KETUA UMUM PERGUNU: KITA JANGAN JADI OBYEK GLOBALISASI

PROF. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, MA, (tengah) saat mengisi Saresehan Pergunu Bali di Wisma Sejahtera Kemenag Kota Denpasar, Sabtu (8/2/2020).

DENPASAR – Umat Islam, terutama warga Nahdlatul Ulama (NU), jangan mau menjadi obyek globalisasi. Sebaliknya, umat Islam harus menjadi subyek globalisasi. Hal itu disampaikan Ketua Umum PP Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Pusat, Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim, MA, saat mengisi Saresehan Pergunu Bali di Wisma Sejahtera Kemenag Kota Denpasar, Sabtu (8/2/2020).

Kiai Asep berpesan agar bangsa Indonesia, terutama umat Islam, tidak berkecil hati dalam menghadapi globalisasi. Menurut kiai miliarder yang dikenal dermawan itu, meskipun pemerintah tak memihak kepada kita, tapi kita tak boleh menyerah.

Kiai Asep mengingatkan tentang kemandirian nenek moyang bangsa Indonesia. Menurut dia, raja-raja di nusantara tak pernah mau tunduk kepada pihak asing. Ia menceritakan tentang Kubilai Khan saat mengirim utusan, Meng Khi, yang minta agar Jawa takluk kepada Mongol (China). Prabu Kertanegara saat itu bukannya tunduk. Raja Singosari itu justru memotong telinga Meng Khi, utusan Kubilai Khan. Padahal saat itu bangsa Mongol sudah menjadi kerajaan raksasa dunia. Ekspansi Mongol sudah mengusai tiga per empat dunia.

“Nenek moyang bangsa Indonesia bukan tipe bangsa yang gampang menyerah. Saat Kubilai Khan mengirim tentara untuk menyerbu Jawa karena utusannya dipotong telinganya, Raden Wijaya justru melawan dengan taktik politik yang cerdik,” papar Kiai Asep.

Raja Majapahit itu, jelas dia, menghancurkan tentara Kubilai Khan saat mereka bersenang-senang merayakan kemenangan melawan Jayakatwang. Mantan Ketua PCNU Kota Surabaya ini juga mengingatkan tentang sejarah gemilang Umar bin Abdul Aziz dalam memimpin negara. Menurut dia, Umar bin Abdul Aziz hanya berkuasa dua setengah tahun. Tapi mampu menyejahterakan rakyat dan menghapus kemiskinan dengan mengefektifkan pengelolaan zakat.

“Padahal nilai zakat itu lebih kecil daripada pembayaran pajak,” kata putra pendiri NU, KH Abdul Chalim itu. Menurut Kiai Asep, dalam kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, utang rakyat dibayar oleh negara. “Sehingga tahun kedua kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz sudah tak ada orang miskin. Mencari orang yang mau menerima zakat sulit karena orang sudah kaya semua. Semua orang justru mau memberi zakat,” jelas Kiai Asep, seraya mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz melibatkan anak muda dalam pemerintahannya.

Menurut Kiai Asep, kunci sukses Umar bin Abdul Aziz karena faktor ilmu dan akhlak. “Kita harus menguasai ilmu,” katanya, sembari menegaskan bahwa Umar Bin Abdul Aziz sangat rajin shalat malam.

Dengan ilmu, kata Kiai Asep, kita punya kekuatan. “Al-ilmu quwwah,” tegasnya. Begitu juga dengan akhlak. Menurut dia, Umar bin Abdul Aziz berakhlak tinggi sehingga tak korupsi. “Beda dengan sekarang. Orang nyalon kepala daerah. Tapi setelah jadi malah korupsi untuk mengembalikan modal,” kata mantan anggota DPRD Kota Surabaya itu.

Sarasehan Pergunu Bali tersebut diawali dengan prolog dari dua Wakil Ketua PP Pergunu, yakni Dr. H. Saefullah dan Dr. Aris Adi Leksono,  MM.Pd. Mereka memaparkan tentang manajemen pengelolaan Pergunu dan teacher preneur  yang bisa dikembangkan oleh Pergunu Bali.

Hadir dalam acara itu Dr. KH Mujib Qulyubi, Katib Syuriah PBNU; Dr. Saepulloh, Wakil Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu); KH Mahfud, Ketua Pergunu Kota Denpasar; dan para pengurus Pergunu Jembrana dan Kota Denpasar. Setelah mengisi acara sarasehan, Kiai Asep menjadi penceramah dalam tabligh akbar memperingati Harlah NU ke-94 yang digelar PCNU Kota Denpasar di Masjid Raya Baiturrahmah Kampung Jawa Denpasar. Kedatangan Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu disambut hangat umat Islam, terutama warga NU. (ms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *