SEJARAH PANJANG PELABUHAN DI JEMBRANA, 1669 – SEKARANG

  • Bandar Pancoran (1669 – 1808)

Pelabuhan pertama di Jembrana yang dibangun oleh Daeng Nachoda atas seijin Raja Arya Pancoran IV (1620 – 1696 Masehi). Di tahun 1671, Raja memberikan konsensus masyarakat Bugis untuk menempati sekitar Bandar Pancoran, yang disebut Kampung Pancoran, sekarang Kampung Terusan Loloan Barat.

Pada tahun 1720, Daeng Sikuda Dempet sebagai Matoa Bandar Pancoran menggantikan Daeng Nachoda. Sekitar tahun 1800 – 1808, Daeng Pattimi ditugaskan sebagai Matoa Pancoran yang merupakan perwakilan dari Kerajaan Badung. Jembrana di bawah vassal Kerajaan Badung, dengan menempatkan 1.200 pasukan Bugis dibawah pimpinan Daeng Pattimi.

Masyarakat Kerajaan Jembrana mulai khawatir dengan bertambah kuatnya pasukan Daeng Pattimi, sehingga Raja Jembrana meminta bantuan Kerajaan Buleleng untuk membebaskan dari pengaruh vassal kekuasaan Kerajaan Badung. Sejak tahun 1808, Bandar Pancoran mulai masa surut, setelah peristiwa penyerangan tersebut di atas, Bandar Pancoran kembali mulai dipergunakan pada tahun 1900-1925, diaktifkan sebagai pelabuhan dengan nama Pelabuhan Teluk Bunter tahun 1925-1980.

Pelabuhan Teluk Bunter hanya dipakai untuk bongkar angkut barang (kopra, minyak, beras, dll). Pada tahun 1960-1969 Syahbandar Pelabuhan Teluk Bunter dijabat oleh tokoh dari Loloan Barat (3)

  • Bandar Loloan 1808-1900

Pelabuhan kedua di Jembrana yang dirintis oleh Syarif Tua (Syarif Abdullah bin Yahya Al qadri), yakni Bandar Loloan. Bandar Loloan dibangun di sebelah utara Bandar Pancoran selesai dibangun tahun 1808 Masehi. Kemudian dilanjutkan dengan membuat tempat transit untuk calon jamaah haji di Tanjung Tangis Muare Perancak.

Pada sekitar tahun 1900 Masehi, Bandar Loloan mulai mengalami pendangkalan, dan kapal kapal besar tidak bisa masuk. Tanjung Tangis 1810-1925 : mulai sebagai tempat transit mengantar jamaah haji Jembrana.

Pada tahun 1885, di masa pemerintahan Belanda dibuat tiga pelabuhan di Jembrana, yaitu Pelabuhan Candi Kusuma, Pelabuhan Cupel dan Pelabuhan Pengambengan. Tiga Pelabuhan ini melayani rute penyeberangan Jembrana-Banyuwangi, baik Banyuwangi – Candikusuma, Banyuwangi – Cupel, Banyuwangi – Pengambengan.

Seperti yang tertera dalam Peta Pertama Jembrana yang dibuat oleh Raden Mas Ronodirjo dan FA. Liefrinck (1853-1927) dibawah ini:

  • Pelabuhan Cupel 1885-1940

Di masa pemerintahan Hindia Belanda, kegiatan transportasi penumpang dari Pelabuhan Teluk Bunter dipindahkan ke Pelabuhan Cupel. Hal itu dilakukan untuk mempersingkat jarak tempuh rute penyeberangan Banyuwangi – Negara. Rute penyeberangan Cupel ke Banyuwangi, tepatnya di Pelabuhan Boom (Pelabuhan lama Banyuwangi sebelum Ketapang). Haryadi bin Hardjodisumo dalam bukunya yang berjudul “Surat Untuk Sahabat” terbit tahun 1999, pada halaman 57, mengatakan, “Yang kuingat di tahun 1936, rute pelayaran ialah Banyuwangi-Cupel”. Sekitar tahun 1939, transportasi bus Sapakira melayani jurusan Negara – Banyuwangi, dengan menyambung jukung melalui Pelabuhan Cupel.(1)

Asal kata Cupel, menurut penuturan lisan dari R. Azhari, bahwa orangtuanya mengetahui asal kata Cupel, yaitu dari bahasa Belanda, Koppel yang berarti pasangan. Memang dahulu para menir-menir Belanda bertamasya mengajak pasangannya untuk wisata melihat pemandangan laut dan sunset Pantai Cupel.

Pemerintahan Hindia Belanda memindahkan Pelabuhan Cupel sebagai penyeberangan penumpang atau transportasi umum, setelah di tahun 1940 mulai merintis di kawasan Gilimanuk. Setelah masa Kemerdekaan, Pelabuhan Cupel dari tahun 1960-an hingga tahun 1990-an tetap dipakai para saudagar untuk penyeberangan gelap atau illegal perdagangan sapi antarpulau.

  • Pelabuhan Candi Kusuma (1885-1969)

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, Pelabuhan Cupel dipergunakan sebagai pangkalan laut Jepang, untuk memenuhi kebutuhan logistik, dan juga benteng pertahanan laut. Sehingga kegiatan transportasi penumpang yang sebelumnya di Cupel dipindahkan ke Candi Kusuma dan Penginuman (sebuah tempat yang berjarak ± 5 km dari Gilimanuk).

Pada tahun 1942, Jepang mulai menduduki Jembrana. Semua fasilitas milik Belanda dirampas, bahkan tiga bus Sapakira milik H. Ichsan tidak luput juga dirampas oleh pihak militer Jepang untuk dipergunakan dalam operasional patroli Negara – Gilimanuk militerJepang (2).

  • Gilimanuk (1940-Sekarang)

 Pemerintahan Hindia Belanda mulai membuka Gilimanuk sebagai pelabuhan transportasi Banyuwangi – Gilimanuk. Dengan adanya bus dari Negara yang mengangkut penumpang untuk tujuan Banyuwangi lewat laut, maka pola pelayaran Banyuwangi-Bali berubah. Di Penginuman kira-kira 5 km sebelum Gilimanuk, bus membelok ke kiri dan lewat jalan yang kanan-kirinya hutan semak, sampailah ke pantai yang landai. Pantai ini berjarak ± 60 m dari jalan besar dan tempat ini dikenal dengan nama Penginuman.

Kata orang, di dekat tempat ini ada kolam yang berair tawar. Dibanding dengan Gilimanuk yang tandus dan beralang-alang, tempat ini rimbun oleh hutan di sekitarnya. Satu-satunya bangunan hanyalah pondok bambu, tempat menunggu datangnya jukung dari Banyuwangi.(Haryadi:1999;59)

Mendekati tahun 1940, dengan dirintisnya jalan Gilimanuk-Singaraja, maka Gilimanuk berkembang dengan datangnya investor Belanda (Mener Kolle) dari Banyuwangi yang membuat Pesanggrahan dan kios makanan. Dibuat Steiger (jembatan ke laut) dan dioperasikan motor boat yang menghubungkan Gilimanuk-Banyuwangi. Walaupun ada motor boat, tetapi kapal layar masih diminati karena ongkosnya lebih murah.

Dengan datangnya Jepang di tahun 1942, motor-motor boat milik Belanda tersebut hilang dan kapal layar mendapat pasaran kembali. Dengan menggunakan Penginuman sebagai pelabuhan, maka pada tahun- tahun 1944, 1945 aku masih melakukan penyebrangan. (Haryadi:1999;60).

 Sekitar tahun 1951 hubungan Gilimanuk-Banyuwangi sudah dinormalisir kembali dibawah pemerintahan Republik Indonesia. Ada kapal penumpang yang menghubungkan Gilimanuk- Banyuwangi. Pada tahun-tahun berikutnya, Ketapang berkembang. Sebelum ada dermaga, maka truk-truk yang bermuatan sapi dari Bali diangkut dengan kapal-kapal L.S.T (Landing Ship Tank) milik swasta. Kapal ini mendarat langsung di pantai. Dengan berdirinya pabrik kertas Basuki Rahmat, maka Pelabuhan Ketapang berkembang terus hingga saat ini, dan Pelabuhan Banyuwangi ditinggalkan.(Hariadi;1999;60)

Lokasi Pelabuhan Banyuwangi tersebut terletak di Pantai Boom. Mengembangkan Pelabuhan Ketapang memang menguntungkan, disamping lahan kosong yang tersedia, juga jarak Ketapang- Gilimanuk yang hanya ± 4 mil laut atau ± 6 km, waktu tempuh ± 1 jam. Pelabuhan Gilimanuk dilengkapi dengan fasilitas dermaga pada tahun 1969. Mulai dibuka pertama kali dengan mengangkut rombongan jamaah haji Jembrana. Penyeberangan Gilimanuk – Ketapang (4). Pada tahun 1969 Syah Bandar Pelabuhan Gilimanuk dijabat oleh H. Baijuri (5).

Daftar Pustaka:

1. Hariadi, Surat Untuk Sahabat;1999-Bandung

2. https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/search/pasukan%20DJembrana%20Bali?type=e dismax&cp=collection%3Akitlv_maps, diakses 17 Pebruari 2017

Sumber-sumber Lisan:

(1) Penuturan H. Ichsan Sapakira kepada penulis di tahun 1985 , putranya yaitu H. Anwar Ichsan 2018

(2) Ibid

 (3) Penuturan Lisan, Hamdan Ridwan dan Raden Azhari kepada penulis di tahun 2017.

(4) Penuturan Lisan, Raden Azhari kepada penulis di tahun 2017

(5) Penuturan Lisan, Hamdan Ridwan, R. Azhari kepada penulis di tahun 2017 dan H. Nuryasin 1993.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *