Sharing dari Kuli Cerita: KESEDIHAN

APAKAH musibah menyebarnya virus corona membuat kita sedih? Sedih karena tak bisa bekerja dan kehilangan penghasilan?

Apakah kegagalan yang menimpa kita menyebabkan kita sedih? Sedih karena usaha dan perjuangan kita tidak berhasil?

Apakah penghinaan oleh orang lain kepada kita membuat kita sedih? Sedih karena merasa kita tak ada harganya?

Apakah kemiskinan membuat sedih? Sedih karena dengan kemiskinan itu membuat kita tak bisa membeli sesuatu yang sangat kita inginkan?

Banyak hal memang membuat manusia sedih. Selain musibah, kegagalan, hinaan dan kemiskinan, banyak lagi yang menyebabkan orang menjadi sedih. Sedih selalu mengiringi gerak hidup manusia.

Sedih karena musibah. Sedih karena gagal, sedih karena dihina. Sedih karena miskin. Atau sedih karena sebab lain tentu sangat manusia. Manusia dilengkapi perasaan. Dan perasaan itu bisa sedih dan bis bahagia.

Yang tak wajar tentu jika sedih itu berlangsung lama dan dalam. Sedih yang ada di luar batas kewajaran manusiawi. Sedih yang berkepanjangan.

Banyak orang bijak mengatakan, kesedihan yang berkepanjangan merupakan  ‘jalan diam-diam’ yang bisa mematikan sejumlah hal. Ia mematikan kreativitas, mematikan perjuangan, bahkan bisa mematikan kehidupan kita. Kesedihan yang berkepanjangan akan membuat wajah terus muram. Semangat hidup akan padam. Dan harapan masa depan akan menghilang.

Pada akhirnya, kesedihan yang berkepanjangan bisa menjerumuskan seseorang ke jurang putus asa, dan akhirnya terjerembab dalam kefakiran hidup.

Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Az Zumar berfirman, “Katakanlah: Hai hamba-hambu-Ku yang melampaui batas terhadap mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Nikmat yang maha luas dan tak terbatas. Musibah, kemiskinan, kegagalan atau hinaan merupakan bagian kecil saja dari yang melekat pada diri manusia.

Lantas bagaimana menyikapi semua itu? Kesedihan tidak harus diratapi secara berkepanjangan. Musibah, kemiskinan, kegagalan, penghinaan harus dijadikan motivasi untuk tumbuhnya kreativitas, produktivitas dan semangat untuk maju. Lihatlah para tokoh besar menghasilkan karya saat mereka kena musibah. Ibnu Taimiyyah melahirkan fatwa-fatwa tentang Islam justru ketika berada di dalam penjara. Sastrawan Leo Tolstoy melahirkan karya-karya sastra yang mengagumkan justru karena ia mengalami kehidupan yang pahit. Dan masih banyak contoh lagi.

Filosof Plato melukiskan seperti ini: “Kesenangan itu laksana malam, karena Anda tidak pernah berpikir panjang tentang apa yang Anda dapatkan. Dan ‘kesulitan’ itu laksana siang, karena Anda melihat dengan jelas apa yang Anda usahakan dan apa yang diusahakan oleh orang lain”.

Sejarawan dan sastrawan Mesir, Ahmad ibn Yusuf, pernah menyatakan seperti ini: “Kesulitan yang datang sebelum kemudahan itu laksana rasa lapar yang datang sebelum adanya makanan. Sehingga letak kesulitan itu akan tepat beriringan dengan datangnya kemudahan setelah itu. Makanan akan terasa lesat dimakan ketika bersama rasa lapar”.

‘Aidh al-Qarni dalam buku “La Tahzan” menggambarkan, “Sesungguhnya orang yang menempatkan diri dalam kesedihan akan tetap berada dalam kesedihan, walaupun sedang tidur di atas sutra yang lembut.”

Ya, begitulah. Musibah, kegagalan, kemiskinan, atau hinaan jangan sampai menghimpit dada. Sebab, banyak jalan keluar yang telah digariskan oleh Allah SWT. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.

Intighfar adalah juga jalan keluar dari kesedihan. Dengan beristighfar ketenangan batin akan diraih.

Bergerak, bekerja, membaca, menulis adalah ikhtiar yang harus dilakukan untuk mengusir kesedihan. Gunakan waktu dengan baik. Jangan satu detik pun waktu terbuang percuma. Satu jam satu yang tak bergerak, tanpa aktivitas, kosong dari kegiatan membaca atau menulis maka yang lahir adalah rasa gundah, jiwa resah. Dan kita akan terjerembab ke dalam kesedihan yang lebih dalam.

Yang perlu kita renungkan. Dengan mendalam. Dengan hati yang tenang. Kenapa kita harus bersedih. Bukankah kita memiliki senjata untuk mengusir kesedihan. Senjata itu doa kepada Allah. Berdoalah membuka pintu-pintu rahmat dan ridha dari Allah. Dengan doa, kita akan mendapatkan ketenangan batin.

Kenapa harus bersedih. Bukankah kita memiliki sepertiga akhir waktu malam. Waktu untuk bersujud dan bersimpuh kepada Pemilik kerajaan semesta. Tumpahkan tangismu, alirkan airmatanya untuk mengusir kesedihanmu. Rasakan belaian kasih Allah. Masihkah kita bersedih kalau Yang Maha Kasih membelai penuh kasih perasaan kita? (Kuli Cerita, April 2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *