Sharing dari Kuli Cerita: CINTA

MENGAWALI tulisan tentang cinta ini, kita kutip sajak dari sastrawan Yahya Umar berjudul “Cinta Tak Pernah Menua 2.

Apakah cinta akan menua

Seperti rambut yang hitam pasti memutih

Seperti mata yang bening pasti memudar

Apa cinta kita akan menua

Mengiringi kulit yang halus menjadi keriput

Mengiringi tulang yang keras menjadi keropos

Apakah cinta akan menua

Semisal hidung yang akan kehilangan ketajaman penciumannya

Semisal telinga yang akan kehilangan ketajaman pendengarannya

Apa cinta kita akan menua

Mengikuti otak yang cemerlang menjadi pikun

Mengikuti otot yang kencang menjadi kendur

Cinta tak pernah menua, adinda

Tak seperti nafas yang bisa berhenti berhembus

Tak seperti darah yang bisa berhenti mengalir

Cinta kita tak pernah menua, adinda

Walau jantung tak sudi lagi memompa darah

Walau nafas tak sudi lagi memompa jiwa

Cinta tak pernah menua, adinda

Seperti cinta kita

Masalah cinta selalu menyedot perhatian banyak orang. Ia tak pernah bosan dibahas. Tak pernah dari pembicaraan. Kisah-kisah cinta selalu menarik perhatian manusia, meskipun ceritanya selalu berulang-ulang. Tapi orang tak pernah bosan menyaksikan, menonton, dan menulisnya.

Berapa banyak cerita novel, cerpen, sinetron, sampai film yang menyuguhkan kisan cinta. Berapa juta sajak atau puisi yang ditulisa yang bertema cinta. Berapa ribu akun facebook, instagram, pinterest, youtube dan akun sosial lainnya yang menyantumkan kata cinta.

Aku tanpa cinta

Umpama kalimat tanpa kata

Ya, kehidupan ini ada karena ada cinta. Coba bayangkan, bagaimana kehidupan tanpa cinta. Filosof Islam yang juga sastrawan terkemuka, Jalaluddin Rumi, mengatakan, cinta itu kekuatan yang menggerakkan perputaran dunia alam semesta. Cintalah yang memberikan makna bagi kehidupan dan keberadaan kita.

Dalam pandangan Rumi, cinta itu perasaan universal. Sebuah ruh persatuan dengan alam semesta. Karakter yang dimiliki semua orang, dari agama apapun dan budaya apapun.

Menurut Rumi pula, cinta adalah obat terhadap kesombongan yang melekat dalam diri manusia, dokter bagi segala kelemahan dan dukacita. Artinya ketika seseorang memiliki cinta, tak akan melekat sedikitpun sikap sombong, congkak atau sejenis melekat pada dirinya. Orang yang memiliki cinta, ia pasti mempunyai kekuatan dan selalu bahagia menghadapi kehidupan.

Cinta itu simbol kebahagiaan dan kesetiaan. Seorang pencinta, tidak akan menuntut apapun kepada yang dicintai. Yang dia ingin agar orang yang dicinta itu bahagia. Ia akan memberikan apa saja yang dia miliki kepada yang dicintai tanpa ingin balasan apapun. Bahkan ia siap mengorbankan diri untuk sebagai bentuk kesetiaan dan untuk kebahagiaan yang dicintai.

Seseorang yang mengaku mencintai Tuhannya, maka dia akan setia kepada Tuhannya. Apapun yang diinginkan Tuhan-nya akan dia laksanakan. Apapun yang diperintahkan oleh Tuhan, ia akan kerjakan dengan penuh cinta, tanpa minta balasan apapun.

Kata Rumi pula, jiwa pencinta itu adalah jiwa yang rendah hati. Karena dia tidak memikirkan dirinya. Makin seseorang mencintai, makin larutlah ia terserap dalam tujuan-tujuan ilahiyah kehidupan. Dalam tujun-tujuan ilahiyah penciptaan inilah manusia memperoleh makna yang sebenarnya dari kehidupannya di dunia dan itu pulalah yang memberinya kebahagiaan rohaniah yang tidak terkira nilainya.

Orang yang mencintai itu selalu mencari ridha yang dicintai. Orang yang mencintai Tuhan, hanya akan mencari ridha dari Tuhan. Wujud cinta seseorang itu salah satunya dalam bentuk ibadah. Yakni setiap sesuatu yang dikerjakan, diucapkan, dipikirkan, untuk mendatangkan cinta dan ridha dari Tuhan. (Kuli Cerita, April 2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *