Sharing dari Kuli Cerita: KEBAHAGIAAN

APAKAH kebahagiaan itu? Yakinkah kita bahwa rumah mewah, dengan perabotan yang serba mahal  akan membuat kita bahagia? Yakinkah kita bahwa tabungan di bank yang banyaknya tak terkira akan membuat kita gembira? Yakinkah kita bahwa jabatan tinggi yang kita sandang akan membuat kita senang?

Tetapi kenapa banyak orang yang mempunyai rumah mewah tidak merasa bahagia? Kenapa rumah yang seperti istana justru dirasakan bak neraka?

Tetapi kenapa orang dengan tabungan bank yang banyak tidak bisa tidur nyenyak? Kenapa harta yang melimpah itu justru membuatnya resah?

Tetapi kenapa banyak orang yang memangku jabatan tinggi tidak bisa gembira? Kenapa jabatan yang tinggi itu tidak bisa membahagiakan hatinya?

Ya, karena kebahagiaan itu bukan terletak pada rumah yang bak istana. Kebahagiaan itu tidak datang dari harta yang menumpuk di bank. Kebahagiaan itu tidak diukur dari jabatan yang tinggi. Banyak orang beranggapan bahwa harta, jabatan dan kemewahan duniawi akan membuat kita bahagia. Tetapi ternyata tidak.

Lalu apa kebahagiaan itu? Apakah yang bisa membuat kita bahagia?

Kebahagiaan itu seperti dirasakan manusia bernama Muhammad. Rasul dan cahaya kehidupan. Sosok panutan dan tumpuhan harapan segenap umat. Manusia yang dalam hidupnya diliputi kefakiran. Sering membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur karena kelaparan. Saat seperti itu, tidak ada sebiji kurmapun yang bisa ditemukan untuk menahan rasa laparnya. Tetapi, ia hidup bahagia, damai dan tak banyak tekanan.

Kebahagiaan itu adalah kehidupan yang selalu dekat dengan Tuhan. Zat yang senantiasa menjaga makluk-Nya. Manusia bernama Muhammad merupakan sosok yang sangat dekat dengan Rab-nya. Kedekatan kepada Tuhan akan mendatangkan kebahagiaan hakiki bagi manusia. Ketika manusia mendekat kepada Tuhannya, maka Tuhan akan dekat dengannya.

Seperti sepasang kekasih, adakah yang lebih membahagiakan daripada selalu dekat dengan kekasihnya? Adakah yang lebih menyiksa ketimbang jauh dari kekasihnya. Adakah yang lebih menyesakkan bagi pasangan kekasih selain ditinggal pergi sang kekasih?

Kebahagiaan itu adalah keriangan hati karena kebenaran yang dihayatinya. Menurut ‘Aidh al-Qarni dalam bukunya “La Tahzan”, kebahagiaan itu adalah kelapangan dada karena prinsip yang menjadi pedoman hidup. Kebahagiaan itu adalah ketenangan hati karena kebaikan di sekelilingnya.

“Kebaikan itu mendatangkan ketenangan, sedangkan dosa menimbulkan kecurigaan”. Begitulah bunyi sebuah hadist. ‘Aidh a-Qurni melukiskan, “Orang yang berbuat baik akan selalu tenang. Sedangkan yang curiga akan selalu sibuk ingin tahu apa yang terjadi.” Para pencuriga akan selalu mengira setiap teriakan ditujukan kepadanya.

Orang yang tidak berbuat baik akan selalu resah. Pikirannya ruwet. Jiwanya tidak pernah tenang. Perasaannya selalu diliputi rasa takut kehilangan. Yang rumahnya mewah, takut kehilangan rumahnya. Yang hartanya melimpah takut kehilangan hartanya. Yang jabatannya tinggi, takut kehilangan jabatannya.

Tak pernah kita dengar orang yang merasa takut kehilangan kefakirannya. Tak pernah ada cerita orang menyesal karena kehilangan kemiskinannya. Tak pernah ada kisah orang yang tak punya jabatannya lalu sedih karena mendapat jabatan. Harta dan tahta memang lebih sering membuat hati resah dan jiwa tertekan. Kecuali mereka yang tetap menjaga dekat dengan Rab-nya. Mereka yang selalu berbuat baik. Kedekatan kepada Tuhan dan berbuat baik adalah jalan bagi yang menginginkan kebahagiaan. Kedekatan kepada Rab yang Maha Kasih dan perbuatan baik itulah yang akan memberi perasaan nyaman bagi perjalanan hidup manusia. Kebahagiaan akan selalu bersamanya hingga di surga nanti. (Kuli Cerita, April 2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *