan Covid-19, seperti penggunaan masker saat di luar rumah, jaga jarak aman, hindari kerumunan, cuci tangan dengan sabun, sediakan hand sanitizer, olahraga, istirahat teratur, dan jaga menu seimbang. Itulah sebabnya mengapa pemerintah memberikan kebijakan kegiatan BDR/WFH agar semua warganya sehat dan selamat.

Demikian juga sebagai aparatur pemerintah, warga madrasah baik yang ASN maupun bukan semua sepakat menyampaikan Laporan Kinerja Harian (LKH) secara rutin setiap akhir pekan sebagai bukti kerja dan kehadirannya. Dengan demikian, mereka tetap berhak mendapatkan nafkah dan maslahat lainnya dari negara. “Sebagai aparat kita semua berkomitmen untuk terus melayani umat sesuai dengan tugas dan fungsi kita dengan mengutamakan keselamatan, diri, keluarga dan warga di sekitar kita,” tukas Korwil Pergunu ini.

Sementara di lain pihak, Kasi Pendis Buleleng ini sepakat bila aparatur Kementerian Agama dan juga warga madrasah selalu terdepan dalam berbagi dan peduli dengan sesama. Sebagai pengejewantahan dari amanat Menteri Agama RI bahwa zakat, infaq dan sedekah selama Ramadhan harus dikumpulkan dengan optimal dan dipercepat proses serta penyalurannya pada para pihak yang berhak (mustahiq).  Hal ini memang sudah dilakukan oleh warga madrasah baik negeri maupun swata demi meringankan beban warga madrasah seperti guru honor dan wali murid yang ekonomi lemah. “Berikutnya, edaran tentang tidak mudik dan cuti selama darurat Covid-19 berlangsung di internal Kementerian Agama dan madrasah menjadi hal yang logis, yaitu demi menjaga layanan dan keselamatan orang banyak,” kata Lewa. Lewa dengan optimis menyatakan bahwa madrasah telah melampui zamannya menghadapi darurat Covid-19. “Segala ketidakmungkinan telah kita lalui menjadi mungkin. Berkah musibah pandemik di tengah Ramadhan sungguh telah membawa banyak manfaat, disamping juga efek lainnya yang memberatkan masyarakat,” ujarnya. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *