UMAR BIN KHATTAB: UANG RAKYAT TAK BOLEH DIHAMBUR-HAMBURKAN

AKU tidak berkuasa apa pun terhadap baitul mal (harta umum), selain sebagai petugas penjaga milik yatim piatu. Jika aku kaya, aku mengambil uang sedikit sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Saudara-saudaraku sekalian! Aku abdi kalian, kalian harus mengawasi, menanyakan segala tindakanku. Salah satu hal yang harus diingat, uang rakyat tidak boleh dihambur-hamburkan. Aku harus bekerja di atas prinsip kesejahteraan dan kemakmuran rakyat”.

Itulah quot terkenal dari Khalifah Islam kedua, Umar bin Khattab. Umar dilahirkan di Makkah, tahun 40 sebelum Hijriyah. Moyangnya duta besar dan leluhurnya merupakan pedagang. Silsilahnya berkaitan dengan garis keturunan Nabi pada generasi kedelapan.

Sebelum masuk Islam, Umar merupakan tokoh kuat yang jadi musuh Islam. Lalu terpesona dengan ayat-ayat Al Quran yang dibacakan adiknya, akhirnya hatinya tersentuh dan memeluk Islam.

Umar merupakan khalifah yang merakyat dan tidak antikritik. Suatu ketika, dalam sebuah rapat umum, ada seseorang berteriak kepada Khalifah Umar. “O, Umar. Takutlah kepada Tuhan”. Para hadirin bermaksud membungkam orang tersebut, tapi Khalifah Umar mencegahnya, sambil berkata, “Jika sikap jujur seperti itu tidak ditunjukkan oleh rakyat, rakyat menjadi tidak ada artinya. Jika kita tidak mendengarkannya, kita akan seperti mereka”.

Keberhasilan pemerintahan Umar terutama karena ia sangat memperhatikan tindak tanduk para stafnya. Dalam pengangkatan seorang Gubernur, ia menjelaskan secara rinci hak dan kewajibannya. Surat itu bahkan dibacakan di hadapan khalayak ramai, sehingga masyarakat mengetahui syarat-syarat pengangkatan Gubernur dan dapat meminta pertanggungjawaban gubernur bersangkutan bila ia menyalahkangunakan kekuasaannya.

Suatu ketika, saat berpidato di hadapan Gubernur, Khalifah Umar mengatakan, “Ingatlah, saya mengangkat Anda bukan untuk memerintah rakyat, tapi agar Anda melayani mereka. Anda harus memberi contoh dengan tindakan yang baik, sehingga rakyat dapat meneladani Anda”.

Selama memangku jabatan sebagai khalifah, Umar selalu berusaha menipiskan perbedaan antara penguasa dan rakyat. Rakyat harus dipermudah dan mendapat keleluasaan menemui penguasa tertinggi. Pemerintahan Umar terkenal adil dan jujur. Selama pemerintahannya, pengadilan dilaksanakan oleh khadi (hakim sipil) yang diangkat khalifah dan bebas dari kontrol gubernur.

Khalifah khusus mengawasi terselenggaranya keadilan yang sama rata. Ia memberi teladan dengan mematuhi perintah-perintah kadhi. Di hadapan undang-undang, bagi Umar, semua orang adalah sama. Suatu ketika khalifah mengunjungi langsung pengadilan yang mengajukan Zaid bin Tsabit sebagai tertuduh. Kadhi menunjukkan rasa hormat khusus kepada khalifah. Tetapi Khalifah Umar tidak menyukainya.

Untuk memperingatkan sang kadhi, Khalifah Umar mengatakan, “Bila Anda tidak mampu memandang dan memperlakukan orang biasa dan Umar sama derajat, Anda tidak pantas menduduki jabatan kadhi”.

Dalam kisah lain, suatu ketika Jablah bin Aiham Ghassani, raja dari sebuah kerajaan kecil di Syria, yang telah masuk Islam, sedang menjalankan ibadah haji. Saat itu ujung jubahnya terinjak oleh seorang Arab miskin secara tidak sengaja. Jablah marah dan memukul orang tersebut. Namun, orang itu balik memukulnya. Ia menjadi berang, dan segera menemui Khalifah Umar. Ia mendesak Khalifah agar menindak orang Arab itu dengan keras. Namun, justru khalifah mengatakan bahwa Jablah telah menerima ganjaran yang setimpal. Jablah melontarkan jawaban secara sengit. “Kalau saja dia melakukan penghinaan itu di negeri saya, dia pasti saya gantung”. Khalifah Umar pun menjawab dengan tenang. Katanya, “Itulah praktik di sini sebelum Islam. Tetapi sekarang orang miskin dan putra mahkota diperlakukan sama di hadapan Islam”.

Khalifah Umar juga punya jiwa besar dengan memperlakukan secara simpatik warganya yang non-Islam. Misalnya sebelum Islam, hak bangsa-bangsa lain di Kerajaan Romawi dan Persia lebih buruk daripada yang diberikan kepada budak. Bahkan orang Kristen Syria tidak berhak atas tanah milik sendiri dalam keadaan sedemikian rupa. Setiap kali tanahnya dipindahtangankan, diri mereka juga ikut dialihkan.

Ketika Umar menaklukkan negeri-negeri itu, tanah mereka yang terampas dikembalikan kepada para petani penggarap awal. Sebagian besar mereka adalah non-Muslim. Ia berdamai dengan orang Kristen Elia yang menyerah. Syarat-syarat perdamaiannya adalah “Inilah perdamaian yang ditawarkan Umar, hamba Allah, kepada penduduk Elia. Orang non-Muslim diizinkan tinggal di gereja-gerejanya dan rumah-rumah ibadah tidak boleh dihancurkan. Mereka bebas sepenuhnya menjalankan ibadahnya dan tidak dianiaya dengan cara apapun”.

Umar selalu mempraktekkan satunya kata dan perbuatan, dengan titik utama mengabdi kepada rakyat. Hidupnya sangat sederhana. Suatu ketika Gubernur Kufa mengunjungi Umar saat sedang makan. Sang Gubernur menyaksikan Umar makan roti gerst dan minyak zaitun. Lalu Gubernu Kufa menyatakan, “Amirul Mukminin, banyak gandum di kerajaan Anda, mengapa Anda tidak makan roti dari gandum?”

Dengan murung Umar menjawab, “Apakah Anda pikir setiap orang di kerajaanku yang begitu luas bisa mendapatkan gandum?” Gubernur itu menjawab tidak. Lalu Umar berkata, “Lalu bagaimana aku bisa makan roti dari gandum? Kecuali itu dengan mudah didapat oleh seluruh rakyatku”.

Umar juga tidak antikritik. Justru ia mengharapkan rakyat berani mengkritik atau memperingatkannya kalau ia melakukan kesalahan. Dalam suatu kesempatan di hadapan rakyatnya, Umar berpidato, “Saudara-saudara, apabila aku menyeleweng, apa yang akan kalian lakukan?” Seorang laki-laki bangkit dan berkata, “Anda akan kami pancung!” Umar berkata lagi menguji laki-laki itu, “Beranikah Anda mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan seperti itu kepadaku?” “Ya berani,” jawab laki-laki itu. Umar merasa gembira dengan keberanian orang itu, dan ia menegaskan, “Alhamdulillah, masih ada orang yang seberani ini, di negara kita ini, sehingga bila aku menyeleweng mereka akan memperbaikiku”. (ms, dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *